
oleh: Lumaksono
Aku sama sekali tak pernah menduga akan mendapat pertanyaan seperti ini dari ibu. Walaupun pertanyaan itu hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak, tetapi untuk memutuskannya sangatlah berat. Aku hanya tertegun beberapa saat lamanya. Sulit membuka bibir yang terasa kelu.
“Ibu tahu, mungkin kau tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini, hingga kau sulit menjawabnya. Tapi jangan terlalu lama memikirkannya. Ibu butuh jawaban kalian!”
“Ya…gimana ya…..” Aku sulit berkata-kata. Hanya berusaha untuk mengulur-ulur waktu . Paling tidak aku punya kesempatan menata pikiran hingga dapat menjawab pertanyaan ibu dengan tepat.
Bisa saja aku langsung menolak atau menyatakan ketidaksetujuanku atas usulan ibu Namun, aku sama sekali tak menghendaki ibu menelan kekecewaan di ujung usianya. Karena kelihatannya ibu menghendaki jawaban ‘ya’. Persetujuan kami. Walaupun usia bukan urusan manusia, tetapi orang seumur ibu mungkin hanya akan mencapai lima atau sepuluh tahun lagi. Dan aku tak ingin ibu lebih cepat berpulang hanya gara-gara kecewa atas jawabanku kalau menyatakan tidak.
Kata ibu, Mas Joko sudah menyatakan persetujuannya. Kini tinggal aku dan dua orang adikku, Suryo dan Yuni.
“Terus, kalau nanti rumah ini dijual…ibu bagaimana? Mau tinggal di rumah siapa?” Aku mengungkapkan kekhawatiranku. Aku betul-betul tak sanggup melihat, bahkan membayangkan pun aku tak mampu, akhir hidup ibuku tanpa rumah tempat berlindung. Memang, masih ada kami anak-anaknya, tetapi tinggal di rumah kami tentu berbeda dengan tinggal di rumah sendiri. Di rumah ibu sendiri. Rumah peninggalan almarhum ayah. Rumah yang telah melahirkan berjuta kenangan masa kecil kami.
Bagiku, rumah yang kini ditempati ibu dan adik bungsuku ini bukan hanya sekadar rumah. Inilah rumah sesungguhnya bagi keluarga kami, keluarga besar Suprapto. Rumah ini diwariskan secara turun temurun dari kakek, kemudian diwariskan kepada ayah. Di rumah inilah kami semua lahir dan dibesarkan. Kami menyebutnya ‘Umah Lugu’. Di rumah inilah sebenarnya kami bisa bersatu. Jika rumah yang menjadi umah lugu ini harus terlempar, aku takut kebersamaan kami juga akan terlempar.
“Soal itu tak perlu kau pikirkan. Om Joni telah memberi ijin menempati rumah ini barang satu atau dua tahun. Beliau membolehkannya, karena rumah ini tak akan ditempati sendiri. Atau ibu bisa mengontraknya nanti!”
Om Joni adalah saudara ibuku. Ia memang termasuk orang berada, maklum sebagai pejabat di lingkungan Pemda, tentu pendapatannya cukup besar sehingga bisa memiliki beberapa rumah. Jika nanti rumah ibu jatuh ke tangannya, maka ini adalah rumah ketiganya.
Mengontrak? Aku benar-benar tak habis pikir, mengontrak di bekas rumah sendiri!
“Kalau tidak, nanti ibu juga bisa tinggal dengan Joko. Gampanglah, itu urusan nanti!”
Gampang? Aku sama sekali tak yakin kalau urusan tempat tinggal adalah urusan gampang. Banyak orang yang hingga menemui ajalnya tak pernah punya tempat tinggal. Banyak pula orang yang terus-menerus pindah rumah karena tak cocok. Ibu sendiri tak pernah menggampangkan hal ini sebelumnya. Jadi, mengapa?
“Bagaimana nanti dengan Yuni?” Aku ingin tahu pikiran ibu tentang adik bungsuku itu. Sebab memang hanya dia yang belum punya rumah sendiri dan sampai sekarang masih tinggal bersama ibu. Apa ia juga harus terlempar dan mencari rumah kontrakan? Atau ia harus berusaha membeli rumah? Cukupkah nanti bagian uang warisannya untuk uang muka KPR?
“Itulah… salah satu sebab mengapa ibu ingin rumah ini dijual adalah agar suami adikmu mikir. Mikir untuk segera punya rumah. Nanti hasil pembagian warisnya bisa untuk nambahi beli rumah atau untuk uang muka kredit rumah.”
Ada betulnya juga apa yang dikatakan ibu. Jika adikku masih saja tinggal di rumah ini bersama ibu, maka sepertinya ia tak akan pernah punya pikiran untuk membeli rumah sendiri. Orang bilang sudah keenakan, jadi lupa kalau ia belum punya rumah.
“Ibu juga khawatir, jika rumah ini tak segera dijual dan dibagi waris.”
“ Maksud Ibu?”
“Ibu takut nantinya rumah ini terbengkalai. Nggak segera dibagi waris karena mungkin diantara kalian ada yang tak meghendaki rumah ini dijual atau dibagi waris.”
Aku tak menduga pikiran ibu sudah sejauh itu. Mungkinkah itu naluri keibuannya? Atau itu hanya pengaruh dari usia tuanya? Atau hanya karena cerita-cerita tetangga yang akhir-akhir ini kerap ngumpul di rumah ibu?
Lagi-lagi seperti tahu pikiranku, ibuku menyambung, ”Tapi bukan hanya itu alasannya. Ada hal lain yang menyebabkan ibu ingin menjual rumah ini. Ibu ingin naik haji!”
Seketika bayangan di kepalaku berubah. Bukan lagi berupa rumah tua yang rusak atau orang-orang bertengkar memperebutkan rumah warisan. Kini hanya ada bayangan ibuku di kerumunan ribuan orang dari berbagai bangsa, berdesakan dengan pakaian serba putih, melakukan berbagai ritual ibadah.
Memang aku sering mendengar orang naik haji dengan menjual sawah, ternak, perhiasan, juga rumah. Tetapi tentu bukan satu-satunya rumah yang sedang ditempati. Bagaimana mungkin sepulang dari beribadah haji, tidak punya tempat bernaung? Pikiranku masih belum bisa menerima alasan ibu yang ini.
Tak beda dari sebelumnya, pikiranku sepertinya juga tertebak. “Ibu sudah tanyakan kepada Pak Khumaedi, yang sering mengisi di pengajian ibu-ibu, katanya nggak apa-apa. Diperbolehkan orang melaksanakan ibadah haji dengan menjual rumah peninggalan suaminya asal masih tersisa untuk anak-anaknya yang berhak menerima warisan dari orang tuanya. Ibu tak akan memakai semua dana hasil penjualan rumah. Ibu hanya akan memakai hak ibu, yang menjadi bagian ibu.”
* * *
……….
+ Maaf, Bu. Sebaiknya ibu pikirkan lagi niat ibu itu.
- Semuanya sudah ibu pikirkan, sudah melalui pertimbangan macem-macem. Ibu
hanya ingin mendengar persetujuanmu!
+ Kalau memang niat ibu hanya untuk naik haji, mungkin bisa dicarikan jalan lain. Yang pasti selain menjual rumah. Itu satu-satunya peninggalan ayah, kalau itu dilepas, apa lagi yang bisa kita pakai untuk mengenang ayah?
- Bukan maksud ibu untuk…
Nut…nut…nut…. Tiba-tiba sambungan telepon terputus. Mungkin pulsa Suryo habis, atau baterenya lemah. Ibu kelihatan tidak suka. Tidak suka karena pembicaraan terputus, lebih-lebih karena Suryo kelihatannya tak setuju dengan usulan ibu.
Suryo memang termasuk orang yang lugas, ia suka bicara apa adanya. Ia tak suka pura-pura, ia juga bukan tipe peragu. Kadang aku sendiri ingin bersikap seperti dia, namun selalu saja hal itu tak pernah sanggup aku lakukan.
Sekian lama waktu berselang, aku masih belum bisa memberikan jawaban, bahkan semakin ragu. Ada baiknya juga meniru Mas Joko yang membiarkan ibu melaksanakan keinginannya naik haji dengan menjual rumah. Memang hanya itu cara satu-satunya agar dapat membayar ongkos naik haji yang kian melambung. Rasanya tak mungkin mengandalkan uang pensiun janda ibu untuk membayar ONH.
Tetapi kalau jadi melaksanakan ibadah haji, bagaimana pulangnya nanti? Bukankah ibu tak akan lagi punya rumah sebagai tempat pulang? Hatiku masih tak dapat menerima kalau rumah ibu akan ditukar dengan gelar ‘Hajjah’nya.
Aku pikir baik juga memperhatikan usulan Suryo. Kami akan patungan mengongkosi ibu untuk naik haji. Meskipun hal itu akan memakan waktu lama. Kami semua bukanlah termasuk orang berada. Kami semua hidup dalam kondisi pas-pasan.
Ibu sepertinya menyambut baik usulan Suryo, sebab selain beliau bisa naik haji juga tanpa kehilangan rumah. Namun persoalannya ibu tak mau berlama-lama. Ibu ingin agar tahun ini bisa mandaftar dan berangkat pada tahun berikutnya. Dan kami tak sanggup memenuhi keinginan ibu untuk menyediakan ONH tahun ini. Akhirnya mau tak mau kami merelakan untuk melepas umah lugu.
Tercapainya keputusan menjual rumah, ternyata bukannya tak menyisakan persoalan. Apa yang aku takutkan sepertinya menjadi kenyataan. Yuni dan Suryo menganggap aku dan mas Joko tak sungguh-sungguh mempertahankan rumah. Walaupun kami tak terang-terangan berkonfrontasi, tetapi hubungan kami menjadi kaku dan dingin. Ada sesuatu yang membelenggu hati kami untuk melepaskan kekakuan.
Tak hanya itu, pada bulan pertama dan kedua selepas penjualan rumah, ibuku memang masih diberi kesempatan untuk menempati umah lugu. Namun pada bulan berikutnya, ibuku terpaksa harus membayar kontrak. Bahkan, pada bulan kelima, ibuku harus rela hengkang dari umah lugu, sebab rumah itu telah berpindah tangan kepada orang lain. Om Joni telah menjualnya lagi kepada salah satu koleganya dengan harga lebih tinggi dari harga jual kami. Alasannya beliau sedang butuh biaya banyak untuk mengongkosi anak pertamanya memasuki fakultas kedokteran.
Ibuku tak bisa berbuat banyak, kami hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini. Terpaksa ibu harus rela berdesakkan di rumahku, atau berhimpitan di rumah mas Joko. Beliau tak mau mengganggu Yuni karena rumah kontrakannya benar-benar sempit. Sedangkan Suryo, terlalu jauh di Jakarta, kota yang tak disukai oleh ibuku karena terlalu bising dan berdebu. Begitulah, sambil menunggu keberangkatan ibu ke tanah suci, ibu bergantian menginap di rumahku dan rumah mas Joko.
Melihat kenyataan ini, Suryo jelas-jelas menyalahkan kami yang telah dengan mudahnya melepaskan umah lugu kepada Om Joni. Suryo geram kepada Om Joni yang telah melanggar kesepakatan tak tertulis yang pernah dicapai sebelum terjadi transaksi.
Sebenarnya ada keinginan ibu untuk mengontrak rumah sendiri, tapi kami jelas tak mengizinkan, mengingat biaya kontrak yang cukup besar, apalagi ibu hanya sendirian. Lebih baik uang untuk biaya kontrak digunakan untuk biaya lain. Sebab ternyata untuk naik haji tak sekadar menyediakan ONH saja, karena ibu juga harus menyediakan uang untuk doa bersama dan “pamitan” kepada kerabat dan tetangga sebelum pergi ke tanah suci. Kemudian ibu juga harus menyediakan dana untuk membeli oleh-oleh saat pulang nanti bagi kerabat dan tetangga yang telah memberikan doa restu saat pemberangkatan.
* * *
Musim haji tiba, impian ibu terwujud. Beliau berangkat dengan iringan haru dan cemas. Kami semua terharu karena ternyata ibu bisa juga memenuhi keinginannya untuk naik haji. Namun kami juga cemas karena kondisi ibu yang makin berumur.
Selama beberapa minggu, aku rajin mengikuti berita tentang pelaksanaan ibadah haji di televisi. Setiap perkembangan aku cermati, setiap wajah yang muncul di televisi aku amati. Aku ingin sekali melihat wajah ibu di tanah suci. Walau hanya lewat layar kaca.
Pernah sekali ibu menelponku Walau tidak lama kami bercakap-cakap, tapi suara ibu terdengar bahagia dan sangat tenang. Di akhir pembicaraan ibu sempat berkata agar kami tak usah merisaukan dan merindukannya.
Memang akhirnya kami harus merelakan untuk tak lagi merindukannya karena beberapa hari kemudian kami dengar berita di televisi kalau beberapa jemaah haji Indonesia meninggal dunia di tanah suci dengan berbagai sebab. Salah satunya adalah Suprapti jemaah haji asal Tegal dalam usia 65 tahun.
Ibu dimakamkan di sana, tempat yang selama ini dirindukannya. Ibu tak pernah kembali ke umah lugu. Akhirnya kami memang tak perlu khawatir dimana ibu akan tinggal setelah umah lugu dijual.
Tegal, 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar