Cari Blog Ini

Rabu, 19 Mei 2010

Lampu Neon



Oleh: Lumaksono

Gelap. Maghrib baru saja lepas, tetapi suasana seperti sudah sangat larut. Aku lihat dari balik kaca jendela, pohon mangga yang berada tepat di depan rumah terlihat samar-samar. Sementara di seberang jalan, rumah tetangga pun tak begitu jelas. Padahal, biasanya tikus tanah yang keluar masuk selokan di depan rumah pun akan dengan mudah terlihat.

Aku buka pintu. Ternyata lampu neon yang biasanya menerangi halaman rumahku, mati! Aku pencet saklar, klik, masih gelap. Klik, masih mati. Klik, tak terlihat juga cahayanya. Terpaksa aku keluar untuk memuaskan rasa penasaranku. Sebab belum pernah lampu ini ngadat, kemarin pun aku lihat nyalanya masih normal benderang. Setiap menjelang maghrib, lampu pasti sudah aku nyalakan, sebab aku sama sekali tidak suka jika gelap lebih dulu menyergap memeluk malam sebelum kusempat menyelimutinya dengan sinar lampu.

Namun apa yang kulihat membuat mulutku ternganga. Aku menatap lekat tempat lampu yang sekarang: kosong!
“Astaghfirullah! Siapa pula yang berani mengambil lampu neonku? Siapa yang begitu miskin sampai-sampai lampu neon 15 watt-ku pun diambilnya?” Aku mengumpat sambil mencari-cari sesuatu di bawah tiang lampu, siapa tahu lampunya jatuh. Namun yang kutemukan hanyalah kegelapan yang mulai membungkus bumi dengan rapatnya. Aku tinggalkan tiang lampu yang kesepian dan kedinginan dengan membawa tanya tak berjawab.

“Bu, kau tahu lampu neon kita kemana?”
“Mungkin sedang jalan-jalan, bukankah ini malam Minggu?” istriku menjawab sekenanya.
“Aku serius, Bu, semalam kulihat masih ada. Bahkan tadi pagi pun saat aku matikan lampu masih di tempatnya.”
“Nggak tahulah, Pak! Masih ada urusan yang lebih penting dibandingkan urusan mengawasi lampu neon yang hanya bikin rekening selangit!”
“Ee…,Bu! Kau jangan ngawur begitu. Aku nggak nyuruh kamu mengawasi lampu neon yang tak akan pernah berbuat macam-macam. Aku hanya tanya, kau tahu tidak lampu neon kita yang biasanya setia menerangi halaman kita, menerangi jalan agar para pejalan kaki tak sampai terperosok got atau saling bertabrakan?”
“Aku nggak tahu. Kenapa sih, Pak, repot-repot mengurusi lampu, lampu itu kan di luar rumah, tak berpengaruh bagi kita. Yang penting di dalam rumah kita sudah terang, aku bisa menyiapkan makan malam dangan cepat. Anak-anak bisa belajar dengan tenang dan kamu bisa membaca koran dan buku-bukumu dengan baik.”
“Jangan salah, Bu! Memang benar itu ada di luar rumah, tetapi lampu itu bermanfaat bagi orang-orang yang lewat di depan rumah kita, Bu.”
“Alaaah sok sosial! Buat apa memikirkan mereka, toh, mereka juga tidak pernah memikirkan kita. Apa mereka pernah berterima kasih kepada kita saat jalannya terang oleh lampu kita!”

Mendengar kata-kata istriku yang kelihatannya emosional, aku menghentikan percakapan. Aku kembali duduk di ruang tamu melanjutkan membaca berita koran tentang pertandingan sepak bola tanah air yang ricuh gara-gara ulah penonton. Panitia pertandingan dan official tim tamu menolak untuk segera melakukan pertandingan karena penonton merangsek ke tepi lapangan, tepat di garis lapangan, padahal garis penonton yang ditandai dengan spanduk iklan berada lima meter di belakang mereka. Inilah potret rakyat negeri ini, yang selalu takut tidak mendapat bagian, walaupun hanya untuk menonton sebuah pertandingan. Padahal akibatnya bukan hanya orang perorangan yang tak kebagian, tetapi semuanya. Ya, semua tak kebagian nonton sepak bola.
Aku lipat koran. Segera aku bersiap keluar membeli lampu neon baru. Sementara kulihat istriku sedang sibuk antara dapur dan meja makan menyiapkan makan malam.
“Kemana, Pak? Nggak makan dulu?”
“Nanti saja sepulang dari toko, aku mau beli lampu neon dulu.”
“Ya ampun, Pa…k, kenapa sih kau begitu ngotot menerangi jalan. Sampai-sampai makan malam kau lupakan, kau sia-siakan pekerjaan istrimu!“ istriku berkata sewot sambil meletakan tatakan gelas dengan keras di meja makan.
“Bu, aku tak akan melupakan makan malam dan menyia-nyiakan pekerjaanmu, aku hanya menunda sebentar. Nanti sepulang dari toko akan kuhabiskan semua yang tersedia di meja makan tanpa sisa.” Aku mencoba mencairkan keadaan.

Tanpa menghiraukan istriku lagi, segera saja aku beranjak meninggalkan rumahku yang kelihatan suram seperti tak berpenghuni. Sesekali kutengok ke belakang melihat rumahku dari kejauhan, kegelapan menyelimuti rumah dan segala isinya. Tiba-tiba aku merasa takut. Takut kalau aura kegelapan merasuk ke dalam jiwa penghuninya.
Aku perhatikan, ada juga lampu neon di depan rumah tetangga yang tidak menyala. Aku tak tahu apakah sengaja tak dinyalakan atau memang mati , atau sama seperti milikku, hilang lampunya! Memang sesuai kesepakatan warga dalam suatu rapat RT, setiap rumah wajib menerangi halamannya dengan lampu neon, dan dipasang di tepi jalan. Alasan yang disampaikan Pak RT waktu itu adalah untuk menerangi lingkungan agar pengamanan mudah dilakukan. Dan yang lebih penting lagi, suasana tidak gelap menakutkan yang bisa mengundang hal-hal yang negatif.
* * *
Aneh! Ini betul-betul tidak masuk akal. Bagaimana mungkin lampu neon yang baru aku beli kemarin sudah hilang lagi. Lampu sudah tak ada lagi di tempatnya. Jalan di depan rumahku gelap kembali. Aku mulai menduga-duga. Pasti ada orang yang sengaja mempermainkan aku. Mungkin pula ada yang berniat jahat terhadapku atau keluargaku. Sebab orang akan leluasa berbuat jahat di tempat gelap. Aku pikir ini hanya awal saja, pasti ada sesuatu yang lebih besar nantinya, tidak hanya sekadar mengambil lampu neon.

Aku bertekad untuk mencari tahu siapa yang melakukan, apa motifnya, kalau mungkin menangkap basah pelakunya. Walaupun harganya tak seberapa, tetapi perbuatannya jelas-jelas tak dapat dimaafkan.
“Bu, lampunya hilang lagi, sudah tak ada lagi di tempatnya!”
“Biarkan aja, Pak, kemarin aku juga bilang apa. Tak usah kau repot-repot beli lampu neon lagi, toh yang halamannya gelap bukan cuma kita. Kau lihatlah rumah pak Sujadi, dari dulu hingga kini tak pernah dipasangi neon. Tiang lampunya dibiarkan merana sendirian. Tidak apa-apa kan? Tak ada sanksi dari pak RT kan?”
“Jangan kau samakan pak Sujadi dengan kita, Bu!”
“Aku tidak menyamakan, aku hanya ingin Bapak meniru pak Sujadi.”
“Kau ini aneh! Salah kok ditiru! Tirulah yang baik, bukan yang jelek!”
“Jelek gimana! Bukankah justru bagus. Menghemat listrik, berarti menekan besarnya rekening.”
“Tetapi tetap melanggar kesepakatan warga. Itu namanya membuat peraturan tetapi dilanggar sendiri!”
“Sudahlah, sesekali melanggar atau berbuat salah kan nggak apa-apa, yang penting menguntungkan kita!”
“Aku tetap tak setuju, Bu. Kita sekali-kali jangan sampai meniru apalagi iri terhadap sesuatu yang salah, walaupun kelihatannya menguntungkan!”

Percakapan berakhir. Aku terdiam sambil memikirkan langkah yang harus kuambil. Ada benarnya juga istriku, tidak memasang lampu berarti menghemat listrik seperti anjuran pemerintah. Dan seperti Sujadi, pak Tomo kulihat lampunya sering tidak menyala. bu Tuti, yang janda itu, juga sering membiarkan halaman rumahnya gelap. Tetapi apakah aku harus seperti mereka? Melanggar kesepakatan bersama? Tidak! Aku tidak mau ikut-ikutan mereka!

Aku jadi ingat obrolan dengan pak Tomo saat hendak berangkat mengajar tadi pagi .
“Sebaiknya nggak usah dibelikan lagi, paling nanti akan hilang juga! Aku sendiri sudah beberapa lama tak memasang lampu. Agak gelap memang, tetapi rasanya lebih nyaman dan tidak mengundang pandangan orang.”
“Wah, kalau begitu kita berseberangan, Pak! Aku sendiri lebih menyukai suasana yang terang agar hati dan pikiran kita juga ikut terang.”
Aku agak tercenung dengan berita yang disampaikan pak Tomo. Memang bukan tidak mungkin seluruh lampu neon yang ada nanti akan hilang. Begitu pula jika aku belikan lampu baru, mungkin nanti akan diambi lagi. Tetapi aku sama sekali tidak suka kegelapan. Jadi, harus aku beli lagi!
* * *
Beberapa malam ini aku jadi lebih rajin duduk di dekat jendela ruang tamu sambil membaca buku. Bukan untuk menunggu tamu, tetapi karena dari tempat inilah aku bisa lebih leluasa melihat keadaan halaman sambil mengawasi lampu neonku. Aku khawatir lampunya akan hilang lagi, sebab ini lampu neonku yang ketiga. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat dengan baik siapa yang melintas di bawah sinar lampu neonku yang benderang.

Kulihat Tuti, janda yang ada di depan rumahku melintas, kulihat dengan jelas sambil berjalan matanya melihat lampu neonku. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin mengagumi cahaya terangnya, mungkin juga risih karena dirinya bisa terlihat jelas saat berada di bawahnya, atau heran mengapa aku masih tetap memasang lampu neon walaupun sudah hilang beberapa kali.

“Oh, ternyata Bapak ngotot untuk memasang lampu agar bisa cuci mata melihat janda itu, ya! Pakai alasan tidak suka gelap segala!” Tiba-tiba istriku muncul dengan tuduhan yang tak beralasan. Aku hanya diam saja membiarkan ia dengan tuduhan dan pikirannya sendiri. Rasanya tak perlu aku berdebat apalagi bertengkar dengan istri hanya gara-gara persoalan yang tak penting.

“Sekarang aku tahu mengapa bu Tuti menganjurkanku untuk tak memasang lampu, rupanya ia tak suka kalau Bapak sering memandanginya! Itu sebabnya mengapa lampu halamannya sekarang tak pernah lagi menyala!”
“Kau jangan ngawur, Bu! Aku tak serendah seperti yang kau sangkakan! Dan lagi, bagaimana Tuti tahu kalau aku sering memandanginya? Aku yakin ini hanya fitnah keji yang hanya akan menggoyahkan rumah tangga kita, Bu!”
“Sudahlah, yang pasti aku lebih suka kalau lampunya kita matikan saja. Pak Tomo juga menyarankan demikian, apalagi setelah beberapa tetangga tidak lagi menyalakan lampu halamannya. Lumayan, Pak, untuk menghemat rekening listrik!”
“Tidak! Jangan kau matikan lampunya! Biarkan tetap menyala!”
“Rupanya kau lebih sayang lampu daripada istrimu sendiri, Pak! Baiklah, malam ini tidurlah kau dengan lampu kesayanganmu itu!”

Ternyata, persoalan yang aku anggap remeh dan kecil ini ditanggapi dengan begitu serius oleh istriku. Begitu seriusnya istriku menanggapi hingga akibatnya malam ini aku tidur di kursi tamu. Tentu saja dengan lampu yang terus kubiarkan menyala terang. Aku berharap mudah-mudahan terangnya sinar lampu akan membuat hati dan pikiranku juga terang, siapa tahu bisa aku tularkan kepada istriku.

Sesaat sebelum aku memejamkan mata, sebelum aku mendapatkan kursi yang nyaman untuk berbaring, aku sempatkan untuk melihat halaman melalui kaca jendela. Kulihat lampu neonku masih menyala terang hingga jalan tampak terlihat jelas, daun mangga tampak bergoyang ditiup angin malam, seekor tikus tanah berlari menyeberang jalan menuju tempat sampah yang ada di depan rumah bu Tuti yang hanya samar terlihat. Tiba-tiba kulihat sesuatu yang merupakan jawaban dari semua pertanyaan dan penyelesaian persoalanku.
* * *
Malam ini dengan perasaan agak was-was, aku ajak istriku untuk menyaksikan sendiri sesuatu yang menurutku bisa melunakkan sikapnya. Aku ingin agar istriku tak lagi ngotot untuk menyuruhku gelap-gelapan. Apalagi menuduhku yang macam-macam. Aku ingin membuktikan bahwa lampu neon yang aku beli berulang kali tidaklah sia-sia. Maka aku sangat berharap agar peristiwa yang semalam aku lihat, akan terulang lagi malam ini. Aku agak yakin dengan hal ini.

Dengan agak malas, istriku duduk tenang di kursi tamu. Aku sendiri tak bisa duduk tenang. Aku gelisah. Duduk, bangun, berulang kali sambil terus-menerus melihat keadaan halaman melalui kaca jendela. Tingkahku persis seperti saat menunggui istriku melahirkan anak pertama. Atau seperti gadis menunggu pujaan hati yang tak kunjung datang. Kulihat jam dinding, pukul 23.30.

Akhirnya, sesuatu yang aku tunggu-tunggu datang juga. Tirai jendela yang sengaja kubuka lebar-lebar, membuat kami leluasa melihat keluar. Sementara lampu ruang sengaja kumatikan agar tak terlihat dari luar. Aku tepuk pelan-pelan pundak istriku yang kelihatannya mulai mengantuk.

“Sekarang bukalah matamu lebar-lebar, lihatlah siapa yang berjalan pelan berjingkat memasuki halaman rumah di depan kita!”
“Pak Tomo?” istriku berkata agak tak percaya, ”mau apa ia malam-malam ke rumah bu Tuti? Mengapa berjalan sambil tengak-tengok?”
Kututup mulut istriku dengan jari telunjuk agar tak berkata-kata lagi. Kali ini istriku menurut. Kami berdua melihat dengan seksama, mungkin tanpa mengedipkan mata. Kulihat, tanpa perlu mengetuk, pak Tomo langsung membuka pintu. Sementara dari dalam rumah, bu Tuti menyambut dengan pelukan mesra. Semuanya terlihat samar-samar karena lampu neon bu Tuti tak lagi menyala.

Tirai jendela aku tutup, lampu aku nyalakan lagi. Kulihat wajah istriku masih penuh tanda tanya. Sesaat kemudian, matanya beralih memandangku dengan penuh penyesalan. Alhamdulillah, mulai malam ini lampu neonku kembali bebas menerangi rumah dan kehidupanku.

Tegal, Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar