
Oleh: Lumaksono
Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga yang ada, Zaitun mencoba melangkah. Ditapakinya satu demi satu tangga jembatan penyeberangan. Tangan kanannya memegang perutnya yang gendut, sementara tangan kirinya berpegangan pada pegangan tangga. Tiap kali kakinya diangkat, bibirnya meringis menahan sakit, tangan kirinya meregang membantu mengangkat tubuhnya.
Bagi Zaitun, tiap baris tangga yang ditapakinya adalah perjuangan hidup. Menyakitkan, melelahkan. Dari bawah sekali ia menapaki tanah kotor, sampai di atas yang dirasa adalah kepeningan. Kepeningan kepala yang mengambang di atas hiruk pikuk kemewahan dunia yang asing mengungkungi kehidupannya. Walaupun akrab dengan kesehariannya, namun tetap berada di luar jangkauan kemampuannya.
Zaitun yang lahir di tengah hiruk pikuk kota, di sebuah perkampungan kumuh, memang selalu berjalan di atas ketidakberuntungan. Dari kecil ia selalu didera oleh ganasnya dunia. Zaitun sudah harus berdikari sejak usia dini. Kedua orang tuanya tak pernah mau peduli dengan diri Zaitun. Bagi mereka, Zaitun adalah beban yang tak patut dipikul di atas beban yang lain. Tiap-tiap orang harus berani memikul beban hidupnya sendiri, saat dia mulai mengerti arti lapar, haus, dan apa itu hidup.
Jadilah Zaitun kecil menyambung nyawa di antara reruntuhan sampah. Di antara sisa-sisa kehidupan normal. Berkutat dengan segala bentuk kemiskinan. Bajunya yang hanya satu memaksanya untuk mampu bertahan seharian di dalam gubuknya menunggu kering setelah dicuci. Kalau begini, maka sore harinya ia harus bekerja keras untuk mendapatkan makanan. Tetapi terkadang Zaitun kecil sering mendapat bantuan dari yang senasib. Mungkin karena wajah Zaitun yang memancarkan kecantikan alami, maka ia banyak disukai. Walaupuin kedua orang tuanya tak pernah peduli dengan kecantikan Zaitun.
Walaupun Zaitun besar dengan gizi yang minim, dan tanpa dibekali dengan pengetahuan poles-memoles wajah, tanpa pernah berusaha membentuk tubuh, namun kekuasaan Tuhan telah membuat diri Zaitun tampak menjadi wanita yang cantik alami. Kalau Zaitun sudah menyisir rambutnya, maka perkampungan kumuh tersebut laksana kedatangan bintang film. Semua mata akan melirik, baik kagum, iri, maupun nafsu!
“Tun, rasanya kau tak pantas hidup di tengah-tengah kami. Kalau saja kau mengganti pakaianmu yang lusuh itu dengan yang baru, kalau saja kau bisa mandi tiap hari dengan sabun, gosok gigi dengan odol, makan nasi sehari tiga kali, kau tak layak lagi hidup di antara barang-barang bekas.”
“Ah, Mang Jaya ini ngomong apa. Ada-ada saja!”
“Zaitun…Zaitun, dengarkan baik-baik! Kau sebenarnya tak layak hidup di antara kami yang kumuh ini. Kau layak hidup seperti mereka, orang gedongan!” Mang Jaya berkata sambil menunjuk gedung bertingkat di kejauhan.
“Tapi mereka kan orang kaya, punya banyak uang. Zaitun kan nggak punya uang.”
“Sebenarnya kau bisa mencarinya, Nak!”
“Bisa mencari gimana, Mang Jaya aja yang laki-laki, badannya gede gak bisa cari uang banyak, apalagi Zaitun!”
“Kau kan punya wajah cantik, tubuhmu juga indah, Nak!”
Mang Jaya kemudian pergi meninggalkan Zaitun yang mengiringinya dengan tatapan penuh tanya.
“Apa maksud Mang Jaya, yah. Wajahku kata orang-orang memang cantik. Tubuhku sexy kata Jupri. Tapi apa hubungannya dengan uang banyak? Apa bisa untuk cari duit? Cari duit kan dengan bekerja, kalau yang sekolahnya tinggi , ya kerjanya bisa dapat uang banyak. Tapi kalau yang nggak sekolah seperti aku, uang yang didapat juga sedikit, sesuai dengan kemampuan yang aku bisa, hanya sedikit.”
Lama juga Zaitun berada dalam kebingungan, dalam ketidaktahuan seorang gadis remaja. Kata-kata Mang Jaya, orang yang paling dekat dengannya, benar-benar telah membuatnya susah tidur. Rumah kardusnya yang sempit, terasa kian sempit. Udara yang dingin menjadi terasa panas.
* * *
“Mang Jaya mau kemana?” Zaitun yang sedang bermalas-malasan mencoba menyapa Mang Jaya yang lewat dengan tenang.
“Oh, Zaitun, biasa, cari sesuap nasi. Kok di situ terus, nggak berangkat?”
“Males Mang, capek!”
“Masih punya persediaan? Kemarin dapat banyak, ya?”
“Enggak, hanya alangkah enaknya kalau Zaitun dapat kerja sehari untuk satu minggu. Tentu Zaitun bisa banyak santai di rumah.”
“Sudah saya katakan, kau bisa , Nak! Bahkan tak perlu kerja seharian, cukup beberapa saat saja, kau bisa mendapatkan uang berlimpah. Kau punya modal wajah cantik dan tubuh yang indah, Nak! Semua itu bisa mendatangkan duit dengan mudah.”
“Maksud Mang jaya, Zaitun harus… harus…Ah, nggak mau ah, takut!”
“Tak perlu takut, saya hanya mencarikan jalan keluar agar kau bisa hidup enak seperti yang kau inginkan. Itu sudah biasa, dan saya kira kau mampu melakukannya.”
“Zaitun takut Mang, apa kata orang nanti bila tahu Zaitun yang sebenarnya? Mereka tentu mencemooh dan mengucilkan Zaitun. Dan, ah….” Zaitun tak melanjutkan kata-katanya.
“Tenang,, kau tinggal menuruti perintah saya, nanti akan saya atur semuanya hingga nggak ada orang yang tahu kecuali kita.”
“Ah, nggak mau ah, takut Mang. Zaitun takut. Zaitun nggak bisa!”
“Baiklah, pikirkan dulu semuanya, saya mau berangkat.”
Zaitun tampak bengong sambil bergumam panjang. Memang enak apa yang dikatakan Mang Jaya. Aku tak perlu repot-repot, tinggal nunggu orang datang, melayani apa maunya, dapat duit. Modalnya juga murah, senyum dan dandanan yang menarik.
Tetapi, apa aku harus serahkan perawanku kepada orang lain? Tidak, aku tidak mau! Perawanku hanya untuk suamiku! Tapi siapa yang mau sama aku? Gadis gembel? Harus berapa lama aku menunggu? Dan lagi aku sudah bosan kerja berat hanya untuk makan sekali, itu pun hanya nasi putih tambah lauk seadanya. Kadang terpaksa harus makan nasi basi. Aku ingin hidup enak, hidup yang lebih baik!
Ah, tapi nggak! Nanti kalau tiba-tiba aku hamil, dicemooh orang, anakku lahir dan tanya siapa bapaknya? Caci maki orang tentu akan semakin parah, ah, tidak!
Setelah puas dengan gumamannya yang panjang, kini ada perang di hatinya, Zaitun bimbang, ia melamun panjang ditemani setan yang mulai masuk pikirannya.
* * *
Satu malam, Mang Jaya membawakan pakaian baru untuk Zaitun, juga seperangkaat kosmetik: bedak, lipstick, dan parfum. Zaitun menerima semua itu dengan keragu-raguan. Satu sikap enggan bercampur senang dan butuh.
“Eee, trima kasih, Mang! Dari mana Mang Jaya mendapatkan semua ini?”
“Ah, itu semua tak perlu kau risaukan, yang penting sekarang kau pasti akan tampak lebih cantik dengan semua ini. Sekarang, cepat pakai semua!”
Dengan ditunggui Mang Jaya, Zaitun mulai mengganti pakaiannya, wajahnya diberi sedikit bedak, bibirnya kini diberi polesan warna merah hingga tampak menawan, dan yang terakhir tubuhnya disemprot minyak wangi. Tentu saja, semua pekerjaan ini dibimbing oleh Mang Jaya.
Zaitun mulai berputar-putar, menilik pakaian yang baru dikenakan. Dia mencium-cium bau tubuhnya yang baru pertama kena parfum. Bibirnya berkali-kali direkahkan di depan cermin, seolah ingin meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ia cantik. Dan sinar mata Zaitun berbinar-binar memancarkan rasa bahagia.
Akan halnya Mang Jaya yang dari tadi berada dekat Zaitun, kini benar-benar kagum. Rok Zaitun yang sepuluh centi di atas lutut semakin menambah sexy, menampakkan kecantikan terpendam.
“Kenapa Mang? Kok, memandangi Zaitun terus!”
Yang ditegur agak gelagapan, tapi kemudian memaksakan untuk tersenyum, “Kau benar-benar cantik. Kemarilah, Nak! Jangan takut, mendekatlah padaku, mulailah perjalanan panjang ini!”
Zaitun kaget. Tak menyangka kalau Mang Jayalah orang pertama yang menentukan jalan hidup selanjutnya. Bagi Zaitun Mang Jaya adalah kehancuran dan harapan. Kehancuran atas kesuciannya dan harapan akan hidup selanjutnya.
Kini Zaitun benar-benar menyerah. Semua perintah Mang Jaya ia penuhi, tak ada gunanya lagi menolak. Setiap malam tiba, ia dengan pasrah malayani tamu yang di sodorkan kepadanya yang rata-rata berasal dari kalangan bawah. Semuanya diatur Mang Jaya, Zaitun hanya berfungsi sebagai mesin penghasil uang.
Lambat laun Zaitun mulai bisa membenahi diri, keadaannya benar-benar berbeda. Dia kini lebih bersih, semakin tampak kecantikannya. Mang Jaya pun kini mulai berubah, tak pernah lagi kerja berat , lebih banyak santai di rumah. Gubuk mereka kelihatan lebih terang karena ada lampu minyak yang menyala sepanjang malam. Makanan mereka lebih bergizi dan teratur.
Orang-orang belum menyadari kerja sama yang terjadi antara Zaitun dan Mang Jaya. Mereka mengira kedekatan Mang Jaya dan Zaitun hanya karena mereka masih ada hubungan kerabat. Hanya saja mereka melihat perubahan pada Zaitun yang sekarang tak pernah lagi kelihatan bekerja di siang hari. Ia hanya bermalas-malasan di gubuknya.
Sekarang Zaitun melihat sikap orang mulai berubah kepada dirinya. Di matanya sikap orang seperti memusuhi, iri, dan jijik. Hal ini membuat Zaitun berpikir. Ia ingin kembali menjadi manusia wajar yang bisa bebas bergaul dengan orang lain tanpa rasa risih. Ia ingin kembali bekerja, kerja yang tak mengundang reaksi orang lain. Tak ingin lagi kerja dengan mengandalkan segala kepalsuan, senyum, raga, dan rasa yang mengakibatkan cemoohan orang.
Tetapi segala pikiran itu akan lenyap seketika saat matanya mulai menangkap tumpukkan uang yang disodorkan di hadapannya. Hatinya segera saja tertutup oleh nafsu duniawinya. Zaitun kembali mengalirkan kepalsuannya.
* * *
Zaitun mulai menyadari dan merasakan ada kelainan pada dirinya. Bulan kemarin ia tidak mendapatkan haidnya, bulan ini pun tidak. Sudah terlambat dua bulan. Ditambah lagi Zaitun sering pusing dan suka muntah. Yakinlah dirinya bahwa kini perutnya mulai berisi. Zaitun sadar, ia tak sendirian lagi. Ada tanggung jawab yang melekat di tubuhnya.
Kebingungannya kini mulai bertambah. Malu karena cemoohan orang-orang juga mulai meningkat. Langganannya juga sudah mulai mundur. Jadilah Zaitun kekurangn uang lagi untuk kehidupan sehari-harinya.
“Kalau terus-terusan begini, bisa-bisa aku mati karena perut ini, Gara-gara bayi yang tak jelas siapa ayahnya ini!” Zaitun mulai menyalahkan bayinya. Ia mulai berpikir untuk menghilangkan sumber malapetaka itu.
“Lebih baik kugugurkan saja kandungan ini. Agar aku bisa leluasa kembali menerima pelanggan. Bisa cari duit lagi. Tak menanggung malu lagi. Lagi pula kalau anak ini lahir ia akan malu karena tak punya ayah dan beribu seorang pelacur yang hidup di perkampungan kumuh. Aku tak mau nasib anakku sejelek nasibku. Tidak!”
Lama juga Zaitun memikirkan hal itu. Tanpa disadari, Zaitun mulai melangkah meninggalkan perkampungan menuju keramaian kota.
“Tapi aku tak mau jadi pembunuh, apalagi pembunuh anakku sendiri. Tak tega. Dia juga punya hak hidup seperti aku. Dan lagi, apa kata orang nanti jika mereka tahu dan lapor kepada polisi. Aku tentu akan dipenjara karena membunuh bayi! Ah, tidak! Tapi kalau tidak, bagaimana nasibku sekarang dan nasibnya kelak?”
Wajah Zaitun semakin menampakkan kekusutan pikirannya. Tiba di atas jembatan penyeberangan, ia memandangi mobil yang lalu lalang di bawahnya. Tanpa disadari, matanya mengalirkan buliran-buliran bening.
“Habislah segala kerumitan kalau aku terjun ke bawah.”
Braaakk! Sebuah Mercy hitam penyok atapnya.
(Mitra Dialog, 11 Maret 2006)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar