Cari Blog Ini

Rabu, 19 Mei 2010

Tiga Perempuan yang Menari di Dadaku



Oleh : Lumaksono

Hidup, mati, rejeki dan jodoh semua ada di tangan Tuhan! Kita hanya bisa berusaha mendapatkan itu semua, namun kepastiannya hanya Tuhan yang menentukan. Dan orang akan merasa beruntung jika bisa mendapatkanya. Aku sendiri telah memperoleh satu-persatu dari apa yang ada di tangan Tuhan. Aku bersyukur telah lahir ke dunia dan dikaruniai kehidupan hingga sekarang. Rejeki, aku sering mendapatkan, dari yang sudah aku duga hingga yang sama sekali tak terbayangkan. Aku termasuk berkecukupan, apalagi jika dibandingkan dengan teman-temanku.

Telah aku dapatkan hidup dan rejeki yang ada di tangan Tuhan, tinggal jodoh dan mati yang belum! Jodoh, entah apa Tuhan lupa tak menyediakan jodoh buatku di tangan-Nya atau Tuhan memang tak menyediakannya untukku? Hingga sekarang aku masih belum juga mendapatkan jodohku! Atau, yang mana yang akan Kau berikan dulu padaku? Matikah? Atau jodohku?
“Pilihlah satu diantara beberapa teman wanitamu, ngger. Jangan biarkan mereka seperti mawar yang mekar di pucuk ranting yang menjulang menggapai matahari, sangat indah dan mudah untuk dilihat tapi akan layu dan berguguran karena tak segera dipetik!” begitu sering kau katakan.
Kau memang tahu persis perempuan-perempuan yang dekat denganku, dan tiap kali kukenalkan mereka, kau selalu berpesan, “Cepatlah beri kepastian agar mereka tak sia-sia!” Kata-kata ini akan muncul jika kau kurang berkenan, dan aku ingat hanya ada tiga perempuan yang tak mendatangkan pesan demikian.
Sinta, dialah perempuan pertama yang aku temukan. Dialah perempuan yang aku pilih. Dengan wajah secantik Dewi Kamaratih dan kulit bening seperti Ken Dedes, hampir bisa dipastikan setiap pria akan bertekuk lutut di hadapannya. Dan karenanya, ayahku pun terus saja berkata, “Pintar sekali kau memilih perempuan, tak salah jika kau jadikan dia sebagai garwamu!”

Kehadirannya telah membuat malam selalu bertabur bintang. Dengan buaian angin lembut di telinga, suara serangga malam menjadi orkestra yang melenakan. Aku langsung dibuat mabuk kepayang ketika berjumpa dengannya.
Bersamanya, waktu terasa sangat pendek. Hampir semua yang aku lakukan dengannya tak pernah selesai. Berlembar-lembar kertas telah aku tulisi puisi yang tak kunjung selesai, selalu saja ada sesuatu yang baru yang membuat aku ingin menuliskannya. Setiap kali akan kuakhiri puisiku, selalu saja dia hadir dan menghendaki puisi itu diperpanjang tanpa batas makna. Meskipun tak jarang puisiku hanya berisi titik-titik dan gumaman yang tak terbaca jelas karena memang aku selalu pula kehabisan kata.
Kata? Mungkin kata telah kehilangan kesaktiannya hingga tak lagi mampu mengungkap semua rasa yang ada di dada. Kata-kata tak lagi mampu menampung luapan asmara yang terus menggelegak tak terkendali. Maka itulah aku menjadi benci dengan kata. Berdua Sinta, aku lebih suka berbuat daripada berkata-kata. Sinta lebih suka menari-nari meliukkan badan mengharmoniskan tubuh untuk mengekspresikan rasa yang tak terwujud lewat kata. Kadang dia hanya menari-nari kecil dengan gerakan-gerakan terbatas namun penuh kelembutan dan sarat makna. Terkadang kami lakukan pula tarian liar untuk memuntahkan rasa yang tersumbat jika sang waktu telah berbuat jahat kepada kami dengan merentangkan sayap telampau lebar hingga kami kehilangan banyak kesempatan. Jika ruang telah membuat sekat-sekat yang begitu tebal hingga kami tak bisa saling merengkuh tangan, maka energi kami pun kian besar demi menggambar bayang-bayang menjadi sehitam mungkin. Satu yang pasti, kami selalu merasa puas dengan pertemuan-pertemuan yang terjadi.

Akan tetapi, selalu saja ada yang terasa kosong di dada karena semua hanya dimaknai sebagai kepuasan ragawi, apa yang kami lakukan sepertinya hanyalah hasrat terendah manusia yang tak berbeda dengan serangga-serangga malam yang terus berbiak. Kalau hanya ini yang bisa dilakukan, apa artinya hidup?
Ayah, aku belum bisa memenuhi harapanmu dengan perempuan yang ini! Aku ingin mencari yang lain yang lebih bermakna. Kau pun memakluminya. Hingga aku dapatkan perempuan kedua.

“Ayah rasa Ajeng sangat layak untuk menjadi garwamu! Dia berasal dari trah berdarah biru dengan segala kebahagiaan dunia, kau tak akan kekurangan!”
Ajeng. Dialah perempuan keduaku yang kelihatannya diharapkan ayah untuk menjadi pendamping hidupku. Dengan embel-embel Rr. di depan namanya, rasanya lebih dari cukup untuk menjelaskan dari kalangan mana dia berasal. Memang sangat tidak salah kalau Ajeng mungkin akan memberikan kabahagiaan dunia kepadaku. Rasanya belum pernah kutemui perempuan berdarah biru yang berlinang derita. Paling tidak, berdasarkan berita yang pernah aku baca di surat kabar dan infotainment di televisi, semuanya bergelimang harta.

Begitu pula dengan Rr. Ajeng Kusumaningtyas, sejak perkenalanku dengannya, rasanya tak henti-hentinya ia memasok segala kebutuhan dunia. Setiap kali menyambangi rumahku, selalu saja tangannya berat tak bisa mengayun. Segala macam oleh-oleh selalu menyertainya, seakan ia tak pernah berani untuk hadir di rumahku sendirian, selalu saja ada yang menyertainya. Karenanya, bukan hanya aku yang mendapatkan perhatian darinya, tapi juga kedua orang tuaku. Sepertinya Ajeng paham benar bagaimana cara mengambil hati mereka sehingga ayah dan ibuku selalu membuka kedua tangannya lebar-lebar saat menyambut temanku yang satu ini. Ajeng menjadi tanpa cela!
Ibu sangat gembira saat Ajeng membawakan kebaya lengkap seperti yang biasa dipakai wanita-wanita kraton, tentu dengan mutu yang sangat bagus yang tak pernah ibu peroleh dari ayah. Untuk ayah, Ajeng bawakan kacamata dengan model terbaru dari merk terkenal sehingga ayahku tak pernah lagi melepasnya, dan di matanya, Ajeng menjelma menjadi bidadari, meskipun wajahnya tak beda dengan orang kebanyakan.

Ajeng menjadi seperti merak yang selalu memamerkan keindahan bulunya, tak henti ia melenggak-lenggokkan tubuhnya, mengembangkan ekornya hingga dunia berbinar. Dan aku dipaksanya untuk terus menikmati tariannya karena aku adalah panggung tempatnya menari-nari. Ia selalu mengejar kemana pun aku melangkah, tak pernah sejengkal pun dibiarkannya aku menjauh. Tak pernah sedetik pun aku dibiarkan istirah. Ia sepertinya telah keranjingan untuk terus menari. Meski sering terselip rasa bangga bisa menyediakan tempat baginya untuk menari, tetapi lama-lama aku merasa capai juga
Ayah, aku tak bisa menyertai Ajeng dan aku pun tak bisa berbuat sesuatu yang cukup berarti baginya, semua kebutuhan telah dicukupi dan dilakukan sendiri. Kalau begitu untuk apa aku? Maka aku berpikir untuk mencari yang lain!

Monika, perempuan berkaca mata yang walaupun tidak memiliki apa yang ada pada diri Ajeng dan Sinta, tapi mempunyai otak yang cerdas, menjadi pilihanku yang ketiga. Dia berhasil menyita perhatianku, dia berhasil membuat pikiranku terbuka, dia yang mampu membawaku ke alam diskusi selama berjam-jam yang membuat masa depan dunia seperti lebih cerah. Ayah pun telah dibuatnya kagum hingga akhirnya mengatakan, “Tak apa kau pilih dia, ayah yakin dengannya kau akan mampu memecahkan persoalan dunia!”
Kacamata yang bertengger di atas hidungnya yang mungil untuk menyambung lensa matanya, sepertinya makin menegaskan kalau Monika adalah perempuan yang sering bergelut dengan buku. Dia adalah tipe perempuan yang rela menyerap apa pun yang ada di depan matanya, bola matanya tampak selalu kehausan untuk mengisi penuh-penuh rongga kepalanya dengan segala ilmu.

Aku sangat suka mengais sedikit demi sedikit isi tempurung kepalanya. Hanya sedikit demi sedikit karena aku tak mampu untuk mengambilnya sekaligus, terlalu berat. Dengannya aku menjadi terlihat bodoh, aku jadi merasa tidak tahu apa-apa. Untungnya, dengan sukacita ia memberikan segala yang aku mau. Aku sangat menikmati ini, hingga rasanya tak pernah aku puas untuk mendapatkan apa saja dari isi kepalanya.
Aku kian keranjingan, rasanya aku tak ingin sedetik pun jauh darinya agar aku bisa mendapatkan pencerahan lewat kata-kata bijaknya yang selalu mengalir penuh makna. Aku terus mengejarnya, tapi sayangnya tak jarang aku hanya mendapatkan bayangnya saja. Sulit sekali rasanya untuk merengkuhnya secara utuh. Monika seperti impian dalam kenyataan.

Monika lebih menyukai berdua dengan bukunya daripada berdua denganku. Ia lebih suka menari-nari di perpustakaan daripada menari bersamaku di pusat perbelanjaan maupun pusat hiburan yang tersebar di seluruh kota.
Dan untuk ketiga kalinya aku kembali bimbang. Aku tak bisa lagi segera memutuskan apakah Monika akan menjadi pelabuhan terakhirku atau aku akan berlayar kembali untuk menemukan pelabuhan yang cocok? Dia memang sangat pintar dan enak untuk diajak bicara. Namun, kalau aku harus sering diabaikan demi memuaskan dahaganya terhadap buku, bisakah dia menjadi garwaku?

Akhirnya ayah kehabisan waktu untuk menungguku menentukan pilihan. Ayah berpulang dengan membawa kecewa tentunya. Bahkan hingga jauh setelah batas terakhir ayah di dunia, aku belum mampu untuk mendapatkan impianku.

Maafkan anakmu ayah, jika sampai sewindu sejak kepergianmu ke alam baka belum juga kupenuhi pesan terakhirmu. Bukannya aku mengabaikan pesanmu hanya karena tak mungkin lagi kau bisa menegurku, bukan karena aku tak menghormatimu lagi, tetapi aku belum juga mendapatkan orang yang tepat. Aku hanya ingin apa yang aku lakukan tidak akan berbuah kekecewaan, apalagi penyesalan. Oleh karena itulah aku benar-benar harus memperhitungkan segalanya.

Ayah, hingga detik ini aku belum sanggup untuk mendekatimu, meskipun itu hanya sekadar mengusap pusaramu atau mencabuti rerumputan yang tumbuh membentang di antara dua batu nisanmu. Aku malu karena belum juga bisa memenuhi harapanmu. Aku malu karena hanya untuk urusan mencari istri saja aku tak juga bisa. Aku belum juga menemukan perempuan yang pas.

Aku memang bukanlah manusia yang sempurna, dan karena ketidaksempurnaanku itulah aku menginginkan pendamping hidup yang benar-benar bisa melengkapi kekuranganku hingga istriku menjadi sebenar-benarnya garwa, sigaraning nyawa. Istriku haruslah orang yang mampu menutup segala kekuranganku. Bisa menjadi pakaianku, menjadi pelindung kulitku dari sengatan matahari, pelindung tubuhku dari penglihatan orang. Istriku haruslah orang yang mampu menjadi sumber hidupku, ia adalah inspirasi dalam menempuh hidup. Istriku harus mampu menjadi tongkat penunjuk jalan kala gulita menyergap. Ia harus tahu kemana arah yang benar yang mesti ditempuh.

Atau mungkin aku hanya terlalu banyak pemikiran, terlalu banyak harapan hingga tak seorang pun yang memenuhi semua yang aku harapkan. Tak seorang pun yang mempunyai segala yang aku inginkan. Dalam tiap kesempatan aku hanya bisa berkhayal kalau ketiga perempuanku bisa kusandingkan jadi satu. Kadang khayalku pun menginginkan mereka melebur hingga aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan ada dalam diri seseorang.
Sebentar bayangan Sinta muncul memendarkan pelangi ke sudut-sudut hati dan kemudian tenggelam ditingkahi bayangan Ajeng yang serba gemerlap, yang akan lenyap pula jika bayangan Monika berkelebat. Waktu terus berlalu dan tiga perempuanku terus saja menari-nari di dadaku, menunggu aku meraih mimpi.


Tegal, 2009-11-05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar