Cari Blog Ini

Rabu, 19 Mei 2010

PATUNG ITU TERTUSUK PISAU



Oleh: Lumaksono


Ruang guru heboh! Gempar. Suasana pagi yang biasanya tenang saat guru-guru sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk mengajar, mendadak ramai.Sesuatu telah membuat suasana pagi ini betul-betul berubah. Semua guru mendadak ingin berkomentar, walaupun mereka tetap sibuk di mejanya masing-masing.
Di atas meja Pak Ratmin, guru seni rupa, berdiri sebuah patung kayu yang cukup besar. Patung itu berbentuk seorang wanita yang sedang menggeliat dalam dekapan lelaki yang setengah jongkok. Sangat jelas detilnya. Tingginya kurang lebih tiga puluh sentimeter, dalam balutan warna sawo matang seperti kulit orang Indonesia pada umumnya. Ekspresi yang tergambar pada kedua raut mukanya dan lekukan-lekukan yang ada sangat hidup. Sehingga jika saja patung itu dibuat dalam proporsi manusia sesungguhnya, maka akan tampak sangat nyata. Hal ini rupanya membuat gerah beberapa orang guru.
“Patung seperti itu tidak pantas dijadikan bahan pelajaran di kelas!” kata Pak Hartoyo guru PPKn sambil terus sibuk membenahi kertas-kertas ulangan yang agak acak-acakan di atas mejanya. Beliau memang dikenal sebagai guru yang kurang rapi.
“Anak-anak SMP belum siap menerima hal-hal seperti itu. Dengan melihat patung itu, apalagi nanti membuatnya, pikiran mereka akan tergiring ke arena mesum, ke hal-hal yang tabu!” Bu Kus, guru BK yang sebentar lagi pensiun dan agak kolot ikut berkomentar, walaupun hanya melihat dari kejauhan.
“Patung dengan aurat terbuka seperti itu jelas sangat diharamkan untuk dilihat. Apalagi adegan yang tergambar dalam patung itu mendekati kegiatan suami istri!” Pak Wahyudin, guru agama, turut memprotes sambil berjalan keluar.
Begitulah, pagi itu semua guru berkomentar. Ada yang pro dan ada yang kontra. Tetapi yang bersuara paling keras tentu saja yang menentang. Mereka berharap dengan suara yang keras maka perlawanan mereka akan menang. Paling tidak akan menciutkan nyali pihak yang mendukung Pak Ratmin dengan patungnya. Mungkin juga akan membendung keinginan orang-orang yang masih abstain untuk tidak ikut-ikutan mendukung kalau tidak mau ikut menentang. Kebanyakan dari kita memang cenderung untuk mengikuti kekuatan yang bisa bersuara keras tanpa mau melihat lebih dalam lagi hakikat dari apa yang dibela atau dilawan. Sering kita hanya ikut-ikutan.
Pak Ratmin belum mulai angkat bicara. Sepertinya beliau sengaja membiarkan teman-temannya mengungkapkan perasaannya, pendapatnya, membiarkan mereka berkomentar sampai puas. Rupanya beliau tidak ingin mengekang kebebasan berbicara. Memasung mereka menyuarakan hati nurani adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Dan Pak Ratmin sebagai penganut dan penganjur kebebasan berekspresi tentu saja sangat senang dengan komentar dan tanggapan para guru.

Bel berbunyi, satu persatu guru meninggalkan ruangan. Kini di ruang guru hanya tinggal beberapa orang saja yang kebetulan tidak ada jam mengajar.
“Kalau urusan bahan pelajaran seni rupa masih harus dikaitkan dengan pantas dan tidak pantas, maka akan sangat repot.” Pak Ratmin mencoba menanggapi komentar Pak Hartoyo.
“Kenapa harus repot, kan banyak patung yang lebih sopan yang dijual di pasaran atau Pak Ratmin membuat sendiri yang lebih pantas dan bermoral.”
“Tetapi yang dituntut kurikulum adalah ekspresinya , bukan moralnya. Siswa dituntut agar mampu mengekspresikan gagasan dalam bentuk patung. Jadi bukan patung yang tanpa ekspresi yang dijadikan model!”
“Ekspresi. Nah! Apakah patung yang berekspresi hanya patung itu? Apa Pak Ratmin menganggap patung yang lain tanpa ekspresi?”
“Tidak juga. Tapi apa salahnya dengan patung ini? Yang akan saya ajarkan adalah ekspresinya, bukan ketelanjangannya.”
“Itulah! Yang akan dilihat pertama kali oleh anak-anak adalah bentuknya, ketelanjangannya, karena memang itu yang muncul di permukaan. Itu yang mudah sekali dilihat .Mengenai ekspresinya, mungkin mereka tidak sempat memperhatikan karena pikiran mereka terlanjur mengembara ke awan, ke hal-hal yang tabu!” Pak Hartoyo semakin bersemangat saja rupanya.

“Kalau begitu pikiran kitalah yang harus dibereskan, bukan patung ini. Kalau pikiran kita beres, saya yakin tidak akan terjadi hal yang macam-macam.Objektiflah melihat sesuatu!” Pak Ratmin menjawab sambil mengamati patungnya.
“Nanti kalau sampai kepala sekolah tahu, pak Ratmin mau membawa patung itu ke kelas tahu sendiri akibatnya!” bu Kus mengingatkan akan keitoriteran kepala sekolah.
“Omong-omong, ekspresi apa yang pak Hartoyo tangkap dari patung ini?” pak Ratmin mencoba menyamakan persepsi.

Obrolan terhenti sebentar karena Warsito, karyawan sekolah kami yang bertugas membuat minuman, masuk dan mulai membagikan air teh manis di atas meja kami. Seperti biasa, minuman yang masih mengepulkan uap panas itu aku sruput sedikit demi sedikit. Kehangatannya terasa nyaman mengalir ke seluruh tubuh. Membuat semua syaraf terasa segar. Seperti mendapat suntikan semangat menghadapi rutinitas mengajar.
Saat tiba di meja Pak Ratmin, Warsito berhenti sebentar dan berkomentar, “Patungnya bagus sekali, Pak. Tampak sangat hidup!”

Warsito berkomentar sambil menatap lekat patung di meja Pak Ratmin. Komentarnya jujur dan spontan, ia memang tidak pernah berpikir dan bertingkah macam-macam. Mungkin karena ia hanya lulusan SMP sehingga pikirannya pun sangat sederhana.
“Sebaiknya patungnya diganti dengan yang lain yang tidak porno, Pak!” Bu Kus kembali meminta agar Pak Ratmin membatalkan niatnya.
“Sebenarnya patung ini tidak porno, kalau saja Bu Kus…” belum sempat Pak Ratmin menyelesaikan bicaranya, bu Kus kembali memprotes.
“Nggak porno gimana! Patung tanpa busana begitu dianggap nggak porno? Kebetulan saja alat vitalnya nggak kelihatan!” bu Kus kelihatan sangat kesal, “hal seperti ini yang membuat kenakalan remaja dan kejahatan seksual meningkat! Seharusnya Pak Ratmin sebagai guru membantu mengurangi kenakalan remaja, bukan malah menyuburkan!”
Namun Pak Ratmin tetap bergeming. Beliau tidak berniat membatalkan rencana untuk menjadikan patung itu sebagai model pelajaran. Sepertinya beliau juga sudah tidak mau lagi berargumen tentang patungnya. Dari sorot mata dan raut wajahnya aku melihat kalau beliau sangat mantap dengan patungnya.

Bagaimana bila sampai kepala sekolah tahu hal ini? Apalagi hanya dengar dari suara yang diterbangkan angin? Apa pak Ratmin hanya akan kena marah, atau sesuatu yang lebih jelek? Aku sendiri malas untuk mereka-reka jawaban. Jadi pertanyaan ini aku simpan saja dalam hati.

Sambil melihat dari tempatku duduk, yang hanya berjarak dua meja, aku ingat bahwa dalam pelajaran biologi pun ada satu pokok bahasan yang bisa dianggap porno bila dikaitkan dengan pendapat Bu Kus dan pak Hartoyo tentang patung pak Ratmin. Dalam pelajaran biologi diajarkan tentang reproduksi manusia yang mau tak mau pasti berhubungan dengan alat-alat reproduksi. Biasanya guru biologi menggunakan gambar-gambar yang lengkap, yang juga terdapat dalam buku pelajaran, untuk menjelaskan kepada murid-muridnya. Pornokah?

Diam-diam aku pun menyetujui keputusan pak Ratmin untuk menarik minat anak dalam membuat patung dengan menggunakan model yang bagus sesuai dengan tujuan pelajaran.
Bel berbunyi, suaranya menyentakkan dada menyadarkan diri pada tugas yang sudah menanti. Pak Ratmin bergegas membawa patungnya ke ruang ketrampilan. Tiba-tiba rasa ingin tahuku timbul. Aku ingin tahu reaksi anak-anak ketika disodori patung itu. Maka iseng-iseng aku dekati ruang ketrampilan. Aku bayangkan pasti suasana menjadi ramai. Anak-anak putri akan cekikikan menahan tawa, tersipu malu dan pura-pura tak melihat. Sedangkan anak-anak putra akan bersorak kegirangan melihat dengan antusias. Dan kegaduhan akan berlangsung lama, kalau tidak sepanjang pelajaran.

Namun, dugaanku tidak sepenuhnya betul, lebih tepatnya banyak kelirunya. Karena ternyata reaksi mereka tidak berlebihan. Memang terdengar teriakan dan sorakan, tetapi tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit mereka tenang kembali, apalagi ketika pak Ratmin mulai menjelaskan apa yang harus mereka lakukan terhadap patung itu.

Rupanya pikiran anak-anak lebih sederhana daripada pikiran pak Hartoyo dan bu Kus. Mereka tidak terlalu banyak prasangka, mungkin inilah yang membuat mereka lebih objektif. Hati dan pikirannya yang bersih akan senantiasa terpelihara dengan arahan yang tepat tentunya.
* * *
Bu Suciwati, kepala sekolah kami, rupanya gerah juga mengetahui bahwa pak Ratmin menggunakan patung yang menurut tiupan angina adalah patung porno. Kontan saja bu Suci langsung memanggil pak Ratmin untuk menghadap. Semua tahu betapa kerasnya hati dan pikiran kepala sekolah, sehingga semua menduga kalau pak Ratmin tentu akan menyerah dihadapannya.

Apa yang telah terjadi di ruang kepala sekolah tak ada yang tahu, tetapi satu yang pasti adalah pak Ratmin keluar dengan wajah yang semakin mantap dan sedikit senyuman di bibir. Hal ini tentu saja membuat heran pak Hartoyo dan bu Kus. Sedangkan pak Ratmin masuk ruang guru dengan langkah penuh kemenangan sambil membawa patung. Karena dibawa dalam keadaan terbalik, maka kini aku tahu kalau di punggung wanitanya ada sesuatu yang menancap, seperti sebuah pisau!



(Mitra Dialog, 15 Juli 2006)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar