Cari Blog Ini

Rabu, 19 Mei 2010

Sekolah Pencakar Langit



Oleh: Lumaksono

Awalnya aku merasa bangga. Bahkan sesekali terdengar nada sombong keluar dari bibirku. Dadaku pun membusung. Tetapi, pembesaran isi rongga dada ini membuat hatiku tertekan, membuncahkan rasa tidak enak. Rasa keadilan di hatiku terusik oleh proyek pembangunan gedung baru sekolah kami. Pembangunan yang telah memunculkan berbagai pertanyaan. Mengapa sekolah kami yang masih utuh, terus-menerus dapat bantuan pembangunan? Sementara sekolah lain banyak yang terlantar hingga ambruk tak tersentuh?

Rencananya, gedung baru ini akan dibuat tingkat empat, sehingga akan menjadi gedung tertinggi di kota kami. Oleh karena itu, tidak salah jika kepala sekolahku dengan bangga mengatakan bahwa sekolah ini akan menjadi sekolah pencakar langit! Sekolah ini akan dibangun meninggi, bukannya melebar, karena memang sudah tidak tersedia lagi lahan kosong. Bahkan pembangunan ini pun terpaksa menggusur bangunan lain yang lebih dulu berdiri, walaupun keadaannya masih bagus.

Semenjak kepemimpinan kepala sekolah yang baru ini, pembangunan begitu pesatnya. Hampir sepanjang waktu, sambung-menyambung tiada henti. Ia memang hebat, setiap kali mengajukan proposal rehab atau pun pembangunan ruang baru, selalu berhasil. Ia mengantarkan langsung proposalnya ke pemerintah pusat disertai lobi-lobi rahasia. Hingga turunlah dana pembangunan yang begitu besar, ditambah lagi sumbangan dari orang tua murid. Entah bagaimana cara merayunya, hingga orang tua dengan rela turut membantu biaya proyek baru ini.

Dalam pidato sambutannya saat peletakan batu pertama yang dihadiri oleh wali kota dan unsur muspida, ia mengatakan, “Ini adalah proyek prestisius. Sebuah proyek yang bisa menjadi kebanggan warga kota. Sesuatu yang bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan daerah. Kita harus sama-sama mewujudkannya!”
Dia melanjutkan, “Keberhasilan saya mendapatkan proyek ini adalah keberhasilan Kepala Dinas Pendidikan juga selaku atasan saya.” (Kepala Dinas tersenyum malu-malu, apalagi disambut tepukan hadirin) Juga merupakan prestasi Wali Kota. (kali ini pak Wali hanya manggut-manggut) Oleh sebab itulah, sudah sepantasnya jika proyek ini mendapat dukungan dari semua pihak, terutama warga masyarakat. (kali ini tidak ada tepuk tangan, yang ada hanya bisik-bisik)

“Jika pembangunan ini sudah selesai, maka dipastikan akan lebih banyak lagi siswa yang tertampung belajar di sini. Tidak akan banyak calon siswa yang terbuang. Dan saya yakin anak-anak akan betah dan bangga belajar di tempat yang menjulang tinggi mencakar langit. Sekolah termegah di kota kita ini!”
Selesai pidato, kepala sekolah makin membusungkan dada. Senyumnya kian mempesona mengembang dari bibirnya. Ada sesuatu di bibir dan sorot mata kepala sekolahku yang tak dapat aku nalar. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya selalu terdengar manis dan tak terbantahkan. Siapa pun orang yang diajak bicara pasti akan menurut saja apa katanya. Apalagi bila tatap matanya menghujam, akan menundukkan apa saja yang dilihatnya.

Kepala Sekolahku berlalu dengan meninggalkan kecemburuan. Apalagi di antara tamu undangan yang hadir, tampak pula beberapa kepala sekolah lain yang gedungnya rusak, bahkan sebagian sudah ambruk termakan cuaca dan usia. Mengenai sekolah yang ambruk, sebenarnya juga telah dimintakan perbaikan kepada pemerintah. Tetapi karena proses turunnya dana terlalu lama, setelah ambruk dan memakan korban anak pewaris negeri, barulah dana pembangunan turun. Itu pun setelah didahului dengan saling tuding dan melempar kesalahan sambil berpura-pura menebar perhatian.
* * *
Kini bangunan megah berlantai empat itu telah berdiri. Di sekelilingnya terdapat taman yang hijau dan kolam ikan yang jernih airnya. Semua semakin menambah kemegahan sekolah. Apalagi jika dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk di sekelilingnya. Sekolah kami sebagai menara gading!
Anak-anak suka sekali belajar di kelas mereka yang baru. Untuk menuju kelasnya yang berada di lantai atas, mereka menggunakan lift yang jumlahnya hanya satu. Karena itu mereka rela antri bermenit-menit menunggu giliran daripada harus naik tangga yang melelahkan. Apalagi, ini adalah barang baru bagi mereka. Mereka saling berebut, saling dorong dan saling sikut untuk dapat kesempatan masuk. Pemandangan seperti ini selalu dilihat kepala sekolah dari ruangannya yang persis berada di depan pintu lift. Dari ruangannya yang berkaca hitam itu. ia akan tersenyum simpul sambil menyandarkan kepalanya di kursi empuknya. Kalau di antara anak-anak itu ada guru yang ikut berebut, kepala sekolah akan tertawa terkekeh-kekeh.
Di kelasnya yang baru, di tempat yang tinggi, anak-anak belajar sambil menikmati pemandangan luas, menghirup udara yang baunya silih berganti. Kadang tertiup udara segar bersih, kemudian berganti dengan bau masakan dari dapur rumah penduduk yang ada di bawah. Tetapi, sering pula tercium bau busuk yang menyesakkan dada. Bahkan, bau busuk itu sekarang lebih sering menyergap. Hal ini tentu saja sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar. Sesekali kami melongokkan kepala keluar jendela mencari tahu dari mana bau busuk itu berasal. Tapi tak satu pun dari kami bisa memastikan sumber bau itu.
Ternyata, bukan hanya aku dan kelasku yang mencium bau busuk itu. Karena ketika kuceritakan hal ini kepada guru yang lain, mereka juga mencium bau yang sama. Bau busuk itu telah menyebar ke semua sudut sekolah. Sepertinya, setiap jengkal lantai sekolah kami, setiap inchi dinding sekolah kami, mengeluarkan bau busuk.
Hanya saja, bau itu tak tercium oleh kepala sekolah. Sebagian guru juga tidak merasakannya. Mereka yang tak mencium bau busuk itu malah mencibir kami. Mengolok kami yang setiap hari mencium bau busuk yang terus menyesakan dada. Dikatakan oleh mereka bahwa yang busuk mungkin badan kami sendiri, bau mulut kami sendiri atau nafas kami yang sering tidak sarapan pagi saat pergi mengajar.

Lama-lama, bau busuk itu telah membuat sebagian dari kami menjadi kebal. Hidung kami menjadi tak lagi bisa membedakan antara bau busuk dan wangi. Rupanya, bau busuk itu telah menggerogoti kemampuan hidung kami. Indra penciuman sebagian besar warga sekolah telah mandul. Walaupun di antara kami masih ada yang bisa mencium bau busuk itu, tetapi karena jumlahnya sangat sedikit, maka kami tak bisa berbuat apa-apa.
* * *
Sembilan bulan berlalu. Lift yang tiap pagi dan siang mengantarkan anak-anak dan guru-guru naik turun, rusak! Terpaksa kami harus rela naik tangga untuk menuju kelas. Dan yang paling menderita tentu saja kelas yang berada di lantai paling atas. Anak-anak berbaris naik tangga sambil memegangi lututnya. Ada juga yang bergelayutan di pegangan tangga. Tak beda jauh dengan mereka, kami para guru pun terpaksa dengan terengah-engah menuju kelas atas.

Sekarang, giliran kayu pegangan tangga yang mulai rusak. Mungkin karena tiap hari jadi tumpuan berpuluh pasang tangan, sehingga paku-pakunya mulai lepas. Beberapa kayu sudah tak lagi berada di tempatnya. Tangga menjadi tidak aman lagi karena pegangan yang juga berfungsi sebagai pagar pengaman telah berlubang di sana-sini. Kami sangat khawatir, tetapi kepala sekolah tampaknya tenang-tenang saja.

Rupanya, kerusakan mulai menjalar kemana-mana. Kini giliran lantai yang mulai terkelupas. Banyak keramik yang terlepas, terangkat begitu saja dari lapisan semen di bawahnya. Cat dinding juga mulai terkelupas menimbulkan bercak-bercak putih mirip kulit terserang panu, ada juga yang luntur berubah warna.

Seiring dengan kerusakan yang terus terjadi, bau busuk semakin menyengat lebih hebat dari sebelumnya. Rupanya, lift yang mati mengeluarkan bau busuk, kayu pegangan tangga yang terlepas juga mulai menyebarkan bau tak sedap. Begitu juga keramik yang terlepas menyemprotkan udara tak sedap.

Keadaan yang demikian tentu saja sangat tidak mendukung kegiatan belajar mengajar. Kami sekarang lebih disibukkan oleh kegiatan menghilangkan bau busuk. Tiap hari anak-anak rela bercapai-capai membersihkan tiap sudut ruangan . Menyemprotkan berbagai macam pengharum ruangan, bahkan menghiasi kelas dengan bunga sedap malam yang harumnya menyengat tajam. Namun semua usaha itu tampaknya sia-sia. Sebab, wangi bunga dan pengharum ruangan hanya mampu bertahan sebentar sebelum akhirnya disaput kembali oleh udara busuk yang kian tajam.

Bisa dipastikan, prestasi anak-anak tak setinggi gedung sekolah kami. Anak-anak tak mampu mengikuti pelajaran dengan baik, guru-guru tak maksimal membimbing mereka menggapai masa depan. Akibatnya di akhir tahun banyak anak yang tak lulus ujian dan tidak naik kelas.

Saat kami bicarakan hal ini dengan kepala sekolah, dan mengusulkan agar segera diadakan perbaikan, karena bau busuk itu keluar dari kerusakan-kerusakan yang terjadi, dengan senyum khasnya ia menjawab, “Saya baru saja membuat proposal, akan saya ajukan secepatnya agar kita dapat proyek pembangunan gedung baru lagi!”

Dua Mei 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar