
Oleh: Lumaksono
Dia adalah harapan terakhirku, aku tak boleh begitu saja melepasnya. Dengan sekuat tenaga, aku ayunkan kaki, berkelebat-kelebat berpacu dengan jarum jam yang tak mengenal capai. Sebentar lagi peluit tentu akan berbunyi, dan bila itu terjadi, maka aku tak mungkin lagi menikmati gairahnya. Bila roda-roda itu mulai menggelinding tak terkejar, maka bisa dipastikan aku akan kehilangan dia selama-lamanya. Dan itu berarti menambah panjang daftar kehilangan yang aku punya.
Peluit benar-benar berbunyi. Orang-orang segera berlarian diiringi rasa cemas, bahkan takut. Leher mereka julurkan agar kepala sedikit naik dan bisa melekatkan mata mereka pada pintu-pintu gerbong. Penumpang bergegas mengejar kereta, takut ketinggalan gerbong. Mereka berdesakan, berhimpitan berlomba menjadi yang pertama.
Peluit makin nyaring, memekakan telinga, membuatku teringat bunyi ceret di rumah. Ceret yang mengering karena terlalu lama di atas kompor, makin lama ketel terbakar, menimbulkan percikan api, dijilat gas elpiji. Api membesar menjilat apa saja, dinding kayu, perabot plastik dan apa pun di dekatnya. Api berpesta pora menghanguskan rumahku, menghanguskan rumah tetangga yang tak berdosa. Rumah-rumah kami yang saling berimpitan memudahkan sang api mondar-mandir kesana kemari, sambil tertawa terbahak mengejek dengan menjulurkan lidahnya yang menghanguskan. Akhirnya hanya tersisa puing dan kepingan hati yang sulit untuk ditata kembali.
Telapak kakiku yang melepuh disana sini karena menginjak puing yang masih menyisakan bara, tak mampu lagi untuk mengejar peluit. Lepuhan telah menjadi luka dan luka telah menyebabkan segalanya terlambat. Perih di telapak terasa sampai ke ulu hati. Aku hanya meringis dan tertatih di bantalan rel yang masih hangat oleh gesekan roda besi sombong dan angkuh menjauh membawa harapanku. Bau kulit terbakar mulai tercium, tentu ini berasal dari bawah kakiku, rasanya ingin sekali aku terus menciumi bau ini jika aku sendiri tak merasakan sakit yang luar biasa. Bau ini terasa sangat enak jika dibandingkan bau puing rumah kami. Sisa plastik, kayu dan kain terbakar sungguh menyesakkan dada. Membuat kami semua tak mampu lagi bernafas lega, membuat kami tak mampu lagi berpikir jernih karena suplai oksigen ke kepala terasa sangat minim.
Aku lunglai, kujatuhkan pantat di atas rel. Harapanku terlepas sudah. Tak ada lagi yang mampu aku lakukan kecuali pasrah. Pasrah kepada nasib atas amukan massa. Tuduhan massa jelas tak mungkin bisa segera kuredam tanpa Saksi. Apalagi tingkat keberingasan mereka benar-benar tengah berada di puncak paling tinggi. Emosi mereka tengah tercabik. Kehilangan tempat tinggal adalah urusan yang sangat serius. Meskipun itu karena musibah, mereka tak mau percaya kalau kejadian itu benar satu musibah dari Yang Mahakuasa, mereka hanya tahu karena kejadian ini memudahkan bagi pihak pemerintah atau siapa pun untuk mengusir mereka, mengusir kami dari gubug dan rumah semi permanen yang selama ini menjadi tempat berlindung kami, tempat istirahat kami.
Pasrah? Dulu ayah pernah marah besar ketika aku menyerah tak mampu membuat katapel sendiri seperti milik teman-teman. ”Tidak sepantasnya laki-laki menyerah untuk hal sepele semacam itu. Bagaimana nanti kalau kau dapat persoalan besar? Akankah kau pasrah begitu saja?”
Seperti mendapat lecutan tongkat pemukul dari joki, aku meloncat berlari kuda menuju stasiun. Segala cara harus kutempuh untuk mendapatkan kesaksianmu! Kau tak boleh lepas begitu saja. Kau tak boleh tinggal gelanggang. Kau harus jelaskan kepada mereka peristiwa sebenarnya. Hanya kau yang mereka percaya, hanya kau yang mampu bicara jelas pada mereka. Keluarkan beberapa kata, cukup beberapa kata saja, tak perlu banyak-banyak, dan mereka akan percaya. Tak usahlah kau takut pada centeng-centeng yang biasa menyambangi kita. Tak usahlah kau gentar pada preman yang biasa memamerkan taring kepada kita.
Aku yakin, di atas gerbong hatimu tidaklah utuh. Tentu separuh nuranimu tertinggal di sini. Berserak di atas puing rumah kami. Mungkin pula ikut membara menahan geram atas kesewenangan yang kami terima. Dengan anggapan ini, harapanku untuk membawamu kembali kesini makin besar. Aku pun makin bersemangat menyusulmu dengan kereta berikutnya, dengan kereta yang lebih kencang, dengan kereta yang tak mempan macet!
@@@
Lelaki berseragam mengumpulkan kami di ruang terbuka, karena tak betah berada di salah satu ruang tamu gubuk kami. Satu bulan lagi kami harus mengosongkan rumah, gubuk atau apa pun namanya. Membawa pergi semua milik kami, menjauh dari sini. Membawa segala kekumuhan kemana pun semampu kami asal tidak lagi berada di kawasan ini, kawasan rel tak bertuan, kami menamakannya demikian sebab rel yang mengarah ke pelabuhan ini tak lagi digunakan, jalurnya memang telah ditutup.
Kapan persisnya rel itu tak digunakan lagi aku nggak tahu, yang pasti sejak aku diboyong ayah dari desa yang dilanda paceklik, aku langsung menempati gubuk yang ayah dirikan di samping rel berimpitan dengan rumah semi permanen yang lebih dulu berdiri di sebelah kami. Halaman rumah kami adalah dua buah rel yang selalu kami jadikan tempat duduk sambil menikmati sore dengan menangkap capung yang beterbangan,. Saat aku agak besar, maka rel ini kami jadikan tempat duduk untuk latihan nyanyi dengan gitar butut milik Iwan sebagai persiapan ngamen di alun-alun.
Rumah dan halaman yang berupa bekas rel itu memang telah mematri pikiran kami dalam kenangan yang tak mungkin terlupa. Rel yang telah tertutup tanah pada beberapa bagiannya yang disamping kanan kirinya ditanami singkong dan pisang oleh beberapa warga serta ditumbuhi rumput liar, memang telah membuat hati kami tak tergoyahkan untuk meninggalkan begitu saja. Apalagi bagi Iwan dan Surti, mereka yang tiap sore nongkrong bareng di rel, yang tiap malam menyanyi bersama di dekat rumpun pisang, dan akhirnya menikah, jelas memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan rumah kami. Mereka jelas tak rela jika segala kenangan manisnya dirampas begitu saja.
Konon, menurut cerita Pak Joyo, cerita ini baru aku dengar setelah ada perintah pengusiran kami, dulu tanah yang kami tempati ini penuh dengan rumput liar setinggi orang dewasa dan tanaman liar lain. Jika malam tiba, maka tempat ini menjadi sangat angker, gelap tanpa penerangan, cocok sebagai tempat sembunyi penjahat kelas teri yang lari dari kejaran orang. Tempat ini juga dijadikan WTS kelas teri menari-nari melayani pembeli dari kalangan bawah.
Oleh Pak Joyo, beberapa bagian tanah ini dibersihkan dari rumput liar untuk dijadikan sebagai tempat istirahat di sela-sela kegiatannya mencari rongsokan. Lama-lama, di tempatnya istirahat itu ia dirikan gubuk. Sebagai pemulung, mudah saja ia membuat gubuk dari kardus bekas dan beberapa potong kayu bekas pula. Keadaan ini dibiarkan saja oleh PT KAI, hingga akhirnya kini telah berdiri puluhan gubuk dan rumah semi permanen di sana.
Atas jasa mengubah lingkungan menjadi lebih beradab inilah, maka orang-orang, terutama Pak Joyo tak rela melepas begitu saja tanpa ada ganti rugi yang memadai. Telah bertahun-tahun mereka merawat tempat ini.
Sedangkan lelaki berseragam sebagai pihak yang merasa berhak atas tanah yang telah ditempati warga meminta mereka dengan sukarela meninggalkan begitu saja. Masih untung dia tak menarik uang sewa atas tanah yang telah ditempati bertahun-tahun secara sepihak tanpa minta ijin pada yang punya.
Tarik ulur dan silang pendapat pun berubah menjadi pertengkaran yang menakutkan. Masing-masing pihak ngotot dengan sikapnya. Aku sendiri sejak peristiwa itu menjadi pihak yang serba salah dan serba susah Di mata warga, aku adalah antek-antek pihak KAI karena aku kerja di stasiun. Kini setiap gerak-gerikku dicurigai. Setiap langkahku diikuti, setiap omonganku dicemooh. Bagi pihak KAI, aku dianggap kian tak berguna karena tak bisa membantu meyakinkan warga untuk angkat kaki dari lokasi. Bahkan aku dianggap telah ikut memprovokasi warga agar melawan sekuat tenaga. Aku dianggap takut karena kalau warga pergi, aku pun pasti ikut terusir.
Di tengah kekalutan ini muncullah Saksi. Entah dari mana datangnya, ia begitu saja muncul dan akrab denganku. Yang jelas dia bukanlah tipe gadis dari kalangan kumuh seperti kami, terlihat dari sikap dan tutur katanya. Di mataku, ia terlihat lebih pintar daripada kami semua.
Kami menerima Saksi, sebagai satu-satunya orang asing di sini. Dia datang dan pergi begitu saja tiap hari. Tak ada jadwal yang tetap. Kadang di pagi buta, siang terik atau sore yang melelahkan dan bahkan malam mencekam di tengah minimnya penerangan. Kami tak peduli dengan datang perginya, yang kami rasakan adalah dia cepat akrab dan bebas keluar masuk rumah di sini.
Saat aku di rumah, ia sering menemaniku ngobrol. Apa saja sepertinya bisa ia jadikan bahan obrolan, dari hal serius hingga hal yang menyangkut esek-esek. Kami menjadi sangat akrab, apalagi untuk ukuran orang yang baru kenal.
Kata-kata dan pikiran Saksi mulai merasukiku. Dengannya aku merasa sebagai kerbau dicocok hidungnya. Aku lebih sering mengangguk saat ia berkata, aku lebih sering tersenyum saat ia tertawa.
Hingga dalam hatiku kini muncul pengakuan aku telah salah menempati tanah yang bukan hakku. Tetapi, kalau kami harus pergi begitu saja dari sini, maka dipastikan akan bertambah jumlah gepeng di kota kami. Aku pun akhirnya tetap berharap PT KAI mau sedikit lagi berbaik hati memberikan ganti untuk bangunan kami agar bisa kami gunakan untuk mencari tempat tinggal yang baru.
Atau pulang kampung? Seperti yang pernah aku utarakan kepada ayahku atas saran Saksi. Namun bukannya ayah senang karena bisa kumpul dengan sanak saudara, ayah malah marah tak karuan. ”Mau hidup dengan cara apa di desa? Menanam jagung di tanah kering dan tandus? Kerja di pabrik, mana ada pabrik di desa? Mencari rongsok, orang kampung nggak pernah punya barang bekas, mereka akan menggunakannya hingga kelelahan dan mati! Nggak ada yang bisa jadi uang di sana! Mau menggantungkan perut kita pada sanak saudara? Menanggung perut keluarga sendiri saja mereka kepayahan! Tahu apa kau tentang desa?”
Aku memang nggak tahu kehidupan desaku yang sebenarnya, karena aku diboyong ayah saat belum bisa cebok sendiri sehabis buang air. Jadi aku diam saja tak mampu menjawab.
”Disini sampah saja bisa jadi uang! Asal punya kemauan kau bisa mendapatkan uang untuk makan! Nggak sekolah pun kau bisa kerja!” Ya, aku memang nggak pernah sekolah. Hanya karena kebaikan hati seorang pegawai stasiun maka aku bisa kerja di stasiun membersihkan WC umum dan pelataran peron. Kebetulan Yanto yang biasa membersihkan WC dan peron pindah ke tempat lain dan karena tiap hari aku ada di stasiun dengan Yanto, maka aku pun langsung disuruh menggantikannya dan untuk pekerjaan ini aku nggak perlu baca tulis.
Malam itu Saksi datang tepat ketika kereta Argo Bromo melintas. Ia menawarkan diri untuk merebus pisang yang ia bawa. Ia sibuk sendiri di dapur –meski tak layak disebut dapur- dengan kompor gas elpiji melon pembagian pemerintah. Aku duduk di depan rumah menunggu pisang dan minumannya masak. Saksi melarangku membantunya. Kebetulan, pikirku.
Kemudian kami menghabiskan malam dengan ngobrol tentang kemungkinan kami pindah sukarela dari sini. Aku sendiri telah pasrah kalau memang harus pindah, tetapi aku katakan juga kalau tak satu pun warga yang sependapat denganku. Dan aku tak bisa membujuk mereka.
Kopi kental dan pisang rebus ternyata mampu menghangatkan angin malam yang bertiup agak kencang. Bahkan kantuk pun enggan menyergap. Tapi aku sangsi itu disebabkan kopi dan pisang rebus, ada hal lain yang menyebabkan malam terasa hangat, aku kira hatiku berkata bahwa Saksilah yang membuat semuanya menjadi hangat. Suaranya, tawanya, dan lagaknya yang khas perempuan membuat kulitku mampu melupakan dingin, mataku melupakan kantuk, dan hatiku melupakan penat.
Beberapa kali Saksi bolak-balik menjerang air panas, hingga ketika fajar merekah, saat aku tak sanggup lagi membuka mata dan telinga lebar-lebar karena kelelahan tak lagi bisa ditipu, aku mendengar bunyi peluit keras disusul percikan api dan kehangatan berubah menjadi panas. Api membesar. Melahap apa pun yang ada dalam jangkauannya.
Aku panik.Aku tak mampu berpikir dan bertindak dengan cepat. Aku ragu untuk berbuat ini itu, aku hanya mondar-mandir. Ketika semua telah menjadi puing, warga mulai marah menuduh akulah penyebab kebakaran yang memusnahkan semua rumah disini. Aku sulit berkelit.
Kucari Saksi untuk bersaksi, ternyata ia telah berdiri di stasiun seperti tengah menunggu kereta. Tetapi tubuhnya sama sekali tak terlihat tenang, kedua tangannya saling menggenggam, kakinya terus bergerak, kadang berdiri dengan ujung jarinya, lehernya menjulur. Akan kemana ia? Segera aku mengambil langkah seribu, diburu lengkingan peluit!
Tegal, Maret 2o1o
Tidak ada komentar:
Posting Komentar