Cari Blog Ini

Senin, 24 Mei 2010

Minah, Ibu yang Durhaka



Oleh: Lumaksono


Pagi itu aku terbangun lebih awal dari biasanya dan bukan azan subuh yang membangunkanku saat itu. Akan tetapi, suara tangis bayi yang terdengar sayup-sayuplah yang telah menggelitik telingaku. Ketika aku kian terjaga, tangis bayi itu semakin jelas terdengar. Ya, dari balik dinding kamarku yang bersebelahan dengan rumah Minah itulah asal tangis bayi yang telah menerbitkan rasa heranku. Samar-samar kudengar pula suara beberapa wanita. Tetapi, bayi siapa? Apa ada yang baru melahirkan? Kalau memang ada yang melahirkan, siapa? Selama ini aku tak melihat seorang wanita pun hamil di rumah Minah.
Sejenak, rasa heran dan penasaranku terabaikan ketika aku dengar azan subuh memanggil. Segera saja aku bangkit menuju kamar mandi yang dipakai bersama dengan keluarga Minah. Rumah kami memang sangat sempit dan berhimpitan dengan yang lain. Apalagi rumah Minah yang hanya memiliki sebuah kamar tidur dan satu ruang lain yang mungkin lebih tepat disebut ruang serba guna. Sehingga untuk sumur dan kamar mandi terpaksa harus menumpang di rumah kami.
Kini aku makin tercengang dan tak habis pikir, ternyata tangis bayi itu adalah bayi Minah! Tetapi bagaimana mungkin ia melahirkan? Sedangkan selama ini aku tak melihat ia mengandung. Bahkan suami pun ia sudah tak punya sejak beberapa tahun lalu. Memang selama ini aku perhatikan, Minah selalu mengenakan daster yang longgar. Dengan tubuhnya yang kurus, mungkin sekali ia menyembunyikan perutnya di balik daster itu. Hanya saja satu pertanyaan yang masih mengganjal adalah, mengapa semua orang di rumah ini tak ada yang tahu? Padahal, sebagai wanita yang telah berpengalaman hamil dan melahirkan, seharusnya ibuku dan tetangga yang lain bisa mengetahui kalau Minah hamil. Mungkinkah mereka semua sengaja berdiam diri?
Berita tentang Minah yang melahirkan kini telah menyebar ke setiap sudut dan menjadi topik hangat dalam setiap obrolan warga kampung kami. Dan aku yang masih punya hubungan darah, menjadi sangat malu. Di antara mereka, banyak yang bertanya siapa ayah bayi yang telah dilahirkan Minah. Karena tak ada jawaban yang pasti, maka orang pun hanya menduga-duga saja mengenai siapa ayah bayi yang sebenarnya. Ada yang mengira kalau sebenarnya Minah masih berhubungan dengan suaminya yang telah lama meninggalkannya itu. Ada pula yang mengira kalau bayi Minah adalah hasil hubungan gelapnya dengan pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Dan beberapa kira-kira lain yang tak pasti kebenarannya. Akan tetapi, hal yang paling diributkan dan paling mencengangkan mereka adalah kerapian Minah menyembunyikan kehamilannya.
Dua hari kemudian kami dibuat geger lagi, pagi sebelum subuh, Minah meninggalkan rumah dengan membawa serta bayi merahnya. Kepergian Minah juga menimbulkan berbagai tanya. Hendak kemana ia? Mungkinkah ke tempat ayah bayinya? Akankah kepergiannya kali ini sama seperti kepergiannya dulu? Semua hanya bisa menduga. Yang pasti, sejak kepergiannya, ibuku menjadi lebih repot karena harus mengurus dua anaknya yang ditinggalkan begitu saja. Dua anak yang masih kecil-kecil dari hasil perkawinannya yang lalu. Anak-anak yang tak lagi mendapat belaian lembut seorang ibu, apalagi kasih sayang seorang ayah.
* * *
Kehidupan Minah menjadi sulit sepeninggal suaminya beberapa tahun lalu. Dengan beban tiga anaknya yang masih kecil, ia memang pantas untuk merasa sakit hati terhadap lelaki yang telah menelantarkannya begitu saja. Ketika ia berharap ada lelaki lain yang mau menjadi gantungan hidupnya, ia pun terpaksa harus mau menerima nasib terjerembab ke dalam penderitaan hidup yang makin menanamkan kebencian terhadap lelaki yang menjadi ayah anak-anaknya. Kebencian ini berimbas kepada anak-anaknya yang tak berdosa.
Selama ini aku perhatikan anak-anak Minah tidak mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari Minah sebagai ibu kandungnya. Mereka lebih banyak dimarahi daripada disayangi. Mereka lebih banyak ditelantarkan daripada diperhatikan. Sebagai wanita yang tidak punya pekerjaan tetap, dan harus menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, tentu sangat berat rasanya. Dan beban berat ini telah menjadi labirin pekat yang menghalangi cahaya kasih sayang di hatinya.
Untuk memenuhi segala keperluan anaknya, Minah mengandalkan bantuan ibuku. Bahkan, untuk makan mereka pun, sering hanya tergantung kepada periuk ibuku. Untunglah, ibuku sudah tidak mempunyai tanggungan lagi, karena aku sendiri tidak melanjutkan ke perguruan tinggi selepas STM. Dan soal makan, anak-anak Minah pun tidak begitu rewel. Mungkin mereka merasa sudah beruntung dapat makan setiap hari.
Minah sendiri sudah putus asa mencari ayah mereka. Ia menganggap suaminya yang tak punya rasa sayang kepada anak-anaknya, juga kepada dirinya, tak mungkin lagi diharap kepulangannya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia telah memvonis mati terhadap suaminya.
Suaminya seorang tukang becak dari kota tetangga, yang biasa mangkal di perempatan jalan dekat rumah kami. Saat menikahi Minah, ia hanya membawa tubuh gempalnya dan segenap janji cinta. Hati Minah yang tengah berbunga-bunga, langsung menerima tanpa syarat apa pun. Bahkan sekadar mengorek asal-usulnya pun tak lagi sempat ia tanyakan. Harapan akan manisnya buah cinta membuat Minah terlena.
Tidak menunggu lama, dari rahim Minah keluar satu persatu buah cinta mereka. Anak-anaknya muncul ke dunia seperti gerbong kereta, susul-menyusul seakan tergesa-gesa, anaknya lahir setiap tahun. Anak pertama, sebagai lokomotif, lengkingan tangisnya disambut dengan suka cita. Anak keduanya disambut biasa saja, sedangkan anak ketiganya dianggap sebagai beban yang hanya memberatkan. Sehingga ia tak pernah mendapatkan sambutan hangat seperti yang lain.
Ternyata, ketiga balita Minah telah membuat semuanya berubah. Suami Minah yang dulu selalu menggebu-gebu dengan cintanya, kini mulai enggan pulang. Untuk itu, dengan alasan mencari lahan baru, ia pindah pangkalan ke tempat yang katanya lebih ramai walaupun itu sangat jauh dari rumah. Hal ini membuat ia lebih jarang pulang ke rumah. Kalau dulu ia setiap saat bisa pulang untuk menengok Minah, kini ia hanya pulang saat hari telah larut. Akan tetapi kepulangannya yang larut ini tak membawa serta hasil yang lebih banyak. Uang belanja Minah semakin mepet dengan kebutuhan yang semakin meningkat karena hadirnya tiga balita. Hal ini membuat Minah kesal dan menjadikan suasana rumah tangga menjadi tidak nyaman.
Lama-lama, suami Minah tidak hanya pulang larut, tetapi pulang beberapa hari sekali dan akhirnya ia tak lagi pernah menginjakkan kakinya di rumah. Suami Minah pergi begitu saja tanpa pesan. Dan kepergiannya yang tanpa pesan ini telah membuat hati Minah semakin kesal. Sebab hal ini membuat Minah harus bekerja keras mendapatkan rupiah untuk menghidupi ketiga anaknya. Kadang kekesalan Minah ditumpahkan kepada anak-anaknya yang tak berdosa, dengan segala caci maki dan sumpah serapah yang membuat hati siapa pun merasa iba. Sering pula anak-anaknya diusir pergi untuk menyusul ayahnya yang entah berada dimana.
Suatu hari Minah menghilang! Ia membawa anak ketiganya yang masih balita dan pergi begitu saja. Seakan-akan ia hidup sebatang kara sehingga tak seorang pun yang diberi tahu. Minah lenyap seperti tertelan bumi, ia hilang seperti debu melayang diterbangkan angin. Tak ada yang bertanya-tanya kemana ia pergi, tak ada lagi yang merasa kehilangan. Kecuali ibuku, sebagai orang yang punya hubungan darah dengan Minah, sebagai orang yang merasa berkewajiban memelihara anak-anak Minah, beliau selalu berharap agar Minah muncul memberitahu keberadaannya.
Matahari telah berulang kali muncul di ufuk timur semenjak Minah meninggalkan kami. Dan lembaran kalender yang tergantung di dinding telah berganti halaman berkali-kali. Kedua anak Minah mulai melupakan ibunya, tak pernah lagi mereka bertanya-tanya kemana ibunya pergi. Hanya sesekali mereka menanyakan adik bungsunya. Mungkin di hati mereka merasa tak ada bedanya antara hidup dengan atau tanpa ibu. Bahkan, sepertinya mereka lebih suka jauh dari ibunya daripada berada di sampingnya tetapi hanya menjadi pelampiasan kekecewaan Minah.
Anak-anak Minah menjadi yatim piatu secara terpaksa. Terpaksa mereka menerima status itu karena kenyataannya, mereka tak lagi punya ayah walaupun mungkin ayahnya masih hidup. Mereka tak dapat lagi dikatakan punya ibu, karena memang mereka tak pernah lagi merasakan kasih sayang seorang ibu.
Suatu ketika Minah muncul kembali di antara kami. Hampir tak ada perubahan yang cukup berarti dalam diri Minah, kecuali ia menjadi agak asing bagi kami. Ia pulang sendiri! Dan yang membuat aku agak heran, ia sama sekali tidak menampakkan wajah menyesal karena telah menelantarkan anaknya begitu lama, atau malu karena ia telah mangabaikan anak-anaknya. Ekspresi wajahnya biasa-biasa saja. Bahkan saat anak-anaknya merasa canggung karena lama tak bertemu, ia pun ikut-ikutan canggung dengan membiarkan keadaan berjalan apa adanya, tanpa berusaha sedikit pun menarik hati mereka.
Satu hal yang membuat kami semakin heran dan bertanya-tanya adalah: Kemana anaknya yang dulu ia bawa serta pergi meninggalkan kami? Terhadap pertanyaan ini Minah menjawab, “Aku serahkan kepada ayahnya! Biar dia merasakan bagaimana repotnya mengurus anak kecil!”
Tetapi ketika ibuku mendesak ingin tahu keberadaan ayahnya, ia tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Bahkan ketika ibuku menanyakan dimana ia selama ini tinggal, ia seakan takut kalau kami jadi tahu. Sehingga ia tak pernah mau mengatakannya. “Aku memang tahu rumahnya, tetapi tidak tahu apa nama jalan dan apa nama kampungnya!” Jawaban yang menurutku terlalu mengada-ada, bagaimana mungkin ia tak tahu nama kampung suaminya jika memang ia kesana?
Pribadi Minah tampaknya semakin diselimuti awan tebal, hingga kami tak mampu melihat dirinya dengan terang. Rupanya kesulitan hidup dan kekecewaan terhadap laki-laki yang dicintainya telah membuat ia menutup diri.
Hari-hari berikutnya, Minah tak terlihat suka dengan kedua anaknya, tetapi sebaliknya ia justru terlihat benci dengan mereka. Apalagi jika diperhatikan, wajah kedua anaknya itu betul-betul mirip dengan ayahnya. Sehingga bisa jadi setiap melihat mereka, yang terlintas dalam benak Minah adalah kekurangajaran suaminya. Kepengecutan suaminya yang telah menelantarkan ia dan anak-anaknya.
Sampai akhirnya aku dibuat terkejut, mungkin juga tetangga yang lain ketika suatu pagi Minah melahirkan bayi.
* * *
Minah yang menghilang bersama bayi yang baru dilahirkannya, muncul kembali. Tetapi ia hanya sendiri. Saat ditanya kemana bayinya, ia bungkam. Kalaupun menjawab, jawabannya berputar-putar membuat pusing yang mendengar. Akhirnya masing-masing orang hanya bisa menduga. Dugaan-dugaan ini hanya menghiasi kepala kami, karena tak satu pun di antara kami yang tahu dengan pasti dimana bayi Minah berada. Minah yang jarang bergaul dan pendiam itu membuat segalanya menjadi tidak jelas.
Terhadap isu-isu ini Minah tidak terlalu bereaksi. Bahkan dirinya kelihatan tenang. Tak sedikit pun tergambar di wajahnya rasa malu atau penyesalan. Ia tetap diam. Mungkin benar juga apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang dugaan yang terjadi dengan bayinya itu, sehingga Minah merasa tidak perlu menyangkal atau sekadar memberi komentar.
“Aku ingin kau jawab sejujurnya, sebenarnya kau bawa kemana bayimu?” akhirnya ibuku menginginkan kepastian jawaban Minah.
“Sudahlah, untuk yang ini jangan ikut campur!” Minah menjawab dengan nada marah dan gusar. Atau mungkin dapat dikatakan dalam suaranya terdengar nada ketakutan terhadap pembicaraan ini.
“Tidak bisa! Dulu anakmu kau bawa pergi dan tak kembali, sekarang bayi yang tak jelas ayahnya juga tak kembali! Ibu macam apa kau ini?” tampak ibuku mulai marah, “Atau jangan-jangan benar apa kata orang, kalau kau telah menjual kedua anakmu itu?!”
Tak ada jawaban meluncur dari bibir Minah, hanya matanya berkaca-kaca.


Tegal, Agustus, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar