Oleh: Lumaksono
Wajah Nala Gareng terlihat agak gusar, ia berjalan mondar-mandir sambil mengacung-acungkan jarinya di atas kepala seperti menunjuk-nunjuk langit. Sesekali dari mulutnya terdengar kata tak jelas, “Wuish ..bjah…bleh…pfef!” Berkali-kali bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tetap saja yang keluar hanya suara-suara aneh tak beraturan. Seakan-akan di kepalanya penuh kata-kata yang berebutan keluar sehingga malah mampet. Semakin dipaksakan, semakin sulit saja rasanya. Nafasnya pendek-pendek sehingga tampak tersengal-sengal.
Melihat Gareng seperti diserang sawan, Petruk cukup tanggap, segera saja ia ambilkan air . Setelah menenggak air kendi yang cukup dingin, barulah Gareng sedikit tenang sehingga bisa bersuara. “Tidak!” Pendek memang kata-katanya, tetapi itu sudah cukup untuk mengutarakan maksudnya. Kemudian ia melanjutkan lagi, “Wasiat tidak boleh dilanggar! Nanti para Dewa marah, bisa kualat kita!” Rupanya air kendi pemberian Petruk benar-benar berkhasiat, sehingga Gareng dapat lancar bicara tanpa kesalahan.
Petruk dan Bagong yang sedari tadi ribut kini terdiam. Entah karena takut dengan apa yang dikatakan Gareng atau heran melihat Gareng dapat bicara lancar. Sedangkan Ki Lurah Semar tetap pada sikapnya. Menunggu. Dengan sikap bijak, ia membiarkan ketiga anaknya mencari solusi yang tepat hingga keadilan tetap dapat ditegakkan. Memang cukup pelik situasi yang dihadapi oleh ketiga anak Semar itu. Akan tetapi ia yakin bahwa wasiat yang ditinggalkan oleh Raden Abimanyu yang gugur di medan perang karena dikeroyok prajurit Kurawa tidak mungkin ditulis sembarangan. Pastilah ada maksud tersembunyi dibalik surat wasiat yang ditulis sesaat sebelum berangkat perang.
“Tetapi Kakang Gareng,” Petruk mencoba angkat bicara dengan gaya seorang yang bijak ia berkata pelan dan hati-hati, “sangat jelas kalau wasiat itu tak mungkin dilaksanakan apa adanya. Harus ada perubahan, perlu modifikasi sedikit tanpa merugikan siapa pun!”
“Memangnya kereta kuda, perlu dimodifikasi! Sudah, katakan saja langsung tak usah berbelit-belit pakai istilah luar negeri segala!” Bagong menyela kata-kata Petruk.
“Dengarkan dulu, aku belum selesai bicara!” Petruk terlihat agak kesal, “kita tak mungkin melakukan pembunuhan hanya gara-gara ingin melaksanakan apa yang tertulis dalam surat wasiat Raden Abimanyu. Aku pun yakin junjungan kita tak mungkin menginginkan hal itu terjadi.”
“La..la…lalu ..akan kau apakan? Apa usulmu? Katakan saja terus terang!” Gareng merasa tak sabar juga menanti apa usulan Petruk.
Sebelum meninggal, Raden Abimanyu memang menuliskan sebuah surat wasiat yang ditujukan khusus untuk ketiga pengikutnya yang setia. Kuda-kuda dalam istal milik Raden Abimanyu yang berjumlah sembilan belas, semuanya diwariskan kepada Gareng, Petrukl dan Bagong. Semuanya adalah kuda yang gagah, kuda idaman tiap prajurit untuk dijadikan kendaraan perang. Sehingga sang pewaris merasa bertanggung jawab terhadap kondisi kuda-kuda tersebut.
Namun, persoalan tidaklah terletak pada bagaimana merawat kuda-kuda itu agar tetap dalam keadaan yang bagus. Akan tetapi, pada pembagian jumlah kuda yang harus diterimakan masing-masing pewaris.
Dalam surat wasiat disebutkan bahwa Nala Gareng mendapatkan setengah dari jumlah kuda. Petruk mendapatkan seperlima, dan Bagong memperoleh seperempat bagian. Seandainya yang diwariskan adalah tanah, maka hal itu tidak menimbulkan persoalan bagi mereka. Tetapi yang diwariskan adalah kuda! Sesuatu yang harus utuh satuannya. Jelas tidak mungkin jika Gareng nantinya akan menerima kuda sebanyak sembilan setengah ekor! Tidak mungkin memotong-motong tubuh kuda untuk dibagikan sebagai harta warisan.
“Agar mudah dan adil, bagaimana kalau untuk Kang Gareng tujuh ekor, sementara untuk kami masing-masing enam ekor!” Petruk mengusulkan pembagian yang mudah dengan jumlah yang hampir merata. Namun, hal itu tentu saja diprotes Gareng sebagai pihak yang dirugikan dengan jumlah perolehan yang jauh lebih sedikit. Apalagi hal itu jelas-jelas menyalahi isi surat wasiat.
“Tidak, itu memang mudah, tetapi sama sekali tidak adil!” Gareng protes.
“Tetapi, hal itu justru lebih terasa adil, sebab jumlah yang kita peroleh hampir sama!” Bagong mendukung usulan Petruk. Tentu saja ia sangat mendukung sebab jika usulan Petruk diterima, maka ia akan mendapatkan kuda lebih banyak daripada yang tertulis dalam surat wasiat.
“Keadilan itu tidak terletak pada kesamaan jumlah, tetapi yang sesuai dengan yang memang seharusnya diterima!” Gareng kelihatan kurang suka.
“Atau Kakang Gareng lebih suka memotong-motong kuda itu agar pembagiannya tepat! Bukankah itu berarti kita telah mengkhianati Raden Abimanyu karena membunuh kuda kesayangannya?” kali ini giliran Bagong yang kelihatan kesal.
Melihat kenyataan kalau usulnya tidak akan diterima, Petruk mulai berpikir kembali mencari jalan lain agar kuda-kuda itu dapat segera dibagikan. Sebab sudah lama juga ia ingin memiliki kuda yang gagah untuk dijadikan tunggangan. Tetapi melihat kenyataan ini, pembagian yang sangat sulit untuk dilaksanakan, maka ia mengesampingkan keinginannya untuk memiliki kuda yang gagah. Sebaliknya, di kepalanya muncul gagasan untuk menjual saja semua kuda yang diwariskan dan uang hasil penjualan itu yang akan dibagikan. Hal ini tentu lebih mudah dilaksanakan dan akan dapat dibagi dengan tepat.
“Bagaimana kalau kita jual saja kuda-kuda itu?”
“Betul, aku sangat setuju! Pikiranmu memang hebat, Truk!” dengan cepat Bagong menyela pembicaraan Petruk.
“Aku kira Kakang Gareng juga pasti setuju, sebab ini adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk membagi kuda itu. Setuju kan?” Dengan gaya seorang salesman unggul, Petruk berusaha mempengaruhi pikiran Gareng dengan memberi pertanyaan menjebak. Tetapi jawaban yang diterima betul-betul tidak sesuai dengan yang diharapkan.
“Setuju? Tentu saja tidak!”
“Ini nggak setuju, itu nggak setuju. Terus apa maunya? Apa Kang Gareng punya usulan yang lebih baik?” Petruk kelihatan sangat kesal dengan sikap Gareng yang terus menolak usulan-usulannya.
Bukan hanya Petruk, Bagong pun kelihatan mulai tidak menyukai sikap Gareng yang selalu menolak usulan Petruk. Padahal, ia sangat ingin segera membawa pulang kuda-kuda warisan dari Raden Abimanyu. Ia sudah tak sabar lagi untuk memilikinya.
“Coba kalian lihat dan baca lagi baik-baik surat wasiat ini, sangat jelas tertulis kalau kuda itu diwariskan kepada kita untuk dirawat dan dipelihara, bukan untuk dijual!”
“Walaupun dijual, toh kita masih bisa menyuruh pembelinya untuk merawat dan memeliharanya, sama saja kan?”
“Tidak…! Tidak! Bukan sama…! Tidak sama…, bukan!” Gareng tampak kesulitan bicara lagi, pertanda emosinya sedang meluap. “Raden Abimanyu menghendaki kita yang merawat, bukan orang lain! Itulah sebabnya kuda-kuda ini diwariskan kepada kita, bukan kepada yang lain! Karena memang kitalah yang dari dulu merawatnya! Kita diberi kepercayaan, jangan sampai mengkhianati kepercayaan itu!” Dada Gareng tampak kembang kempis, nafasnya memburu.
“Atau…, jangan-jangan Kang Gareng punya maksud untuk menguasai semua kuda itu dengan cara mengulur-ulur waktu pembagian!” Bagong mulai kehilangan kesabarannya sehingga berprasangka yang bukan-bukan.
“Eit, jangan sembarangan ngomong ya! Tubuhku memang jelek, mungkin lebih jelek dari kalian, tetapi hati dan pikiranku tak sejelek kalian! Justru kalianlah yang ingin bertindak curang dengan menghendaki pembagian yang lebih besar daripada isi surat wasiat. Kalian juga ingin menjual kuda yang gagah-gagah ini dengan harga yang tentu sangat murah! Puih….!” Terlihat emosi Gareng mulai meninggi.
Sebelum kedua adiknya berbicara, Gareng sudah menyambung kata-katanya lagi, “Kalian juga tidak tahu malu! Jenazah Raden Abimanyu baru saja diperabukan, arwahnya mungkin saja baru terbang menuju nirwana, e..ee… kalian sudah ribut ingin cepat-cepat membagi warisan! Dasar mbelgedess!”
“Oi..! Enak saja menuduhku curang! Aku hanya menawarkan pembagian yang lebih mudah, sama sekali tidak punya niat lain! Dan wasiat itu memang harus segera dilaksanakan sebelum kuda-kuda dalam istal itu hilang dicuri Kurawa yang kelihatannya sangat ingin memilikinya! Dan lagi, kalau tidak cepat dibagi, siapa yang akan mengurusnya? Kau akan mengurus kuda yang mana dan aku mengurus kuda yang mana? Ingat Kang Gareng, kuda-kuda itu lain keadaannya dengan saat Raden Abimanyu masih hidup, yang akan kita beri makan bersama-sama karena semua milik beliau! Tetapi sekarang semua tahu kalau kuda-kuda itu milik kita bertiga! Apa kau mau memberi makan kuda yang menjadi bagianku?” Petruk berceramah panjang lebar.
Dan seperti sebelumnya, Bagong pun tak mau ketinggalan untuk memperkuat kata-kata Petruk. “ Betul apa yang dikatakan Petruk, kita harus cepat membaginya agar kita bisa merawat kuda-kuda tersebut dengan lebih baik. Raden Abimanyu tentu tidak menginginkan jika kuda-kudanya yang telah dipercayakan kepada kita akhirnya terlantar juga!”
“Itu hanya alasan kalian saja! Aku tahu kalian sangat pandai bersilat lidah! Kan kita masih bisa merawat kuda-kuda itu sama seperti dulu. Kita beri makan dan kita rawat bersama-sama!”
Perdebatan mereka tak berkesudahan. Bahkan tampaknya masing-masing pihak mulai menanamkan kecurigaan. Mulai timbul bibit-bibit prasangka di antara mereka. Kerukunan yang mereka perlihatkan selama ini seperti tidak tampak lagi. Harta telah membutakan mata hati mereka. Bahkan sepertinya tak terlintas sama sekali di hati mereka untuk menanyakan persoalan itu kepada ayah mereka, Semar, yang sedari tadi memang hanya membiarkan mereka.
“Ah, tidak mungkin kita bisa merawat kuda-kuda itu bersama. Dari dulu kau selalu malas kalau mencari rumput! Selalu saja punya alasan. Capai, nggak kuat, pusing dan sebagainya. Akhirnya, aku juga yang harus mencari rumput untuk kuda-kuda itu tiap hari!” Petruk mulai membuka kejengkelan hatinya yang lama terpendam.
“Kau pun tidak pernah memandikan kuda-kuda itu. Baru memandikan seekor saja langsung pura-pura kedinginan! Apalagi Bagong, yang tak pernah mau membersihkan kandang! Tak pernah mau membuang kotoran kuda!” Gareng pun tak mau ketinggalan membeberkan kekurangn kedua saudaranya itu.
Tampaknya, dalam perselisihan ini Gareng sendirian melawan Petruk dan Bagong yang kelihatannya bersekongkol. Dan persekongkolan ini terlihat ketika secara tiba-tiba mereka berdua hendak menyerang Gareng. Untunglah, pada saat yang tepat Ki Lurah Semar bertindak tepat dengan melerai mereka. Sehingga tidak sempat terjadi perkelahian yang mungkin saja mengakibatkan sesuatu yang lebih buruk.
“Sudah…!Sudah! Tak usah diteruskan. Kalian betul-betul tak tahu malu! Sesama saudara sendiri mau berkelahi hanya karena surat wasiat! Sekarang bubar! Besok kita bertemu kembali dan akan aku bagikan dengan adil sesuai dengan isi surat wasiat itu!” Suara Semar yang cukup berwibawa, membuat mereka patuh menuruti perintahnya. Apalagi saat itu wajah Semar terlihat seperti orang mati, pertanda ia benar-benar sedih, melihat kelakuan ketiga anaknya.
* * *
Semar bingung juga menghadapi persoalan ini. Sebenarnya ia juga belum tahu harus diapakan kuda-kuda itu. Ia juga tidak tahu bagaimana cara membaginya agar memuaskan semua pihak. Malam ini Ki Lurah Semar tidak bisa tidur karena harus memikirkan jalan agar isi surat wasiat Raden Abimanyu dapat terlaksana. Ia pun memutuskan untuk bersemadi memohon petunjuk.
Keesokan paginya, wajah Semar terlihat putih bersih, mencorong seperti bulan purnama, benar-benar ia seorang Badranaya! Satu pertanda kalau ia sedang gembira. Tentu saja ketiga anaknya pun ikut gembira melihat wajah Sang Rama. Dengan berharap-harap cemas, Gareng, Petruk dan Bagong duduk bersimpuh di hadapan Semar menanti apa yang akan dikatakannya.
“Anak-anakku, berdasarkan petunjuk yang telah aku terima dalam semadi semalam, hari ini kuda-kuda warisan itu akan dapat segera dibagikan!”
Baru mendengar kata-kata ini, ketiga anak Semar itu kontan berteriak-teriak kegirangan. Bahkan mereka ekspresikan kegirangannya dengan melompat dan menari-nari di hadapan Ki Lurah Semar. Melihat tingkah nereka, Semar hanya geleng-geleng kepala.
“Hei..! Diam dan dengarkan dulu baik-baik! Aku belum selesai bicara!”
“Baik Rama…!” suara mereka terdengar sangat kompak sebagai tanda sedang gembira hatinya.
“Kalian tahu kuda milikku satu-satunya yang ada di istal?”
“Tahu Rama…memangnya ada apa dengan kuda jelek itu?” Bagong terlihat heran.
“Jumlah kuda Raden Abimanyu kan sembilan belas, sekarang aku tambahkan kudaku itu untuk dibagi juga. Sehingga jumlah kudanya menjadi dua puluh!”
Belum selesai Semar bicara, Bagong langsung memotong, “Tetapi kuda Rama kan jelek, aku tak mau mendapat bagian kuda yang itu!”
“Aku juga tak mau!” Gareng dan Petruk serempak bicara.
“Dengarkan dulu! Jangan suka memotong pembicaraan!”
“Baik, teruskanlah…!”
“Perhatikan baik-baik! Sekarang jumlah kudanya kan dua puluh, Gareng mendapat setengahnya, berarti mendapat sepuluh ekor! Petruk seperlima, berarti dapat empat ekor. dan Bagong seperempat bagian, berarti dapat lima ekor! Mengerti?”
“Jadi tak ada lagi kuda yang harus dibelah-belah, ya?”
“Tidak ada! Semuanya utuh!” tersungging senyum di bibir Semar. Begitu pula dengan Gareng, Petruk dan Bagong, mereka kelihatan puas. Tetapi, beberapa saat kemudian Petruk memegang keningnya, pertanda ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
“Kalau begitu, kuda yang terbagi hanya sembilan belas, persis jumlah kuda Raden Abimanyu. Lalu kuda milik Rama sendiri?”
“Karena kuda yang terbagi sembilan belas ekor, maka kudaku yang jelek dan tak ada yang mau, bisa aku ambil lagi! Betul kan?” Semar berlalu dengan senyum mengembang. Wajahnya kian bersinar saja layaknya bulan purnama karena titahnya telah memuaskan semua orang.
Tegal, Ujung 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar