Cari Blog Ini

Rabu, 28 April 2010

Dalam Badai


Oleh : Lumaksono


Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu pergi saat badai menderu meliuk-liukan pohon cemara di depan rumah? Sementara butiran hujan pecah berantakan sebelum mencapai bumi hingga menimbulkan kabut putih di udara menghalangi pandangan mata. Gelegar guruh ditingkahi kilat yang menyambar-nyambar membuat siapa pun pasti akan berpikir ribuan kali sebelum memutuskan untuk keluar rumah. Udara begitu dingin, membuat siang ini kian mencekam. Tak seorang pun kulihat melintas di jalan yang biasanya selalu ramai, hanya beberapa kendaraan roda empat yang terlihat menerobos badai.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 14.30, berarti telah lima belas menit aku terlambat dari janjiku untuk membangunkanmu. Kulihat wajahmu begitu tenang. Dalam tidur kau tampak makin cantik. Kulitmu terlihat lebih putih. Bibirmu tampak ranum walaupun tanpa lipstik. Rambutmu yang mulai agak panjang, sebagian menutupi kening.
Aku semakin tak tega membangunkanmu. Mungkin lebih tepat aku katakan kalau aku tak rela membuatmu terjaga dari tidurmu yang damai. Tak mungkin kau kubiarkan mengakhiri kenikmatan tidur siangmu meskipun aku telah berjanji untuk membangunkanmu sesuai pesanmu sebelum tidur. Sedangkan aku tak pernah sekali pun ingkar janji kepadamu. Tak pernah sekali pun aku tak memenuhi permintaanmu. Maafkan aku kalau untuk kali ini terpaksa aku ingkari janjiku. Maafkan aku, dan aku berharap ini yang pertama dan terakhir.
Aku tunggu lima belas menit lagi untuk membangunkanmu. Agar tak ada lagi kesempatan untuk datang sesuai dengan jadwal penerbangan. Dalam keadaan normal dan lalu lintas lancar, jarak ke bandara hanya memakan waktu tiga puluh menit. Tetapi dalam keadaan macet dan cuaca tak bersahabat seperti ini, mungkin akan memakan waktu hingga dua kali lipatnya. Kurasakan detik berjalan sangat lamban, bagaikan menunggu keong yang merambat di tanah berlumpur. Seperti tak bergerak sama sekali. Aku takut kau akan terjaga sebelum waktu yang aku inginkan tiba.
Suara petir menyambar dengan kerasnya di luar. Kulihat kau tetap tenang. Tuhan, tolong jangan bangunkan dia, tolong tulikan telinganya untuk sementara waktu agar dia tetap tenang dalam tidurnya. Kalau aku tak mampu untuk mencegahnya pergi ke Surabaya, maka Kaulah harapanku satu-satunya untuk menggagalkan niat putri tercintaku.
****
Sepuluh tahun aku menunggu benih cinta yang kutanam di ladang istriku tumbuh. Dalam penantian yang tak menentu, setelah melalui bermacam usaha, mulai dari pengobatan modern dalam dan luar negeri hingga pengobatan tradisional yang sama sekali tak masuk akal. Semua kami jalani demi mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah lelaki dan perempuan normal yang bisa membuahkan keturunan. Bukan manusia cacat yang tak punya daya untuk meneruskan trah.
Istriku pernah hampir putus asa hanya gara-gara tak kuat menahan sindiran atau cemoohan yang ditujukan kepada kami.
“Rumah sebagus ini akan tampak lebih indah jika ada anak kecil yang berlari-lari di sela-sela perabot mewah ini!” kata ayahku.
“Maaf, ibu lebih sering main ke rumah adikmu daripada ke rumahmu, sebab di sana ibu bisa main-main dengan cucu! Mereka lucu dan menggemaskan!”
“Dalam garis keturunan keluarga kita nggak ada, lho, yang gak punya anak! Bahkan ayah pernah bilang kalau kakek buyut kita punya anak yang sangat banyak, lebih banyak dari jari tangan kita!” Kata adikku saat ada arisan keluarga di rumahnya.
Awalnya istriku menanggapi biasa saja, tetapi lama-lama merah juga telinganya. Hingga suatu saat sambil terisak, ia mengatakan kalau ia rela dimadu bahkan dicerai, agar aku kawin dengan wanita lain dan punya anak seperti yang diinginkan keluargaku.
“Tidak mungkin itu!” aku jelas tegas menolak usulnya yang dipenuhi emosi. “Aku memang ingin punya anak dan aku rasa bukan hanya aku, tapi kita. Namun, aku hanya ingin punya anak yang lahir dari rahimmu. Anak dari indung telurmu, bukan yang lain!”
“Tapi, hampir sepuluh tahun, Mas! Aku lelah menggantung harapanmu!”
“ Kalaupun aku menikah lagi dengan perempuan lain, belum tentu aku bisa punya anak. Siapa tahu akulah biang keladinya!”
“Sudah jelas, aku anak tunggal, sedangkan Mas …keluarga Mas punya banyak anak. Saudara-saudara Mas semuanya punya lebih dari satu anak! Ini fakta, Mas!”
“Tetapi itu semua tidak menjawab pertanyaan, siapa yang kurang di antara kita?”
“Tapi aku sudah tak mampu mendengar omongan keluargamu, omongan tetangga bahkan omongan orang-orang yang belum pernah kita kenal!”
Memang setiap kali ketemu dengan kenalan, teman lama atau saudara jauh, maka yang ditanyakan tak pernah berbeda ‘sudah punya anak berapa?’ Awalnya kami mampu berkelit dengan berbagai jawaban bahkan menjadikannya sebagai lelucon penyedap obrolan. Tetapi lama-lama kami bosan juga, dan mungkin ini pula yang menyebabkan istriku tak kuat lagi.
“Sudahlah, Mas, demi cintaku padamu, demi kebahagiaanmu, aku rela kau menikah lagi….”
Belum selesai istriku bicara, aku lagsung membekap bibirnya dengan kasih sayang, dengan kelembutan kasih yang sanggup melenyapkan segala gundah….memadukan segenap rasa dan gelora yang terus meluap.
Akhirnya penantian panjang kami berakhir dengan hadirnya perempuan mungil dari rahim istriku.
* * * *
“Duarr!” suara petir menyambar disertai kilat membuyarkan lamunanku.
Kulihat jam dinding, jarumnya seakan tak bergerak. Betapa lama masa lima belas menit. Seakan lebih lama daripada sepuluh tahun penantianku hingga kau terlahir ke dunia ini. Kau yang lahir tepat saat senja menjelang matahari turun ke peraduannya di ujung barat, seakan menjadi pertanda kalau kaulah bulan yang akan menggantikan kedudukan matahari. Bulan dan matahari yang tak mungkin hadir bersamaan mendampingi bumi. Kenyataannya adalah, tak lama setelah kau melihat dunia, ibumu meninggalkan kita berdua.
Aku jaga bulan itu agar tak surut dan tergantikan matahari lain. Aku tak ingin. Maka segala cinta sepertinya hanya tercurah padamu. Apalagi kehadiranmu memang telah sekian lama aku nantikan. Untuk membuktikan bahwa aku sanggup meneruskan trah keluargaku. Walau kau hanya seorang perempuan. Yang karenanya, eyangmu hanya memandang sebelah mata kepadamu. Bagi mereka kau bukan penerus, sebaliknya kau dianggap sebagai pemutus karena aku bekeras hati untuk tidak menggantikan ibumu dengan wanita lain.
Jadilah kau cucu yang tak pernah merasakan kasih eyangmu. Sering kali saat kecil kau bertanya, “Kenapa eyang benci kepada Pertiwi, Yah?”
Jangan kau pedulikan orang lain, termasuk eyangmu, karena bagiku kaulah putri tercintaku, dalam tubuhmu terpancar aura ibumu.
Sekali lagi kulihat jam dinding yang suara detiknya tak dapat aku dengarkan. Masih kalah keras dengan bulir hujan yang memukul-mukul kanopi di teras. Walaupun kini hujan mulai agak surut, angin tak lagi menderu-deru, kilat hanya sesekali terlihat, dan lalu lintas mulai kelihatan hidup.
Namun aku masih enggan membangunkanmu. Kenapa juga kau memaksa akan ikut pada penerbangan sore. Bukankah esok pagi masih bisa? Esok pagi-pagi saat cuaca sudah membaik. Saat aku tak perlu khawatir terhadap keselamatan penerbanganmu. Kau tahu, pesawat terbang Indonesia hampir semuanya seumur denganmu? Bahkan ada beberapa yang lebih tua darimu! Dalam keadaan cuaca yang baik saja sering terjadi gangguan hingga kecelakaan serius. Apalagi dalam cuaca yang sama sekali tak bersahabat ini. Aku tak mau kau celaka!
Ingatkah kau, saat kecil ayah pernah memecat seorang pembantu hanya gara-gara teledor mengawasimu sehingga kau terjatuh di teras dan hidungmu berdarah? Ingatkah kau saat kau pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena diganggu temanmu bermain? Seketika ayah memarahinya, mengancamnya bahkan tinju ayah nyaris melayang sehingga ia lari terbirit-birit dan tak berani lagi mengganggumu. Tak mungkin kalau kini kubiarkan sesuatu yang lebih serius menimpamu. Kau penjelmaan ibumu. Dalam dirimu, aku bisa melihatnya kembali!
Jarum jam telah menunjukkan pukul 14. 44. Enam belas menit lagi pesawat akan take off seperti yang tertera di tiket penerbanganmu. Aku sangat yakin, jika kubangunkan kau satu menit lagi, maka bisa aku pastikan pesawat akan meninggalkanmu begitu saja sebelum kau mencapai bandara. Pesawat akan menempuh bahaya di tengah buruknya cuaca tanpa kau. Dan apa pun yang akan terjadi dengan pesawat itu di udara nanti, aku tak begitu mencemaskannya. Yang pasti kau akan aman di sini, di rumah kita.
Tiba-tiba lisrik padam, mungkin ada pohon tumbang yang mengganggu kabel listrik. Ruangan menjadi panas, terpaksa aku buka jendela, seketika meruaplah angin dingin dari luar bersamaan dengan serpihan bulir hujan menceraiberaikan kain gorden putih tipis. Satu jendela saja yang terbuka telah cukup menyegarkan seluruh ruang, mungkin karena cuaca sedang hujan disertai angin yang masih cukup kencang bertiup.
Kulihat tidurmu tetap tenang. Aku masuk kamarmu dan duduk di tepi ranjang dengan sedikit keraguan bersiap membangunkanmu. Angin dingin menyelusup masuk. Aku duduk pelan-pelan, bahkan sangat hati-hati takut membuatmu kaget. Kuangkat selimut hingga menutup tubuhmu sebatas pinggang, seolah aku ingin kau tetap terlelap. Tak juga aku hendak membangunkanmu, sulit sekali rasanya membangunkan tidurmu.
Sebelum tanganku menyentuh pundakmu bersiap membangunkanmu, aku sempatkan mengamati sebuah foto di atas meja riasmu. Tampak kau di antara teman-temanmu. Semua dalam wajah ceria dangan senyum yang mengembang. Kau berdiri nomor dua dari kiri, tepat di samping Nita si tomboy, yang punya hobi ngebut di jalan raya seperti ceritamu. Hingga kira-kira dua bulan lalu terpaksa dirawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan serius. Sebagai sahabat, kau memaksa untuk menunggui Nita di rumah sakit setiap hari. Hingga kau tahu saat-saat terakhirnya meregang nyawa.
Kutatap wajahmu, masih sangat tenang. Kuperhatikan baik-baik, tak pernah kulihat kau sedamai ini. Kupegang pundakmu, diam saja. Kugoyangkan sedikit, masih saja tak bergerak. Apa kau kecewa pada ayahmu yang ingkar janji tak mau membangunkanmu sesuai permintaanmu?
Semakin keras aku goyangkan pundakmu dan semakin keras kupanggil namamu, semakin besar rasa cemas di hati. Di luar hujan telah reda, badai telah usai, alam tampak mulai tenang. Tetapi kini giliran dadaku mulai bergemuruh, petir menyambar jantung, dan kilat berkelebatan di kepala.
Kepalaku menjadi pening, pandanganku kabur, jantungku makin berdebar, dan tiba-tiba aku sadar kalau kau telah meninggalkan ayahmu. Malaikat kematian ternyata tak dapat dicegah oleh apa pun. Ia tetap saja mampu menerobos badai dan membawamu pergi. Akan kah ke surga?



Tegal, Akhir 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar