Cari Blog Ini

Senin, 17 Mei 2010

Aku dan Gempa


Oleh: Lumaksono



Entah ada angin apa sehingga hari ini Tuanku begitu memperhatikan aku. Padahal biasanya dilirik pun tidak. Kadang kalau dia lewat aku malah sering ditabraknya.. Padahal aku ditempatkan di pojok yang lembab. Dan aku akan dibiarkannya berlama-lama di sini sampai kecoa-kecoa sialan itu mengencingiku, sampai tubuhku kedinginan dan digigiti tikus tanah yang baunya minta ampun.

Perlakuan yang aku terima hari ini membuatku heran. Tiba-tiba Tuanku mengambilku dari pojok yang lembab. Semua benda yang menindih tubuhku disingkirkannya. Barang-barang yang selama ini membebaniku diambilnya. Segala kotoran kecoa dan kotoran tikus tanah dibuangnya. Sampai-sampai debu yang menempel dibersihkan dengan kain lap kaos bekas. Aku bisa bernafas lega. Terakhir, aku dijemur di bawah sinar matahari yang menyengat di atas atap seng.

Keherananku pada sikap Tuanku semakin bertambah. Kini tubuhku dilurus-luruskan, dirapikan. Kalau aku manusia, mungkin aku sedang dipijiti sambil dielus-elus dan disayang. Seperti yang sering aku lihat saat mereka menonton TV. Istri Tuanku kadang manja minta tubuhnya dipijit karena katanya capek seharian mengurus rumah tangga. Dan walaupun Tuanku tak kalah capek mencari nafkah seharian, dengan senang hati ia melakukannya. Hal itu kuketahui dari ekspresi wajah mereka yang memancarkan aura kebahagiaan dan kepuasan.

Ternyata kebaikan Tuanku tidak hanya sampai disitu, setelah tubuhku rapi, aku diberi baju dari kertas koran bekas yang menutup jati diriku sepenuhnya. Lalu aku ditempeli kertas putih bertuliskan spidol hitam yang tak bisa kubaca. Maklumlah aku tak pernah sekolah.

“SUMBANGAN KORBAN BENCANA ALAM SUMATERA” Tuanku membacakan tulisan yang telah ditempel ditubuhku. Kemudian ia memandangiku, mengamatiku dari segala sudut. Wajahnya memancarkan sinar kepuasan dan harapan.

“Sudah siap ,Bu! Kau lihatlah ini!” Tuanku memperlihatkan aku kepada istrinya.
“Ya, cukup bagus. Cepat ganti baju yang rapi biar seperti orang terpelajar!” istrinya tampak tak sabar.

Sejurus kemudian kulihat Tuanku sudah mengenakan baju lengan panjang warna biru muda dipadu dengan celana hitam yang dibelinya waktu lebaran tahun kemarin. Setahuku itulah satu-satunya pakaiannya yang terbaik. Rambutnya disisir rapi. Sayangnya ia tak bersepatu. Ia hanya memakai sandal usang yang tak pernah kena semir atau hanya sekedar dicuci. Agak kurang cocok dengan pakaiannya yang cukup rapi. Dalam keadaan seperti itu, Tuanku tidak tampak sebagai buruh harian di pasar.

“Segeralah berangkat! Kau berdiri saja di lampu merah jalan raya sana, seperti waktu bencana tsunami Aceh dulu, juga saat gempa di Jogja. Ini saatnya orang pulang kerja, apalagi ini bulan puasa. Pasti banyak orang yang mau menyumbang. Karena pahalanya akan dilipatgandakan” istrinya berkata demi dilihatnya Tuanku sudah rapi.
Kini aku agak paham mengapa aku mendapatkan perhatian lebih baik dan perlakuan yang cukup menyenangkan. Aku akan digunakan untuk mengumpulkan sumbangan dari para pengguna jalan raya untuk korban bencana alam yang terjadi kemarin. Menurut berita, gempa berkekuatan 6,9 skala Richter itu telah menghancurkan beberapa kota dan menewaskan ratusan orang. Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah sebab banyak yang tertimbun bangunan yang roboh. Maklum, saat gempa yang terjadi pukul 18. 53 itu kebanyakan orang masih berada dalam rumah mempersiapkan diri untuk tarawih pertama. Ramadhan pertama yang selalu disambut umat muslim dengan suka cita.
Aku bangga juga bisa ikut meringankan beban mereka yang telah kehilangan segalanya itu. Walaupun tentu saja dengan caraku sendiri, menyediakan tubuhku jadi tempat penampungan sumbangan. Aku sangat berharap dapat menampung sumbangan sebanyak-banyaknya agar dapat digunakan untuk membangun kembali rumah mereka yang ambruk.

* * *
Sumbangan pertama yang masuk tubuhku adalah selembar uang ribuan. Kertasnya sudah lecek dan agak kotor dengan banyak lipatan di sana-sini seperti habis diremas-remas. Baunya sama sekali tidak enak, kalau aku punya hidung mungkin aku akan bersin-bersin. Tampaknya uang ini memang sudah tak diperhitungkan lagi oleh pemiliknya. Sudah dianggap tidak ada. Mungkin pemiliknya memang ingin membuangnya dan kebetulan ada aku yang menyediakan diri sebagai tempat pembuangan. Tetapi tak mengapa, aku harus menerima ini. Rejeki dari Tuhan untuk korban bencana tak mungkin aku tolak.
Setelah yang pertama, agak lama juga untuk dapat yang kedua. Walaupun tiap lampu merah menyala Tuanku segera menghampiri pengendara yang berhenti. Rata-rata mereka sengaja diam. Ada juga yang melirik dan tersenyum kecut. Ada yang mencoba tetap ramah walaupun tak sempat memberikan sesuatu. Sepertinya ada sesuatu yang menghalangi mereka memberikan perhatian.

Saat Tuanku mendekati seorang yang berseragam, aku berharap dapat suatu yang berarti, ”Sumbangan untuk korban gempa , Pak?”
“Atas nama siapa Saudara mengumpulkan sumbangan?” orang itu bertanya.
Tuanku kebingungan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Tetapi ia cepat tanggap dengan mengingat apa yang pernah ia lihat di TV. “Atas nama Masyarakat Peduli Bencana, Pak!” Tuanku menyebutkan sebuah nama.
“Kok, nggak pakai tanda pengenal?”
“Kami tak dibekali tanda pengenal., Pak”
“Kenapa sendirian? Surat tugasnya mana?”

Mendapat pertanyaan-pertanyaan seperti itu , Tuanku kurang senang rupanya. Kelihatan sekali orang itu tak berniat memberi sumbangan. Aku jadi ikut-ikutan kesal. Tanpa permisi, Tuanku pindah ke sopir truk luar kota yang membawa muatan. Sebelum Tuanku sempat berkata-kata, sopir itu telah menyodorkan selembar lima ribuan dengan tenang nyaris tanpa ekspresi. Aku senang. Pemberiannya sangat ringan seringan debu yang beterbangan ditiup angin. Pemberiannya spontan tanpa tendensi macam-macam seperti sinar matahari yang sampai sore ini masih memanasi jalan raya.

* * *
Hari menjelang maghrib ketika aku sampai di rumah. Tuanku langsung mengambil uang dari dalam tubuhku dan menghitungnya. Sedangkan aku dilemparkan begitu saja di atas kursi dekat TV. Memang ruang ini adalah pusat kegiatan keluarga. Segalanya dilakukan di sini. Makan, nonton TV, ngobrol, dan menerima tamu. Ruang lain yang ada hanyalah berupa satu kamar tidur , dapur dan kamar mandi. Atapnya rendah sehingga agak pengap dan panas, apalagi di bagian teras atapnya terbuat dari seng yang sudah karatan dan banyak berlubang.

“Hanya tujuh belas ribu rupiah!” suara Tuanku mengejutkanku. Terdengar nada kecewa dalam suaranya yang pelan tak bergairah.
“Mungkin karena hari sudah sore. Padahal aku sudah berharap besar karena sekarang bulan puasa” suara istrinya mengandung harapan akan sesuatu yang lebih baik esok hari.

“Besok akan kumulai lebih awal, aku akan pulang cepat dari pasar.” Tuanku pun berharap esok lebih banyak lagi yang memberi sumbangan.

* * *
Ternyata hari-hari berikutnya keadaannya tak jauh beda. Walaupun aku dan Tuanku sudah berpanas-panas. Bersedia menanggung polusi asap kendaraan dan debu. Menahan malu dengan meminta-minta, yang tak jarang kami mendapat sambutan menjengkelkan. Hasilnya tetap saja minim.

Akhirnya Tuanku menghentikan kegiatannya. Apalagi gempa kali ini tak banyak digembar-gemborkan kedukaannya. Mungkin Indonesia sudah jenuh dengan bencana, apalagi gempa.
Tetapi hati Tuanku benar-benar mulia. Di tengah kekurangannya, di tengah himpitan kehidupan, di tengah kejamnya dunia, ia masih sukarela membantu korban bencana walaupun hanya dengan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat.

“Hari ini aku akan ke pasar membeli beras dan pakaian anak-anak. Nanti kita berangkat sama-sama ya!” istri Tuanku terdengar riang berkata, beda dengan biasanya yang selalu ketus.
“Jangan kau habiskan semua, berhematlah! Dan jangan lupa beli susu untuk anak-anak. Kasihan sudah lama mereka tidak minum susu!” Tuanku mengingatkan istrinya.
“Uang yang terkumpul hanya dua ratus lima ribu perak!, Sangat sedikit. Mudah-mudahan nanti ada sisanya.”

Demi mendengar percakapan ini, maka segala kekaguman dan pujianku beberapa saat lalu musnah. Dihancurkan kenyataan bahwa Tuanku memang bangsat! Kurang ajar! Menipu para penyumbang dan memakan harta para korban bencana yang sedang menderita. Aku benci dan marah karena Tuanku telah melibatkanku dalam penipuan ini.

Aku sangat menyesal. Aku ingin merampas uang yang ada di tangan istri Tuanku dan memberikannya kepada korban bencana. Tetapi semua tak mungkin kulakukan, bahkan untuk minta maaf kepada mereka pun aku tak bisa. Aku hanya sebuah kardus bekas.



Awal Ramadhan 1428 H
Dimuat Di Radar Cirebon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar