
Oleh: Lumaksono
Suasana masih terlalu pagi, saat orang-orang berdatangan ke rumah Ordo. Kabut masih tebal. Udara terasa dingin membeku. Tetapi semua itu tak membuat semangat warga RT 21 kendor untuk mendatangi rumah Ordo, yang sepagi ini telah membuat keributan yang mampu menyedot perhatian warga RT 21, terutama bagi mereka yang sering menggantungkan harapan di alam maya.
Kini rumah Ordo yang tak seberapa luas itu telah penuh sesak. Udara yang semula segar kini menjadi pengap. Bau badan orang yang bangun tidur bercampur dengan pakaian kumal yang semalam baru kena ompol; membuat hidung Ordo kembang kempis. Sementara udara di ruangan itu menjadi semakin pengap dan panas. Beberapa orang tampak sudah mulai membuka kancing bajunya. Kain sarung yang tadi dipakai untuk berlindung dari sengatan hawa dingin, kini dilipat di bawah pusar.
Beberapa orang kini berusaha menenangkan Ordo yang masih tampak ketakutan dan kecapaian. Hidungnya yang pesek dan berlubang besar itu tampak secara paksa menyedot udara dan mengeluarkannya degan cepat. Perutnya yang buncit tampak kembang kempis. Kakinya yang tidak ada semeter itu ditutupi kain sarung lusuh dan penuh lubang di sana-sini. Tubuhnya yang hitam dan gempal itu dibiarkan terbuka. “Ordo, tenanglah, ceritakan apa yang telah terjadi!”
Yang ditanya bukannya menjawab tapi malah mendengus dan melongo, pandangannya menerawang jauh.
“Jangan banyak tanya dulu, ambilkan dia air putih segelas biar tenang.”
“Air kopi saja, biar hangat!”
“Ya, benar. Beri kopi panas saja!”
Seoarang ibu berlari ke rumahnya untuk membuat kopi. Karena memang di rumah Ordo tak ada apa-apa. Ordo hanya hidup sebatang kara, tidak punya siapa-siapa dan belum beristri. Kedua orang tuanya sudah lama meninggal.
“Awas, minggiiiiir, kopi panas nih!”
“Minumlah Ordo, biar tenang dan hangat tubuhmu.”
Bibir tebal itu segera menempel di bibir gelas. Perlahan namun pasti, kopi itu mengalir ke mulut Ordo. Sekali minum, setengah gelas habis.
“Sekarang ceritakanlah apa yang terjadi. Apa kamu mimpi?”
“Mimpi yang seperti kemarin?”
“Pak Mahmud, biarkan dia menjawab pertanyaan yang pertama, baru Bapak tanyakan yang lain. Kasihan kalau terlalu repot menjawabnya.”
Sementara itu orang yang ditanya tetap diam. Yang ngomong malah anak-anak kecil yang digendong ibunya. Ruangan jadi agak berisik.
“Itu, anak-anak kecil jangan berisik! Keluar saja, keluar!”
Beberapa anak kecil terpaksa digiring keluar, tetapi mereka hanya sampai di balik pintu. Bergerombol sambil mengintip ke dalam lewat celah dinding yang bolong. Beberapa ibu muda meneteki anaknya yang mulai rewel. Tanpa ragu mereka mengeluarkan teteknya. Pemandangan yang sperti ini tak dilewatkan begitu saja oleh Ordo. Dengan pura-pura menenangkan nafas Ordo memandangi tetek-tetek itu sampai puas. Wajahnya kini tampak lebih segar.
“Sekarang tentu sudah tenang, ceritakanlah Ordo!”
“Aku mimpi.”
Semua orang diam. Sunyi. Mereka ingin mendengarkan cerita Ordo dengan khusuk.
“Mimpi yang sama persis dengan mimpiku yang dulu-dulu. Persis sekali. Aku jadi takut.”
Wajah Ordo tampak gelisah kembali. Sinar matanya memancarkan rasa takut. “Ceritakanlah Ordo, kami semua ingin dengar mimpimu itu!”
“Sama dengan yang dulu.”
“Tapi yang dulu kamu juga belum cerita. Kamu Cuma bilang harus melakukan sesuatu. Melakukan apa?”
“Pekerjaan berat.”
“Berat sekali?”
“Ya, jelas! Jika aku ingin hidup enak maka aku harus melakukan pekerjaan yang berat. Dua kali.”
“Terus, apa yang akan kamu perbuat? Bertapa, pasang togel, atau apa?”
Mendengar kata-kata ini orang-orang pada ribut sendiri. Semua bicara soal togel. Kesempatan ini digunakan Ordo untuk menghabiskan sisa kopinya yang sudah agak dingin.
“Ordo, apa kamu disuruh pasang togel?”
“Angka berapa yang dipesankan?”
“Sudah tiga kali kau mimpi, berarti ini benar-benar tepat.”
Semua orang berusaha bertanya, berusaha mengorek keterangan dari Ordo.”
“Sebenarnya aku tak mimpi soal angka. Tapi kalau kalian mau pasang, silakan!”
“Biasanya seperti ini nggak secara jelas. Tetapi samar-samar Do! Berapa kali kau harus melakukan pekerjaan itu?”
“Dua kali.”
“Dengan berapa alat?”
“Eeee…cukup satu.”
“Berarti sudah dua angka, 2 dan 1. Hari apa sekarang?”
“Jumat!”
“Jumat berarti 5, dan mimpinya 3 kali berturut-turut. Klop sudah 2153. Nah, Ordo, jika nomor ini nyangkut kau mau apa? Makan enak? Pakaian bagus? Perbaikan rumah? Atau kau mau kawin?”
“Terserah kalian.”
“Ah, jangan begitu, kami tak bisa seenaknya memberikan sesuatu padamu. Rezeki ini kan bersumber dari kamu. Jadi, kami harus memperhatikan keinginanmu. Sekarang apa yang kau inginkan, Do?”
“Banyak.”
“Apa saja itu? Kami akan berusaha memenuhinya.”
“Yang benar?” Ordo bertanya dengan nada harap-harp cemas.
“Benar, kami tak bohong! Kami kan nggak pernah bohong sama kamu. Apalagi kamu sekarang adalah sumber rezeki bagi kami. Rezeki ini datanmgnya dari kamu, jadi kamu harus ikut menikmati hasilnya.”
“Baiklah, untuk membuktikan itu, sekarang aku minta sarapan pagi yang lezat dulu!”
Beberapa orang segera menghambur untuk membeli nasi bungkus di warung bu Gemayu. Tentu saja mereka berusaha memenuhi permintaan Ordo dengan haarapan nomornya akan nyangkut pada pemutaran minggu ini. Nyatanya memang sudah beberapa kali mereka mendapat nomor togel yang semuanya berasal dari mimpi Ordo, sehingga Ordo dianggap punya kelebihan, punya wangsit.
Didapatlah l0 bungkus nasi dengan lauk istimewa dari orang-orang yang berharap besar dapat nomor togel.
Mula-mula Ordo mengambil sebungkus nasi dan melahapnya dengan malu-malu. Sedikit demi sedikit dan seperti kurang berselera. Melihat gelagat ini, orang-orang pun paham. Mereka segera maninggalkan rumah Ordo dengan membawa harapan baru.
Sementara sinar matahari mulai masuk lewat celah-celah dinding yang bolong sehingga ruangan yang tak berjendela itu tampak terang. Wajah Ordo semakin jelas kelihatan kusam karena belum mandi sejak kemarin sore. Mulutnya makin giat saja mengunyah nasi. Tampak dua bekas bungkus nasi telah kososng, bersih tak bersisa. Delapan bungkus yang lain cukup untuk makan dua hari bagi Ordo. Jadi, sekarang ia bisa ongkang-ongkang kaki di rumah.
Ordo bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan kaku ke belakang. Dari balik dinding ia mengambil sebilah besi kusam dengan tangkai kayu coklat tua. Diamatinya benda itu dari ujung ke ujung, dibolak-balik, diusap-usap lalu ditebaskannya benda itu ke kayu di samping rumah. Tebasan itu menimbulkan suara keras, sementara goresan yang ditimbulkan hanya sedikit saja. Melihat hal tersebut, Ordo terduduk kecewa. Matanya memandangi benda itu dengan tajam. Dahinya berkerut seperti memikirkan sesuatu. Lalu dia melangkah menuju rumah Mang Manus, tetangga terdekat.
“Mang, pinjam batu asahannya.”
“Tuh, dekat sumur. Tumben Do, ngasah golok, buat apa?”
“Ah, nggak. Cuma iseng.”
“Apa buat persiapan nyembelih kambing nanti. Kan, semua orang di sini pasang nomor togel yang kamu berikan.”
“Bukan aku yang memberi, mereka sendiri yang ngarang.”
“Sama saja Do, pokoknya semua warga RT 21 berharap besar menang. Bahkan kabarnya seluruh kampung pasang nomor itu! Tak ketinggalan Pak Lurah dan istrinya, Warni, bekas kekasihmu dulu.”
Mendengar nama Warni dan suaminya disebut-sebut, darah Ordo naik. Wajahnya berkerut menahan geram. Dia masih ingat bagaimana Warni bersumpah setia jadi kekasih Ordo sehidup semati. Teringat masa-masa indah mereka dulu. Masa-masa bahagia mereka. Namun, semua kebahagiaan itu telah direnggut oleh Pak Lurah. Ordo tak tahu mengapa Pak Lurah yang sudah beristri tiga itu justru mengambil Warni sebagai istri keempat. Dan Ordo pun semakin tidak tahu ketika cinta Warni ikut-ikutan luntur.
Warni telah berpaling untuk menikmati kehangatan dan kemewahan hidup di samping Pak Lurah. Padahal Warni telah bersumpah setia, padahal Warni tahu bagaimana Pak Lurah yang jago merayu. Padahal….padahal… dan sejuta padahal yang lain. Ordo geram.
“Hai, Ordo! Kenapa melamun? Tenang saja, besok kita semua akan pesta, dan kau yang jadi raja. Akan kita potong beberapa ekor kambing, bukankah kau sudah siap dengan golokmu?”
“Ya, Mang, golokku siap digunakan. Sekarang aku mau pulang dulu.”
“Jangan lupa nanti malam jam dua belas.”
Mang Manus melepas kepergian Ordo dengan senyum heran. Sementara waktu terus berjalan. Warga desa merasakan perjalanan waktu sangat lambat. Dengan tak sabar mereka menantikan detik-detik penentuan nasib. Di sana-sini terdengar rencana muluk mereka. Mang Udel akan membeli sedan seperti permintaan istrinya. Mang Kusen akan membeli DVD baru agar tiap hari bisa nonton BF bersama istrinya yang cantik.
Pukul 23. 45 warga RT 21 sudah berkumpul di rumah Pak Mandut, pengepul togel. Semua orang sudah ada, kecuali Ordo dan Pak Lurah yang belum kelihatan. Semua orang menunggu mereka karena malam ini mereka adalah bintang.
“Mana Ordo? Kok, belum kelihatan batang hidungnya. Seharusnya ia sudah ada di sini menyaksikan kebahagiaan kita.” Orang-orang semakin ramai saja, apalagi ketika tahu ternyata nomor mereka nyangkut. Semua mencari Ordo, semua mencari Pak Lurah yang belum kelihatan juga.
“Aku akan jadikan Ordo menantu. Barangkali suatu saat ia mimpi lagi. Aku pasti kaya,” kata seseorang yang wajahnya berseri-seri.
“Saya akan melindungi Ordo seumur hidup, saya akan selalu membantunya!”
“Ah, bukan hanya kamu. Semua orang akan melindungi Ordo agar ia tetap bermimpi untuk kita.”
“Ya, kita harus melindungi dia!”
Tak berapa lama, dari arah timur, dari kelamnya malam, muncul sesosok tubuh gemuk pendek dengan membawa golok di tangan kanannya. Semua orang menoleh pada sosok itu. Semua diam. Sementara sosok tubuh yang berjalan itu kian jelas. Tampak wajah lugu dengan ekspresi puas. Dengan tenang, sosok tubuh tadi mendekati kerumunan massa. Kini tampak benda yang dibawanya berlumuran darah, begitu pula dengan pakaian yang dikenakannya. Bau anyir darah pun tercium jelas.
Semua terpana. Semua minggir memberi jalan sambil menahan seribu rasa. Melihat gelagat ini, sosok tubuh tadi tanggap dan tanpa ditanya dia berkata, “Aku baru saja melaksanakan perintah mimpiku. Aku telah membunuh Pak Lurah dan Warni.”
(Mitra Dialog, 10 Desember 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar