LUMAKSONO
DALAM BADAI
menuju
UMAH LUGU
Penerbit
Pustaka d-26
DALAM BADAI menuju UMAH LUGU
Oleh: LUMAKSONO
Copyright © 2010 by Lumaksono
Penerbit
Pustaka d-26
E-mail: lmksn_67@gmail.com
Desain Sampul:
Lumaksono
Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com
3
Ucapan Terimakasih:
Terimakasih untuk pribadi-pribadi yang telah
membantu mewujudkan buDAFTAR ISI
Dalam Badai
Ketupat Lebaran
Pasir Isap Kehidupan
Matahari Merah
Lampu Neon
Om Budi
Aku dan Gempa
Emak
Keputusan Zaitun
Mimpi
Umah Lugu
5
Dalam Badai
Bagaimana mungkin aku akan
membiarkanmu pergi saat badai menderu
meliuk-liukan pohon cemara di depan rumah?
Sementara butiran hujan pecah berantakan
sebelum mencapai bumi hingga menimbulkan
6
kabut putih di udara menghalangi pandangan
mata. Gelegar guruh ditingkahi kilat yang
menyambar-nyambar membuat siapa pun pasti
akan berpikir ribuan kali sebelum
memutuskan untuk keluar rumah. Udara
begitu dingin, membuat siang ini kian
mencekam. Tak seorang pun kulihat melintas
di jalan yang biasanya selalu ramai, hanya
beberapa kendaraan roda empat yang terlihat
menerobos badai.
Jam dinding telah menunjukkan pukul
14.30, berarti telah lima belas menit aku
terlambat dari janjiku untuk
membangunkanmu. Kulihat wajahmu begitu
tenang. Dalam tidur kau tampak makin
cantik. Kulitmu terlihat lebih putih. Bibirmu
tampak ranum walaupun tanpa lipstik.
Rambutmu yang mulai agak panjang, sebagian
menutupi kening.
Kesibukanmu rupanya telah membuatmu
terlelap. Kelelahanmu menyiapkan
keberangkatanmu menguras segenap
7
energi.Hingga kau makin tenggelam ke alam
bawah sadarmu, ke dunia mimpimu.
Aku makin tak tega membangunkanmu.
Mungkin lebih tepat aku katakan kalau aku
tak rela membuatmu terjaga dari tidurmu yang
damai. Tak mungkin kau kubiarkan
mengakhiri kenikmatan tidur siangmu
meskipun aku telah berjanji untuk
membangunkanmu sesuai pesanmu sebelum
tidur. Sedangkan aku tak pernah sekali pun
ingkar janji kepadamu. Tak pernah sekali pun
aku tak memenuhi permintaanmu. Maafkan
aku kalau untuk kali ini terpaksa aku ingkari
janjiku. Maafkan aku, dan aku berharap ini
yang pertama dan terakhir.
Aku tunggu lima belas menit lagi untuk
membangunkanmu. Agar tak ada lagi
kesempatan untuk datang sesuai dengan
jadwal penerbangan. Dalam keadaan normal
dan lalu lintas lancar, jarak ke bandara hanya
memakan waktu tiga puluh menit. Tetapi
dalam keadaan macet dan cuaca tak
8
bersahabat seperti ini, mungkin akan
memakan waktu hingga dua kali lipatnya.
Kurasakan detik berjalan sangat lamban,
bagaikan menunggu keong yang merambat di
tanah berlumpur. Seperti tak bergerak sama
sekali. Aku takut kau akan terjaga sebelum
waktu yang aku inginkan tiba.
Suara petir menyambar dengan kerasnya
di luar. Kulihat kau tetap tenang. Tuhan,
tolong jangan bangunkan dia, tolong tulikan
telinganya untuk sementara waktu agar dia
tetap tenang dalam tidurnya. Kalau aku tak
mampu untuk mencegahnya pergi ke
Surabaya, maka Kaulah harapanku satusatunya
untuk menggagalkan niat putri
tercintaku.
****
Sepuluh tahun aku menunggu benih cinta
yang kutanam di ladang istriku tumbuh.
Dalam penantian yang tak menentu, setelah
melalui bermacam usaha, mulai dari
9
pengobatan modern dalam dan luar negeri
hingga pengobatan tradisional yang sama
sekali tak masuk akal. Semua kami jalani demi
mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah
lelaki dan perempuan normal yang bisa
membuahkan keturunan. Bukan manusia
cacat yang tak punya daya untuk meneruskan
trah.
Istriku pernah hampir putus asa hanya
gara-gara tak kuat menahan sindiran atau
cemoohan yang ditujukan kepada kami.
“Rumah sebagus ini akan tampak lebih
indah jika ada anak kecil yang berlari-lari di
sela-sela perabot mewah ini!” kata ayahku.
“Maaf, ibu lebih sering main ke rumah
adikmu daripada ke rumahmu, sebab di sana
ibu bisa main-main dengan cucu! Mereka lucu
dan menggemaskan!”
“Dalam garis keturunan keluarga kita
nggak ada, lho, yang gak punya anak! Bahkan
ayah pernah bilang kalau kakek buyut kita
10
punya anak yang sangat banyak, lebih banyak
dari jari tangan kita!” Kata adikku saat ada
arisan keluarga di rumahnya.
Awalnya istriku menanggapi biasa saja,
tetapi lama-lama merah juga telinganya.
Hingga suatu saat sambil terisak, ia
mengatakan kalau ia rela dimadu bahkan
dicerai, agar aku kawin dengan wanita lain dan
punya anak seperti yang diinginkan
keluargaku.
“Tidak mungkin itu!” aku jelas tegas
menolak usulnya yang dipenuhi emosi. “Aku
memang ingin punya anak dan aku rasa bukan
hanya aku, tapi kita. Namun, aku hanya ingin
punya anak yang lahir dari rahimmu. Anak
dari indung telurmu, bukan yang lain!”
“Tapi, hampir sepuluh tahun, Mas! Aku
lelah menggantung harapanmu!”
“ Kalaupun aku menikah lagi dengan
perempuan lain, belum tentu aku bisa punya
anak. Siapa tahu akulah biang keladinya!”
11
“Sudah jelas, aku anak tunggal,
sedangkan Mas …keluarga Mas punya banyak
anak. Saudara-saudara Mas semuanya punya
lebih dari satu anak! Ini fakta, Mas!”
“Tetapi itu semua tidak menjawab
pertanyaan, siapa yang kurang di antara kita?”
“Tapi aku sudah tak mampu mendengar
omongan keluargamu, omongan tetangga
bahkan omongan orang-orang yang belum
pernah kita kenal!”
Memang setiap kali ketemu dengan
kenalan, teman lama atau saudara jauh, maka
yang ditanyakan tak pernah berbeda ‘sudah
punya anak berapa?’ Awalnya kami mampu
berkelit dengan berbagai jawaban bahkan
menjadikannya sebagai lelucon penyedap
obrolan. Tetapi lama-lama kami bosan juga,
dan mungkin ini pula yang menyebabkan
istriku tak kuat lagi.
12
“Sudahlah, Mas, demi cintaku padamu,
demi kebahagiaanmu, aku rela kau menikah
lagi….”
Belum selesai istriku bicara, aku lagsung
membekap bibirnya dengan kasih sayang,
dengan kelembutan kasih yang sanggup
melenyapkan segala gundah….memadukan
segenap rasa dan gelora yang terus meluap.
Akhirnya penantian panjang kami
berakhir dengan hadirnya perempuan mungil
dari rahim istriku.
* * * *
“Duarr!” suara petir menyambar disertai
kilat membuyarkan lamunanku.
Kulihat jam dinding, jarumnya seakan tak
bergerak. Betapa lama masa lima belas menit.
Seakan lebih lama daripada sepuluh tahun
penantianku hingga kau terlahir ke dunia ini.
Kau yang lahir tepat saat senja menjelang
matahari turun ke peraduannya di ujung barat,
seakan menjadi pertanda kalau kaulah bulan
13
yang akan menggantikan kedudukan matahari.
Bulan dan matahari yang tak mungkin hadir
bersamaan mendampingi bumi. Kenyataannya
adalah, tak lama setelah kau melihat dunia,
ibumu meninggalkan kita berdua.
Aku jaga bulan itu agar tak surut dan
tergantikan matahari lain. Aku tak ingin. Maka
segala cinta sepertinya hanya tercurah
padamu. Apalagi kehadiranmu memang telah
sekian lama aku nantikan. Untuk
membuktikan bahwa aku sanggup meneruskan
trah keluargaku. Walau kau hanya seorang
perempuan. Yang karenanya, eyangmu hanya
memandang sebelah mata kepadamu. Bagi
mereka kau bukan penerus, sebaliknya kau
dianggap sebagai pemutus karena aku bekeras
hati untuk tidak menggantikan ibumu dengan
wanita lain.
Jadilah kau cucu yang tak pernah
merasakan kasih eyangmu. Sering kali saat
kecil kau bertanya, “Kenapa eyang benci
kepada Pertiwi, Yah?”
14
Jangan kau pedulikan orang lain,
termasuk eyangmu, karena bagiku kaulah
putri tercintaku, dalam tubuhmu terpancar
aura ibumu.
Sekali lagi kulihat jam dinding yang suara
detiknya tak dapat aku dengarkan. Masih
kalah keras dengan bulir hujan yang memukulmukul
kanopi di teras. Walaupun kini hujan
mulai agak surut, angin tak lagi menderu-deru,
kilat hanya sesekali terlihat, dan lalu lintas
mulai kelihatan hidup.
Namun aku masih enggan
membangunkanmu. Kenapa juga kau
memaksa akan ikut pada penerbangan sore.
Bukankah esok pagi masih bisa? Esok pagipagi
saat cuaca sudah membaik. Saat aku tak
perlu khawatir terhadap keselamatan
penerbanganmu. Kau tahu, pesawat terbang
Indonesia hampir semuanya seumur
denganmu? Bahkan ada beberapa yang lebih
tua darimu! Dalam keadaan cuaca yang baik
saja sering terjadi gangguan hingga kecelakaan
15
serius. Apalagi dalam cuaca yang sama sekali
tak bersahabat ini. Aku tak mau kau celaka!
Ingatkah kau, saat kecil ayah pernah
memecat seorang pembantu hanya gara-gara
teledor mengawasimu sehingga kau terjatuh di
teras dan hidungmu berdarah? Ingatkah kau
saat kau pulang ke rumah dalam keadaan
menangis karena diganggu temanmu bermain?
Seketika ayah memarahinya, mengancamnya
bahkan tinju ayah nyaris melayang sehingga ia
lari terbirit-birit dan tak berani lagi
mengganggumu. Tak mungkin kalau kini
kubiarkan sesuatu yang lebih serius
menimpamu. Kau penjelmaan ibumu. Dalam
dirimu, aku bisa melihatnya kembali!
Jarum jam telah menunjukkan pukul 14.
44. Enam belas menit lagi pesawat akan take
off seperti yang tertera di tiket penerbanganmu.
Aku sangat yakin, jika kubangunkan kau satu
menit lagi, maka bisa aku pastikan pesawat
akan meninggalkanmu begitu saja sebelum kau
mencapai bandara. Pesawat akan menempuh
16
bahaya di tengah buruknya cuaca tanpa kau.
Dan apa pun yang akan terjadi dengan pesawat
itu di udara nanti, aku tak begitu
mencemaskannya. Yang pasti kau akan aman
di sini, di rumah kita.
Tiba-tiba lisrik padam, mungkin ada
pohon tumbang yang mengganggu kabel listrik.
Ruangan menjadi panas, terpaksa aku buka
jendela, seketika meruaplah angin dingin dari
luar bersamaan dengan serpihan bulir hujan
menceraiberaikan kain gorden putih tipis. Satu
jendela saja yang terbuka telah cukup
menyegarkan seluruh ruang, mungkin karena
cuaca sedang hujan disertai angin yang masih
cukup kencang bertiup.
Kulihat tidurmu tetap tenang. Aku masuk
kamarmu dan duduk di tepi ranjang dengan
sedikit keraguan bersiap membangunkanmu.
Angin dingin menyelusup masuk. Aku duduk
pelan-pelan, bahkan sangat hati-hati takut
membuatmu kaget. Kuangkat selimut hingga
menutup tubuhmu sebatas pinggang, seolah
17
aku ingin kau tetap terlelap. Tak juga aku
hendak membangunkanmu, sulit sekali
rasanya membangunkan tidurmu.
Sebelum tanganku menyentuh pundakmu
bersiap membangunkanmu, aku sempatkan
mengamati sebuah foto di atas meja riasmu.
Tampak kau di antara teman-temanmu. Semua
dalam wajah ceria dangan senyum yang
mengembang. Kau berdiri nomor dua dari kiri,
tepat di samping Nita si tomboy, yang punya
hobi ngebut di jalan raya seperti ceritamu.
Hingga kira-kira dua bulan lalu terpaksa
dirawat di rumah sakit karena mengalami
kecelakaan serius. Sebagai sahabat, kau
memaksa untuk menunggui Nita di rumah
sakit setiap hari. Hingga kau tahu saat-saat
terakhirnya meregang nyawa.
Kutatap wajahmu, masih sangat tenang.
Kuperhatikan baik-baik, tak pernah kulihat
kau sedamai ini. Kupegang pundakmu, diam
saja. Kugoyangkan sedikit, masih saja tak
bergerak. Apa kau kecewa pada ayahmu yang
18
ingkar janji tak mau membangunkanmu sesuai
permintaanmu?
Semakin keras aku goyangkan pundakmu
dan semakin keras kupanggil namamu,
semakin besar rasa cemas di hati. Di luar
hujan telah reda, badai telah usai, alam
tampak mulai tenang. Tetapi kini giliran
dadaku mulai bergemuruh, petir menyambar
jantung, dan kilat berkelebatan di kepala.
Ketakutanku makin bertambah, akankah
kau menyusul ibumu? Dulu ibumu berpulang
akibat kecapaian, kini kau pun demikian
adanya.
Kepalaku menjadi pening, pandanganku
kabur, jantungku makin berdebar, dan tibatiba
aku sadar kalau kau telah meninggalkan
ayahmu. Malaikat kematian ternyata tak dapat
dicegah oleh apa pun. Ia tetap saja mampu
menerobos badai dan membawamu pergi. Akan
kah Dia membawamu ke surga?
19
Ketupat Lebaran
“Apa? Dibuang? Jangan, jangan kau
buang!”
Tetapi gerakan istriku tak tercegah, dengan
cekatan dan pasti, tangannya mulai
memindahkan ketupat yang tergantung di
dapur ke dalam tas plastik hitam. Kata-kataku
tak lagi digubrisnya. Dengan menahan nafas
dan wajah yang dijauhkan untuk
menghindarkan hidungnya dari isi bungkusan,
ia ikat kuat-kuat kedua ujungnya. Terlihat raut
mukanya yang jengkel. Sambil memastikan
kalau ikatannya telah kuat dan tak mungkin
menebarkan lagi bau menyengat, ia tenteng tas
plastik yang kelihatan berat itu ke luar rumah.
“Tolong jangan dibuang!” sekali lagi aku
memohon. Bahkan kali ini dengan suara yang
aku buat sememelas mungkin. Aku masih
berharap agar istriku tak membuangnya. Aku
kerahkan segala kemampuan, termasuk
20
merayunya dengan pandangan mataku yang
menghujam ke bola matanya. Seperti dulu
ketika aku meluluhkan hatinya untuk
menerima cintaku.
Tetapi kali ini agaknya segala usahaku tak
membuahkan hasil. Bahkan istriku sepertinya
sengaja tak mau menatap mataku. Dengan
masih berpaling ia menjawab, “Apa sih enaknya
ketupat? Sampai kau tak lagi kasihan
kepadaku? Kepalaku pusing tiap mencium
baunya! Bahkan hanya dengan melihatnya
perutku langsung mual!”
“Mana mungkin bau! Bukankah ketupat itu
masih baru?”
“Bukan bau busuk, tetapi aroma ketupat ini
yang membuatku pusing!” istriku berkata
dengan nada marah.
Tak lagi mempedulikan aku, ia langsung
bawa bungkusan itu ke tempat sampah di balik
pagar depan rumah. Seakan tak mau lagi
berlama-lama dekat dengan bungkusan
21
ketupat itu, ia lemparkan saja dari kejauhan.
Suaranya berdebum menimpa tumpukan
sampah yang telah lebih dulu ada. Sementara
aku hanya bisa menelan ludah, hilang sudah
harapanku untuk menikmati ketupat
sepuasnya, padahal baru sekali aku
menikmatinya, pagi tadi usai sholat Ied.
Entah apa yang terjadi dengan istriku kali
ini hingga ia bersikap demikian. Aku tahu
kalau selama ini ia memang tak suka dengan
ketupat, tetapi selama lima tahun aku hidup
bersama, belum pernah aku melihat ia begitu
benci dengan jenis makanan yang satu ini.
Makanan yang menjadi kesukaanku setiap
lebaran tiba. Bagiku tidak pantas disebut
lebaran jika tanpa ketupat. Oleh sebab itulah,
sebagai tanda cintanya kepadaku, walaupun ia
tak pernah menyentuhnya, istriku tetap
menyediakan ketupat saat lebaran. Meskipun
itu hasil membeli. Hanya sekali ia pernah
membuatnya khusus untukku, di tahun
pertama pernikahan kami.
22
Walaupun belum dikaruniai anak setelah
lima tahun lebih menikah, kehidupan kami
baik-baik saja. Ia begitu pengertian, selalu
berusaha memenuhi segala yang menjadi
kesukaanku. Ia juga tidak banyak menuntut.
Tak pernah ia meminta yang macam-macam.
Baru kali ini aku melihat istriku marah.
Sampai aku tak tahu harus berbuat apa.
Aku pandangi makanan kesukanku yang
teronggok di tempat sampah. Terbersit rasa di
hati untuk mengambilnya kembali. Aku tak
dapat menerima tindakan istriku yang
membuang makanan seenaknya. Apalagi itu
adalah makanan kesukaanku. Bukankah
untuk menghilangkan aromanya cukup dengan
membungkusnya rapat-rapat? Bukankah ada
tindakan yang lebih baik daripada harus
membuangnya? Apa ia tak tahu bahwa diluar
sana masih banyak orang yang harus
mempertaruhkan nyawa dan kehormatan
hanya demi sesuap nasi? Apa ia tak tahu
bahwa dengan membuang makanan berarti
23
telah melukai perasaan mereka? Makanan
seperti ini tentu sangat berarti bagi mereka!
Kulihat istriku telah menghilang ke dalam
rumah. Segera saja aku bersijingkat ke luar
pagar mendekati tempat sampah. Sebelum
beraksi, aku pastikan dulu bahwa keadaan
benar-benar aman. Tak ada satu pun orang
yang melihat. Untunglah, keadaan kompleks
perumahan kami memang sepi saat lebaran
seperti ini. Sebagian besar warga pulang
kampong ke daerah asal masing-masing. Yang
lain menghabiskan lebaran di hari pertama
dengan mengunjungi orang tua dan sanak
saudara mereka, dan biasanya sore hari baru
mereka kembali. Aku sendiri tidak betah
berlama-lama di rumah orang tua atau pun
saudara.
Ternyata, segala sesuatunya tak semudah
yang aku bayangkan. Setelah ketupat aku
ambil lagi, aku dihadapkan pada satu
pertanyaan, dimana aku akan menyimpannya?
Di tempatnya semula jelas tidaklah mungkin
24
karena istriku pasti akan segera tahu. Kalau
harus disembunyikan, dimana? Dalam
kebingunganku, aku mencoba untuk merekareka
apa penyebab istriku begitu benci pada
ketupat ini padahal biasanya tidak demikian.
Apakah benar ia tidak tahan dengan
baunya? Atau ia cemburu terhadap orang yang
memberi ketupat ini? Cemburu kepada
Herningsih, muridku yang baru kelas dua
SMP? Tetapi rasanya tidak. Istriku bukanlah
tipe pencemburu. Ataukah mungkin ia
mencurigai kalau ketupat itu adalah bentuk
suap, agar aku memberikan nilai yang tinggi?
Dan istriku tak ingin aku makan suap?
Mengenai dugaanku ini, istriku memang tak
mengatakannya secara langsung, ia hanya
menyindir saat muridku itu mengantarkan
ketupat dengan opor ayamnya. “Kira-kira kalau
kau tidak lagi menjadi gurunya, ia akan tetap
mengirim makanan kesukaanmu atau tidak,
ya?” begitu katanya.
25
Aku masih berdiri dekat pintu samping
dengan menenteng tas plastik warna hitam
yang berisi ketupat. Belum juga kutemukan
jalan pasti hendak dikemanakan ketupat ini.
Namun, secara perlahan, langkah kakiku
membawaku ke gudang, ruangan yang jarang
sekali disambangi istriku. Pikirku, pasti aman
kalau kusimpan di situ, ia tak akan tahu.
Sehingga aku pasti masih bisa menikmatinya
nanti.
Tetapi, bukankah di gudang banyak
tikusnya? Sering aku melihat tikus mondarmandir
keluar masuk gudang, kotoran mereka
pun sering aku jumpai menumpuk di sudut.
Tentu ketupat ini akan dijadikan pesta bagi
bangsa pengerat itu. Tidak! Aku tak mau
ketupat kesukaanku dijadikan sebagai ajang
pesta pora si tikus binatang menjijikan. Kalau
di tempat sampah tadi aku tak rela berbagi
dengan anjing kurap atau kucing liar yang
sering mengacak-acak tong sampah, maka aku
lebih tak suka kalau ketupatku dimakan oleh
26
tikus. Aku sama sekali tak mau mereka makan
makanan yang sama denganku.
“Apa yang kau bawa, Pak?” suara istriku
mengejutkanku. Mungkin jika aku bisa melihat
wajahku sendiri, pastilah terlihat pucat karena
tiba-tiba saja aliran darahku seakan terhenti.
Sehingga aku tak bisa cepat menjawab. Sampai
istriku bertanya lagi, “Kau ambil lagi ketupat
itu?!”
“E..iya!” aku tak bisa berbohong. Padahal
untuk memuluskan niatku, bisa saja aku
berkata yang lain. Bisa saja aku katakan kalau
ini a, b, atau c, selain jawaban ya! Sayangnya,
itu semua bukanlah kebiasaanku. Selama ini
aku usahakan tak berkata bohong, terutama
kepada istriku, sebab sekali berbohong maka
akan butuh kebohongan selanjutnya untuk
terus menutupi kebohongan yang pertama.
“Lalu akan kau taruh di dapur lagi, agar
aku pusing dan mual terus muntah-muntah
27
mencium baunya, apa seperti itu maumu,
Pak?” istriku berkata sewot.
“Tentu saja tidak! Aku hanya merasa
sayang jika makanan yang masih bisa dimakan
harus dibuang di tempat sampah menjadi
makanan anjing dan kucing liar atau pun
tikus! Sementara di luar sana banyak orang
yang tak bisa makan!”
“Ah, alasan!”
“Aku memang mau mencicipinya sedikit
lagi, selanjutnya ketupat ini akan kuberikan
saja kepada orang yang mau! Bagaimana?”
“Cepatlah kau enyahkan ketupat sialan itu!”
Mendapat jawaban yang tak kusangkasangka
seperti ini, segera saja bungkusan
ketupat itu aku bawa keluar lagi. Aku sama
sekali tak ingin terjadi pertengkaran hanya
gara-gara ketupat. Apalagi sekarang adalah
hari lebaran. Aku mulai dihadapkan pada
situasi sulit kembali, akan kuberikan siapa?
Diberikan kepada tetangga, rasanya tak
28
mungkin. Mereka rata-rata orang berpunya,
mereka sama sekali tak kekurangan makan.
Aku ingin memberikanya kepada yang betulbetul
membutuhkan, sesuai tujuan semula.
Atau kuberikan saja kepada pengemis yang
datang. Tetapi, mana ada pengemis di hari
lebaran? Harus menunggu berapa lama?
Lama aku biarkan ketupat tetap teronggok
begitu saja. Belum kutemukan jalan keluar
yang baik. Bahkan kini muncul pikiran untuk
tetap membiarkan ketupat begitu saja, siapa
tahu pusing istriku sudah berangsur hilang.
Sehingga aku punya harapan untuk menikmati
ketupat lebih banyak lagi, paling tidak hingga
dua hari, seperti tahun-tahun berselang.
Takut keburu malam, akhirnya aku ambil
sepeda motor dan kubawa bungkusan ketupat
itu ke jembatan di sebelah barat kompleks
perumahan kami. Akan aku berikan kepada
tuna wisma yang sering kulihat ada di bawah
jembatan itu. Tentu mereka akan senang
menerimanya. Biar mereka merasakan
29
berlebaran dengan makan ketupat. Mudahmudahan
saja mereka masih ada, tidak ikut
mudik atau pergi ke mana pun. Kalau tidak,
akan aku hanyutkan saja di sungai biar
terbawa sampai ke laut. Aku lebih rela ketupat
itu dimakan ikan-ikan daripada tikus dan
anjing liar.
Sesampai di sana, aku dibuat tercengang!
Bagaimana tidak, ternyata dari atas jembatan
tempatku berdiri, terlihat mereka sedang
menikmati ketupat! Makanan yang sama
dengan makanan yang akan aku berikan,
bahkan terlihat lebih enak ketupat mereka
daripada ketupat yang aku bawa. Terlihat dari
cara mereka melahapnya, terlihat dari
keceriaan mereka.
Hatiku seperti tertohok menyaksikan hal
ini. Walaupun mereka berpakaian kumal,
walaupun badan mereka terlihat dekil, tetapi
mereka dapat menikmati makanannya dengan
sempurna. Seorang ayah, ibu dan dua orang
anaknya yang masih kecil. Sesekali kulihat
30
canda mereka, tawa renyah anak-anak mereka
di sela-sela mengunyah makanan. Walaupun
alas makanku lebih mahal dan bagus daripada
yang mereka gunakan, tetapi jelas kalau
kenikmatan yang dihasilkan lebih mereka
rasakan.
Kini aku merasa kalau aku tak lebih baik
dari mereka. Bahkan aku merasa yang perlu
dikasihani bukannya mereka melainkan diriku.
Mereka lebih berpunya daripada aku. Mereka
punya kebahagiaan yang belum pernah aku
rasakan.
Tak ingin berlama-lama menyaksikan
kebahagiaan mereka yang hanya menerbitkan
cemburu hatiku melihat anak-anak mereka
bercanda, aku putuskan untuk membuang
ketupatku saja. Segera aku jatuhkan, dan
“byurr!” Bersamaan dengan itu, mereka
serentak menoleh ke arah bungkusan dan ke
arahku secara bergantian. Kulihat sorot mata
mereka memancarkan harapan, dan wajahnya
menyiratkan bahagia. Tetapi, bungkusanku tak
31
terbawa arus! Ada semacam tali yang
menahannya terbentang di permukaan air dari
tepi ke tepi.
Cepat-cepat aku berlalu. tak kuhiraukan
lagi bungkusan ketupatku. Aku tak mau tahu
lagi apa yang terjadi dengannya. Matahari sore
mengantarkan aku kembali. Sinarnya yang
lembut kemerahan tampak indah menyentuh
pucuk-pucuk daun.
Setiba di rumah aku disambut “oek-oek”
istriku seperti muntah. Seketika perasaanku
tak menentu. Antara kecewa karena tak bisa
menikmati ketupat dan kasihan melihat
kenyataan bahwa istriku tak main-main
dengan pusing dan mual-mualnya. Kulihat
istriku sedang membungkuk di kamar mandi
berusaha mengeluarkan sesuatu lewat
mulutnya. Tetapi semakin dikeluarkan dengan
keras, semakin sulit saja rupanya. Yang
tampak keluar hanya air ludah dan suaranya
saja yang kian keras.
32
Segera saja timbul harapan di dada. Aku
ingat cerita orang-orang tentang bagaimana
keadaan perempuan yang tengah hamil muda.
Aku ingat bahwa ramadhan ini istriku
berpuasa sebulan penuh, tak seperti biasanya.
Jadi, biarlah ketupatku hilang karena telah
tergantikan oleh sesuatu yang aku nantikan
selama lima tahun.
33
Pasir Isap Kehidupan
Lelaki itu hanya terduduk lesu di
samping gerobaknya. Punggungnya setengah
disandarkan pada roda. Tatap matanya kosong,
tangan kanannya mengipas-ngipaskan topi
putihya yang sudah berubah warna mengusir
kegerahan hatinya. Anaknya yang paling kecil
menggapai-gapai pundaknya berusaha berdiri.
Sedangkan ketiga anak lainnya asyik bermain
tanah. Beberapa ekor lalat beterbangan
kemudian hinggap di gerobak berusaha
mencari celah masuk untuk menikmati
makanan yang masih menumpuk di gerobak.
Sesekali ia menarik nafas panjang melepas
segala kepenatan.
Umurnya belum genap tiga
puluh tahun. Menurut ceritanya, ia hanya
sempat menamatkan SD di kampung kemudian
mulai berkelana dari pondok pesantren satu ke
pondok lainnya. Dari pengembaraannya di
34
beberapa pesantren itulah ia menjadi fasih
membaca Al Quran. Bahkan, hafal beberapa
surat. Tidak hanya itu, ia juga fasih berdoa
dalam bahasa arab. Ia akhirnya diserahi tugas
untuk memimpin pengajian rutin. Kalau
kebetulan di antara warga ada yang punya
hajat, entah selamatan, tasyakuran atau
pindahan rumah, maka dialah yang dimintai
tolong untuk memimpin doa.
Ia pun sering mengumandangkan adzan
di Masjid An Nur, yang akan mengundang
decak kagum karena suaranya empuk.
Walaupun kebanyakan orang hanya
mengagumi suaranya tanpa memenuhi
panggilan-Nya. Ia juga sangat rajin sholat
berjamaah di masjid.
Ia datang di kompleks perumahan kami
sekitar enam tahun lalu. Ia memperkenalkan
diri sebagai Arifin, dengan seorang istri dan
seorang anak perempuan yang baru empat
bulan. Karena masih kelihatan seperti anak
remaja, maka kami sering memanggilnya
35
dengan ‘Ripin’ saja, tanpa sebutan ‘pak’ dan ia
tidak peduli. Ripin menempati rumah Isbadi
yang katanya kenalannya di kampung. Ia
hanya disuruh menempati tanpa harus
mengontrak.
Menurut Ripin, menempati rumah ini
dengan gratis adalah rezeki anaknya. Ia sangat
percaya bahwa anak membawa rezeki bagi
orang tuanya. Ini terbukti saat anaknya baru
lahir beberapa bulan, ia sudah ditawari
menempati rumah tanpa harus membayar.
“Inilah rezeki dari Allah atas kelahiran
anak saya,” begitu katanya.
Ripin juga dikenal sebagai orang yang
ringan tangan, ia senang sekali membantu
tetangga yang membutuhkan. Seperti waktu
genting rumahku bocor, dengan suka rela ia
menawarkan diri membantu. Dengan cekatan
ia naik dan mengganti genting yang pecah.
Tentu saja aku sangat berterima kasih, sebab
36
aku sendiri tidak pernah mengganti genting
pecah.
Saat aku sedang membersihkan selokan
yang mampet, ia langsung turun tangan
membantu memunguti sampah dari selokan
tanpa merasa sungkan atau jijik, sampai air
dapat mengalir kembali dengan lancar. Semua
dikerjakan Ripin dengan ringan, tanpa
meminta imbalan apa pun. Katanya sebagai
tetangga memang sudah seharusnya tolongmenolong.
Satu sikap yang hampir tidak
pernah lagi dijumpai dalam kehidupan kota
modern.. Begitulah, Ripin dikenal sebagai
sosok yang suka membantu warga dan taat
beribadah.
Belum genap dua tahun usia anak
pertamanya, istri Ripin sudah melahirkan anak
kedua. Dan seiring dengan kelahiran anak
keduanya, rezeki pun datang lagi. Kini bubur
ayamnya mulai laris dan banyak pelanggannya.
Sejak pukul enam pagi ia mendorong
gerobaknya keliling kompleks. Dan pada pukul
37
delapan dagangannya sudah amblas ke perut
warga.
Tentu saja hal ini membuat kami
kagum. Bagaimana tidak? Ketika kami semua
baru akan beraktivitas kerja di kantor masingmasing,
ia justru sudah selesai dengan
pekerjaannya. Sepertinya, pekerjaannya
hanyalah mengantarkan matahari terbit. Ketika
ayam mulai berkokok, ufuk timur mulai
memerah, dan adzan subuh berkumandang,
dan semuanya akan usai, bubur ayamnya akan
ludes, sebelum matahari naik sepenggalah.
“Alhamdulillah, ini rezeki dari Allah atas
kelahiran anak saya yang kedua.”
Aku, dan beberapa tetanggaku mulai
percaya dengan apa yang dikatakan Ripin,
bahwa anak membawa rezekinya sendirisendiri.
Paling tidak, dua anak yang lahir dari
rahim istrinya telah membawa perubahan
dalam kehidupan Ripin.
38
Tampaknya, ketaatan Ripin beribadah
dan kebiasaannya yang ringan tangan
membuat para tetangga menyukainya. Apalagi
ia sangat ramah dan supel. Tidak heran jika
sebagian besar warga kompleks perumahan
kami mengenalnya. Apalagi setiap kali
melayani pembeli, tidak pernah sekali pun ia
mendiamkannya. Selalu saja ada hal yang
dibicarakan. Mulutnya selalu ringan
menanyakan sesuatu atau pun sekadar
berbasa-basi, tanpa rasa malu.
Gaya bicaranya polos, khas orang desa.
Walaupun sering salah menggunakan istilah,
tetapi ia sangat percaya diri menggunakan
istilah-istilah asing yang sering membuat kami
tertawa. Misalnya saat ia mengatakan, “Isbadi
membeli rumah ini hanya untuk invitasi,
makanya tak ditempati.” Sejenak kami yang
mendengarnya merasa bingung, tetapi setelah
sadar bahwa maksudnya investasi, maka kami
pun tertawa. Ia sendiri tak merasa
39
ditertawakan bahkan wajahnya terlihat seperti
tak berdosa. Ripin memang lugu.
* * *
*
“Alhamdulillah, anak saya telah lahir,
mudah-mudahan akan membawa rezeki yang
lebih baik!” Begitu kata Ripin menyambut
kelahiran anaknya yang ketiga,. Padahal anak
keduanya baru bisa jalan. Mungkin karena
keyakinannya bahwa setiap kelahiran anaknya
akan membawa rezeki, maka ia sepertinya tak
ragu-ragu untuk punya anak lagi. Apalagi
baginya anak tidaklah dianggap sebagai
penerus keturunan, tetapi anak dianggapnya
sebagai jalan untuk mendapatkan rezeki.
Rupanya betul juga apa yang dikatakan
Ripin, ketika anak ketiganya memasuki usia
satu bulan, Ripin berjualan soto, makanan
khas Tegal. Pukul sebelas siang ia menggelar
dagangannya kemudian keliling kompleks
sebentar, kira-kira pukul dua siang sotonya
40
sudah habis. Sotonya memang enak, racikan
bumbunya sangat pas, sehingga disukai
pelanggan. Disamping itu, harganya juga lebih
miring dibandingkan dengan yang lain.
Ditambah lagi sotonya juga bisa dibayar
balakangan, satu hal yang tidak mungkin
dilakukan jika kami makan di warung soto di
luar kompleks.
Kehidupan ekonomi Ripin pun kini
mulai berubah. Sekarang di dapurnya sudah
ada kompor gas, sebuah kulkas kecil juga
sudah terpajang dekat meja makan. Anaknya
benar-benar membawa rezeki!
* * *
Kesibukan sekarang mulai membayangi
kehidupan Ripin. Seperti biasa, jam sebelas
siang berangkat dan sebelum jam dua sudah
pulang. Kemudian disambung lagi jam empat
sore sampai jam tujuh. Yang paling
membanggakan dan membahagiakan adalah
tidak pernah dagangannya dibawa pulang,
41
selalu habis. Kadang, malam harinya ia
melayani pesanan untuk acara tertentu.
Jadilah Ripin pedagang soto yang super sibuk
hingga anak-anaknya terlupakan.
Akan tetapi, justru karena kesibukannya
inilah ekonominya betul-betul membaik.
Sekarang ia sudah bisa membeli sepeda motor
yang digunakannya untuk transportasi ke
pasar. Di leher istrinya juga sudah melingkar
kalung emas yang cukup besar. Wajahnya
sekarang cerah berseri dibalut kosmetik.
Sepertinya Ripin sedang berada di puncak
kejayaannya.
Ternyata, perubahan yang terjadi pada
Ripin tidak hanya perubahan ekonomi, sebab
ada beberapa perubahan lain yang aku
rasakan. Sekarang aku tidak pernah lagi
mendengar suara adzan Ripin, tidak pernah
lagi pergi ke masjid untuk sholat berjamaah.
Kami, jamaah masjid An-Nur, merasa
kehilangan.
42
Ripin juga tidak pernah lagi membantu
tetangga, bahkan beberapa kali kerja bakti,
Ripin tak menampakkan batang hidungnya.
Mungkin karena hari-harinya selalu
disibukkan untuk mencari uang. Tak ada hari
libur baginya. Dan yang cukup mengenaskan
menurutku adalah keadaan anak-anaknya
yang dibiarkan terlantar, tak pernah diurusi.
Ketiga anaknya yang masih kecil-kecil
selalu dibiarkan bermain sendiri. Bahkan
ketika baru bisa merangkak, Dibiarkan
tubuhnya kotor berdebu. Sehingga kami semua
tidak pernah bisa membedakan antara sudah
mandi atau belum karena selalu saja kelihatan
kotor. Yang lebih memprihatinkan kami, sering
anaknya tercebur selokan, kadang-kadang si
kecil berkubang dengan kencingnya sendiri.
Padahal, menurut Ripin, anak-anaknyalah
yang membuat ekonominya membaik. Hal ini
membuat kami tidak simpati lagi.
Roda kehidupan sepertinya berputar
kembali. Sekarang Ripin sudah kehilangan
43
pelanggan. Para tetangga yang tahu keadaan
rumah dan anak-anaknya yang kotor, menjadi
tidak berselera lagi terhadap sotonya. Hal ini
rupanya cepat menyebar ke pelanggan lain,
kini Ripin sering membawa pulang gerobaknya
yang masih penuh. Aku kasihan juga
melihatnya, padahal kandungan istrinya sudah
sembilan bulan, tinggal menunggu waktu.
“Mudah-mudahan akan membawa rezeki
bagi kami!” begitu Ripin penuh harap.
Akan tetapi, rupanya Tuhan punya
kehendak lain. Manusia boleh berharap, tetapi
siapa yang mampu menolak takdir-Nya? Begitu
pula dengan Ripin, kelahiran anaknya kali ini
tak lagi membawa rezeki, bahkan sepertinya
semakin menjauhkan rezeki darinya. Seperti ia
yang menjauh dari Tuhannya, menjauh dari
tanggung jawab dan syukur. Bahkan roda
kehidupannya seperti tenggelam dalam pasir
isap yang terus menelannya. Kehidupan
ekonominya benar-benar terpuruk.
Keadaannya terasa lebih berat dengan empat
44
anaknya yang masih kecil-kecil. Mungkin
Tuhan telah menjatuhkan hukuman atas
segala kelalaiannya. Seperti firman-Nya “…dan
Dia meninggikan kamu atas sebagian lainnya
beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa
yang telah diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat hukuman-
Nya…”
Aku hanya bisa berharap, mudahmudahan
keempat anaknya tak ikut terperosok
ke dalam pasir isap kehidupan.
45
Matahari Merah
DEJA VU. Aku seperti merasakan kembali
kehadiran ayah sore ini. Matahari telah jatuh
ke barat, bersembunyi di balik pucuk mangga
yang kian menjulang. Pucuk mangga yang
dulu sama tingginya dengan tubuhku, kini
jauh meninggalkan aku hingga berlipat-lipat.
Matahari mulai kemerahan, pertanda sebentar
lagi bumi kehilangan cahaya. Kami selalu
menyukai cahaya matahari yang kemerahan.
Kata ayah, matahari sore yang berwarna merah
adalah matahari terbaik. Sinarnya masih
mampu memberi terang tanpa membakar.
Matahari merah ini mengingatkanku pada
masa dua puluh tahun silam, saat aku
memutuskan untuk berseberangan dengan
ayah atas keputusan yang aku ambil. Dengan
mantap dan penuh percaya diri, aku
membantah segala pikiran ayah, dengan segala
idealismeku yang masih sangat kental, aku
46
bersikukuh pada apa yang aku yakini.
Walaupun terpaksa aku harus kehilangan
tradisi moci tiap sore hari karena ayah tak
berselera lagi menikmati matahari merah.
Aku, bungsu dari tiga bersaudara, anak
lelaki satu-satunya adalah kesayangan ayah.
Perhatian ayah yang banyak tercurah padaku
sempat membuat iri kedua kakak
perempuanku. Sehingga mereka lebih memilih
untuk dekat dengan ibu daripada dengan ayah.
Akan tetapi belakangan baru kuketahui kalau
mereka lebih dekat dengan ibu bukan karena
merasa tak mendapat tempat di hati ayah
melainkan lebih karena mereka perempuan
yang tentu akan banyak meniru apa yang
dikerjakan seorang ibu daripada seorang ayah.
Aku sendiri memang lebih suka dekat dengan
ayah karena beliau tak terlalu banyak bicara.
Sangat berbeda dengan ibuku yang cerewet.
Ayah, seorang guru SD di kampung,
adalah sosok yang sangat menginginkan anakanaknya
dapat bersekolah hingga jenjang yang
47
paling tinggi. Kedua kakak perempuanku
memang hanya tamatan SMA. Tetapi, jenjang
itu adalah jenjang tertinggi yang pernah dicapai
oleh anak perempuan di kampungku.
Kebanyakan anak perempuan tetangga kami
hanya tamatan SD dan sebagian kecil lainnya,
yang bisa dihitung dengan jari tangan kanan
sempat menikmati bangku SMP. Sebenarnya
ayah menginginkan mereka melanjutkan ke
perguruan tinggi, tetapi mereka berdua tak
mampu mewujudkan keinginan ayah. Ayah
kecewa.
Tentu saja, harapan terakhir ayah
tertumpu di pundakku. Aku memang telah
digadang-gadang ayah sejak kecil. Segala
macam usaha ayah lakukan untuk membekali
diriku. Tiap malam aku dibimbingnya belajar.
Buku-buku yang dibeli ayah dari pasar loak
harus aku lahap hingga tuntas. Mungkin jika
di kampungku ada bimbingan balajar, sudah
pasti aku diikutkan. Memang hasilnya tak
48
mengecewakan, aku menjadi anak yang cukup
pintar hingga selalu berprestasi di kelas.
* * *
Matahari merah mulai mendekati garis
cakrawala di ufuk barat. Tampak bertengger
dengan anggunnya di atas kerimbunan pohon
yang berada jauh di seberang sawah. Beberapa
lembar awan putih mulai melayang menutupi
sebagian matahari merahku, membuatnya kian
jelita. Sementara angin menghembuskan aroma
tanah sawah yang siap ditanami padi.
Semuanya jadi sangat mempesona karena
duduk berdua bersama ayah menikmati
secangkir teh. Sampai saat aku utarakan
keinginanku yang langsung mendapat reaksi
keras dari ayah. Hingga mengubah segalanya.
“Cukup ayah saja yang menjadi guru di
garis keluarga kita!” kata ayahku sambil
memandangi burung-burung pipit yang terbang
pulang. Aku tak mampu menatap wajah ayah,
pandanganku hanya tertuju pada cangkir di
49
tanganku. Rasanya itulah pemandangan paling
aman daripada harus menatap mata orang
yang paling dekat dan paling aku hormati
selama ini. Secara fisik aku tak mampu
menentangnya, tetapi di tempurung kepalaku,
telah berjubel kata dan kalimat yang
menunggu giliran untuk dimuntahkan. Aku
masih diam menunduk.
Ayahku melanjutkan kata-katanya, ”Ayah
ingin kau menjadi insinyur pertanian, ahli
teknik, atau apa pun, asal tidak menjadi guru!”
Suasana sore itu benar-benar kaku,
mungkin sedikit menegangkan. Dengan
mengerahkan segenap keberanian, aku pun
berusaha menjawab, “Aku maklum kalau ayah
berkata demikian, karena seperti yang pernah
ayah bilang, ayah menjadi guru bukan atas
kemauan sendiri tetapi karena kakek
menghendaki demikian. Jadi, mungkin ada
keterpaksaan dalam melakoni pekerjaan,
sehingga ayah kecewa.” Aku agak tak percaya
dengan kelancaranku berkata-kata, hal ini
50
semakin memompa semangatku untuk
melanjutkan kata-kataku sebelum ayah sempat
menjawab.
“Mungkin ayah telah merasakan sendiri
bagaimana rasanya orang yang bekerja bukan
atas kemauan sendiri. Apakah ayah
menghendaki hal itu terjadi padaku?” rasanya
aku semakin berani saja berkata-kata.
“Bukan itu maksud ayah. Ayah hanya
tidak ingin perasaan bersalah yang terus
menghantui ayah selama ini menurun
padamu!”
“Maksudnya?” aku memang betul-betul
tidak paham dengan maksud kata-kata ayah.
Selama ini aku tak melihat kesalahan yang
terjadi pada diri ayah. Satu-satunya yang
menurutku salah hanyalah sikap ayah yang
tak menghendaki aku menjadi guru.
“Ayah merasa bersalah kepada kalian,
karena ayah tak pernah dapat mencukupi
kebutuhan kalian semua. Ayah tak mampu
51
memberi kalian tempat tinggal yang layak, yang
tak bocor kalau hujan, yang tak kepanasan
kala terik matahari memanggang. Ayah tak
pernah memberikan makanan yang lezat dan
bergizi tinggi untuk tubuh kalian. Dan kalian
anak-anakku, tak pernah sempat berekreasi
menikmati keindahan alam menjelajah negeri
ini karena ayah tak pernah punya uang lebih
untuk hal-hal seperti itu! Bahkan, ayah tak
mampu menjamin kelangsungan pendidikan
kalian, walaupun ayah guru!” ayahku berkata
sambil menahan sesuatu dari dalam hatinya.
Aku masih terdiam, seakan memberi
kesempatan ayah untuk mengungkapkan hal
lain yang mungkin masih bersemayam dalam
hati. “Guru adalah profesi terhormat yang
paling tak disukai! Dulu, orang tua ibumu, tak
setuju kalau ibumu ayah peristri! Sampai
sekarang pun kau bisa lihat sendiri kalau
kakekmu itu tak suka pada ayah. Menantu
yang miskin. tidak seperti menantu yang lain.
Bahkan, waktu ayah muda dulu, ada kata-kata
52
yang digunakan orang tua untuk menakutnakuti
anak perawannya yang bandel, ‘Awas,
kalau tak nurut, nanti aku kawinkan dengan
guru!’ menyedihkan sekali bukan?”
Sejenak aku pandangi matahari merah
yang kian merunduk dan ayah melanjutkan
kata-katanya, “Guru adalah pilihan orangorang
bodoh! Tidakkah kau amati, anak-anak
yang lolos PMDK, tak satu pun yang memilih
IKIP! Tidakkah kau tahu, anak-anak pintar dari
semua SMA selalu memilih menjadi dokter,
insinyur, sarjana hukum, sarjana ekonomi dan
profesi lain yang menjanjikan.”
Aku sama sekali tak menyalahkan ayah
tentang hal ini. Kenyataan memang berbicara
demikian, anak-anak yang masuk IKIP adalah
anak-anak yang tak diterima di perguruan
tinggi lain. Semua aku ketahui dengan pasti
saat aku mulai kuliah. Sebagian besar
temanku memilih IKIP karena terpaksa.
Terpaksa karena tak diterima di Universitas
lain, terpaksa karena sadar prestasinya hanya
53
pas-pasan. Dan ekonomi mereka juga tak jauh
beda dengan aku. Guru-guru yang tercetak
adalah sisa dari saringan dokter, insinyur dan
sebagainya.
“Kau adalah anak ayah yang pintar,
jangan sia-siakan otakmu hanya untuk
menjadi guru! Jangan kau lepaskan
kesempatan untuk meraih sesuatu yang lebih
baik!” kelihatan ayahku berusaha keras untuk
meruntuhkan semangatku.
Tapi aku rupanya mewarisi sifat ibuku
yang keras, “Maafkan aku ayah, bukan aku tak
menghargai keinginan ayah, tetapi aku hanya
ingin menjadi guru. Rasanya aku tak mampu
untuk mengabulkan keinginan ayah. Hal-hal
yang aku alami dan rasakan selama sekolah
membuat aku betul-betul ingin menjadi guru.”
“Apa yang kau harapkan dari profesi
guru? Apa yang kau tahu tentang guru,
sehingga ngotot ingin jadi guru? Tak kau
lihatkah ayahmu? Ayah telah membuat mereka
54
pandai membaca, menulis dan berhitung,
hingga mereka bisa sekolah sampai ke jenjang
paling tinggi. Sebagian mereka bahkan menjadi
pejabat, pengusaha dan orang terkenal! Tetapi
apa yang ayah dapatkan? Pemerintah hanya
memberi ayah sebuah lagu ‘Pahlawan Tanpa
Tanda Jasa’. Masyarakat hanya memberi
ucapan ‘Enak ya, jadi guru, jam dua belas
sudah di rumah, banyak liburnya lagi’. Apa itu
yang kau mau?” kelihatan ayahku mulai
meradang.
Sampai di sini, aku betul-betul tak habis
pikir, mengapa ayah berpikiran seperti itu
hingga ngotot melarang aku menjadi guru?
Satu-satunya jawaban yang paling
memungkinkan bagiku adalah, kehidupan
ayah yang pas-pasan telah menimbulkan
ketidaksukaan terhadap profesinya sendiri.
“Ayah hanya ingin kelak kau hidup
bahagia karena tercukupi segala
kebutuhanmu!”
55
“Materi memang penting ayah, tetapi itu
bukan satu-satunya hal yang membuat hidup
bahagia!” aku mencoba berfilsafat yang tentu
saja langsung dibantah ayah.
“Kau masih terlalu muda untuk mengerti
anakku, sekarang kau bisa berkata seperti itu.
Tetapi, saat kau sudah berkeluarga dan punya
anak, kau akan menyesali perkataanmu itu!”.
Setelah itu ayah meninggalkanku
sendirian dan mengakhiri kebiasaannya moci.
Segala usahaku untuk mengajak ayah duduk
kembali di kursi teras samping rumah
menikmati secangkir teh dengan balutan
matahari merah selalu gagal. Padahal seperti
biasa aku sediakan dua cangkir keramik putih
kecil dangan poci tanah liat yang pucuknya
mengepulkan asap teh wangi yang membuat
pecinta teh sejati akan tergoda. Namun ayah
terlalu tangguh menahan godaan, kini ayah
lebih tertarik menonton televisi daripada moci
bersamaku. Cangkir ayah tetap utuh sampai
56
matahari benar-benar tenggelam dan aku
terpaksa membereskan semua.
Sekali waktu aku mengajaknya secara
langsung, “Ayo, Pak, kita moci! Tehnya sudah
jadi. Mumpung masih panas!” Dan sebagai
pelengkap aku sesap teh di cangkir hingga
menimbulkan bunyi ‘sruutt’ yang cukup keras.
Namun ayah tetap bergeming. Bahkan
menjawab ajakanku pun tidak. Beliau benarbenar
kecewa dengan pilihanku.
Tetapi keinginanku untuk menjadi guru
rupanya sama kuatnya dengan pendirian ayah.
Diam-diam aku tetap melanjutkan cita-citaku
dan ayah diam saja menyaksikan sepak
terjangku selanjutnya.
Ayahku diam dalam arti yang sebenarnya.
Sejak saat itu, beliau tak lagi mau berbicara
denganku, bahkan saat aku pamitan untuk
merantau kuliah di luar kota pun, beliau
seakan sengaja menghindar. Tidak hanya itu,
biaya kuliah dan biaya hidup pun diberikan
57
penuh hanya pada tahun pertama saja. Untuk
tahun-tahun berikutnya, wesel yang
dikirimkan tak mencukupi untuk biaya hidup
sehari-hari. Belakangan kuketahui kalau
kiriman itu hasil upaya ibu menyisihkan uang
belanja tiap harinya tentu saja tanpa
sepengetahuan ayah.
Terpaksa aku harus membagi waktu
kuliah dengan bekerja apa saja untuk mencari
tambahan, menjadi pengantar koran, pencuci
piring di restoran, kadang diselingi dengan
menulis cerpen untuk koran lokal. Semua
kulakukan demi mewujudkan tekadku agar
dapat lulus kuliah dan menjadi guru!
* * *
Matahari tak tampak lagi, yang tersisa
hanya semburat merah di garis langit sebelah
barat. Seandainya ayah masih ada, tentu ia
akan segera menyuruhku membereskan meja
seraya beranjak masuk rumah. Tiba-tiba
handphone-ku berdering. Kulihat wajah
58
anakku tertera di layar, anak sulungku yang
cantik yang sekarang duduk di bangku kelas
sebelas. Ah, seandainya ayah masih bisa
menikmati matahari merah sore ini, tentu aku
tak akan memendam kecewa karena tak dapat
menunjukkan bahwa nasibku tak seburuk
yang ayah khawatirkan.
59
LAMPU NEON
Gelap. Maghrib baru saja lepas, tetapi
suasana seperti sudah sangat larut. Aku lihat
dari balik kaca jendela, pohon mangga yang
berada tepat di depan rumah terlihat samarsamar.
Sementara di seberang jalan, rumah
tetangga pun tak begitu jelas. Padahal,
biasanya tikus tanah yang keluar masuk
selokan di depan rumah pun akan dengan
mudah terlihat.
Aku buka pintu. Ternyata lampu neon
yang biasanya menerangi halaman rumahku,
mati! Aku pencet saklar, klik, masih gelap.
Klik, masih mati. Klik, tak terlihat juga
cahayanya. Terpaksa aku keluar untuk
memuaskan rasa penasaranku. Sebab belum
pernah lampu ini ngadat, kemarin pun aku
lihat nyalanya masih normal benderang. Setiap
menjelang maghrib, lampu pasti sudah aku
nyalakan, sebab aku sama sekali tidak suka
60
jika gelap lebih dulu menyergap memeluk
malam sebelum kusempat menyelimutinya
dengan sinar lampu.
Namun apa yang kulihat membuat
mulutku ternganga. Aku menatap lekat tempat
lampu yang sekarang: kosong!
“Astaghfirullah! Siapa pula yang berani
mengambil lampu neonku? Siapa yang begitu
miskin sampai-sampai lampu neon 15 watt-ku
pun diambilnya?” Aku mengumpat sambil
mencari-cari sesuatu di bawah tiang lampu,
siapa tahu lampunya jatuh. Namun yang
kutemukan hanyalah kegelapan yang mulai
membungkus bumi dengan rapatnya. Aku
tinggalkan tiang lampu yang kesepian dan
kedinginan dengan membawa tanya tak
berjawab.
“Bu, kau tahu lampu neon kita kemana?”
“Mungkin sedang jalan-jalan, bukankah
ini malam Minggu?” istriku menjawab
sekenanya.
61
“Aku serius, Bu, semalam kulihat masih
ada. Bahkan tadi pagi pun saat aku matikan
lampu masih di tempatnya.”
“Nggak tahulah, Pak! Masih ada urusan
yang lebih penting dibandingkan urusan
mengawasi lampu neon yang hanya bikin
rekening selangit!”
“Ee…,Bu! Kau jangan ngawur begitu. Aku
nggak nyuruh kamu mengawasi lampu neon
yang tak akan pernah berbuat macam-macam.
Aku hanya tanya, kau tahu tidak lampu neon
kita yang biasanya setia menerangi halaman
kita, menerangi jalan agar para pejalan kaki
tak sampai terperosok got atau saling
bertabrakan?”
“Aku nggak tahu. Kenapa sih, Pak, repotrepot
mengurusi lampu, lampu itu kan di luar
rumah, tak berpengaruh bagi kita. Yang
penting di dalam rumah kita sudah terang, aku
bisa menyiapkan makan malam dangan cepat.
Anak-anak bisa belajar dengan tenang dan
62
kamu bisa membaca koran dan buku-bukumu
dengan baik.”
“Jangan salah, Bu! Memang benar itu ada
di luar rumah, tetapi lampu itu bermanfaat
bagi orang-orang yang lewat di depan rumah
kita, Bu.”
“Alaaah sok sosial! Buat apa memikirkan
mereka, toh, mereka juga tidak pernah
memikirkan kita. Apa mereka pernah berterima
kasih kepada kita saat jalannya terang oleh
lampu kita!”
Mendengar kata-kata istriku yang
kelihatannya emosional, aku menghentikan
percakapan. Aku kembali duduk di ruang tamu
melanjutkan membaca berita koran tentang
pertandingan sepak bola tanah air yang ricuh
gara-gara ulah penonton. Panitia pertandingan
dan official tim tamu menolak untuk segera
melakukan pertandingan karena penonton
merangsek ke tepi lapangan, tepat di garis
lapangan, padahal garis penonton yang
63
ditandai dengan spanduk iklan berada lima
meter di belakang mereka. Inilah potret rakyat
negeri ini, yang selalu takut tidak mendapat
bagian, walaupun hanya untuk menonton
sebuah pertandingan. Padahal akibatnya
bukan hanya orang perorangan yang tak
kebagian, tetapi semuanya. Ya, semua tak
kebagian nonton sepak bola.
Aku lipat koran. Segera aku bersiap
keluar membeli lampu neon baru. Sementara
kulihat istriku sedang sibuk antara dapur dan
meja makan menyiapkan makan malam.
“Kemana, Pak? Nggak makan dulu?”
“Nanti saja sepulang dari toko, aku mau
beli lampu neon dulu.”
“Ya ampun, Pa…k, kenapa sih kau begitu
ngotot menerangi jalan. Sampai-sampai makan
malam kau lupakan, kau sia-siakan pekerjaan
istrimu!“ istriku berkata sewot sambil
meletakan tatakan gelas dengan keras di meja
makan.
64
“Bu, aku tak akan melupakan makan
malam dan menyia-nyiakan pekerjaanmu, aku
hanya menunda sebentar. Nanti sepulang dari
toko akan kuhabiskan semua yang tersedia di
meja makan tanpa sisa.” Aku mencoba
mencairkan keadaan.
Tanpa menghiraukan istriku lagi, segera
saja aku beranjak meninggalkan rumahku
yang kelihatan suram seperti tak berpenghuni.
Sesekali kutengok ke belakang melihat
rumahku dari kejauhan, kegelapan
menyelimuti rumah dan segala isinya. Tiba-tiba
aku merasa takut. Takut kalau aura kegelapan
merasuk ke dalam jiwa penghuninya.
Aku perhatikan, ada juga lampu neon di
depan rumah tetangga yang tidak menyala.
Aku tak tahu apakah sengaja tak dinyalakan
atau memang mati , atau sama seperti milikku,
hilang lampunya! Memang sesuai kesepakatan
warga dalam suatu rapat RT, setiap rumah
wajib menerangi halamannya dengan lampu
neon, dan dipasang di tepi jalan. Alasan yang
65
disampaikan Pak RT waktu itu adalah untuk
menerangi lingkungan agar pengamanan
mudah dilakukan. Dan yang lebih penting lagi,
suasana tidak gelap menakutkan yang bisa
mengundang hal-hal yang negatif.
* *
*
Aneh! Ini betul-betul tidak masuk akal.
Bagaimana mungkin lampu neon yang baru
aku beli kemarin sudah hilang lagi. Lampu
sudah tak ada lagi di tempatnya. Jalan di
depan rumahku gelap kembali. Aku mulai
menduga-duga. Pasti ada orang yang sengaja
mempermainkan aku. Mungkin pula ada yang
berniat jahat terhadapku atau keluargaku.
Sebab orang akan leluasa berbuat jahat di
tempat gelap. Aku pikir ini hanya awal saja,
pasti ada sesuatu yang lebih besar nantinya,
tidak hanya sekadar mengambil lampu neon.
Aku bertekad untuk mencari tahu siapa
yang melakukan, apa motifnya, kalau mungkin
66
menangkap basah pelakunya. Walaupun
harganya tak seberapa, tetapi perbuatannya
jelas-jelas tak dapat dimaafkan.
“Bu, lampunya hilang lagi, sudah tak ada
lagi di tempatnya!”
“Biarkan aja, Pak, kemarin aku juga
bilang apa. Tak usah kau repot-repot beli
lampu neon lagi, toh yang halamannya gelap
bukan cuma kita. Kau lihatlah rumah pak
Sujadi, dari dulu hingga kini tak pernah
dipasangi neon. Tiang lampunya dibiarkan
merana sendirian. Tidak apa-apa kan? Tak ada
sanksi dari pak RT kan?”
“Jangan kau samakan pak Sujadi dengan
kita, Bu!”
“Aku tidak menyamakan, aku hanya ingin
Bapak meniru pak Sujadi.”
“Kau ini aneh! Salah kok ditiru! Tirulah
yang baik, bukan yang jelek!”
67
“Jelek gimana! Bukankah justru bagus.
Menghemat listrik, berarti menekan besarnya
rekening.”
“Tetapi tetap melanggar kesepakatan
warga. Itu namanya membuat peraturan tetapi
dilanggar sendiri!”
“Sudahlah, sesekali melanggar atau
berbuat salah kan nggak apa-apa, yang penting
menguntungkan kita!”
“Aku tetap tak setuju, Bu. Kita sekali-kali
jangan sampai meniru apalagi iri terhadap
sesuatu yang salah, walaupun kelihatannya
menguntungkan!”
Percakapan berakhir. Aku terdiam sambil
memikirkan langkah yang harus kuambil. Ada
benarnya juga istriku, tidak memasang lampu
berarti menghemat listrik seperti anjuran
pemerintah. Dan seperti Sujadi, pak Tomo
kulihat lampunya sering tidak menyala. bu
Tuti, yang janda itu, juga sering membiarkan
halaman rumahnya gelap. Tetapi apakah aku
68
harus seperti mereka? Melanggar kesepakatan
bersama? Tidak! Aku tidak mau ikut-ikutan
mereka!
Aku jadi ingat obrolan dengan pak Tomo
saat hendak berangkat mengajar tadi pagi .
“Sebaiknya nggak usah dibelikan lagi,
paling nanti akan hilang juga! Aku sendiri
sudah beberapa lama tak memasang lampu.
Agak gelap memang, tetapi rasanya lebih
nyaman dan tidak mengundang pandangan
orang.”
“Wah, kalau begitu kita berseberangan,
Pak! Aku sendiri lebih menyukai suasana yang
terang agar hati dan pikiran kita juga ikut
terang.”
Aku agak tercenung dengan berita yang
disampaikan pak Tomo. Memang bukan tidak
mungkin seluruh lampu neon yang ada nanti
akan hilang. Begitu pula jika aku belikan
lampu baru, mungkin nanti akan diambi lagi.
69
Tetapi aku sama sekali tidak suka kegelapan.
Jadi, harus aku beli lagi!
* *
*
Beberapa malam ini aku jadi lebih rajin
duduk di dekat jendela ruang tamu sambil
membaca buku. Bukan untuk menunggu
tamu, tetapi karena dari tempat inilah aku bisa
lebih leluasa melihat keadaan halaman sambil
mengawasi lampu neonku. Aku khawatir
lampunya akan hilang lagi, sebab ini lampu
neonku yang ketiga. Dari tempatku duduk, aku
bisa melihat dengan baik siapa yang melintas
di bawah sinar lampu neonku yang benderang.
Kulihat Tuti, janda yang ada di depan
rumahku melintas, kulihat dengan jelas sambil
berjalan matanya melihat lampu neonku.
Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin
mengagumi cahaya terangnya, mungkin juga
risih karena dirinya bisa terlihat jelas saat
berada di bawahnya, atau heran mengapa aku
70
masih tetap memasang lampu neon walaupun
sudah hilang beberapa kali.
“Oh, ternyata Bapak ngotot untuk
memasang lampu agar bisa cuci mata melihat
janda itu, ya! Pakai alasan tidak suka gelap
segala!” Tiba-tiba istriku muncul dengan
tuduhan yang tak beralasan. Aku hanya diam
saja membiarkan ia dengan tuduhan dan
pikirannya sendiri. Rasanya tak perlu aku
berdebat apalagi bertengkar dengan istri hanya
gara-gara persoalan yang tak penting.
“Sekarang aku tahu mengapa bu Tuti
menganjurkanku untuk tak memasang lampu,
rupanya ia tak suka kalau Bapak sering
memandanginya! Itu sebabnya mengapa lampu
halamannya sekarang tak pernah lagi
menyala!”
“Kau jangan ngawur, Bu! Aku tak
serendah seperti yang kau sangkakan! Dan
lagi, bagaimana Tuti tahu kalau aku sering
memandanginya? Aku yakin ini hanya fitnah
71
keji yang hanya akan menggoyahkan rumah
tangga kita, Bu!”
“Sudahlah, yang pasti aku lebih suka
kalau lampunya kita matikan saja. Pak Tomo
juga menyarankan demikian, apalagi setelah
beberapa tetangga tidak lagi menyalakan
lampu halamannya. Lumayan, Pak, untuk
menghemat rekening listrik!”
“Tidak! Jangan kau matikan lampunya!
Biarkan tetap menyala!”
“Rupanya kau lebih sayang lampu
daripada istrimu sendiri, Pak! Baiklah, malam
ini tidurlah kau dengan lampu kesayanganmu
itu!”
Ternyata, persoalan yang aku anggap
remeh dan kecil ini ditanggapi dengan begitu
serius oleh istriku. Begitu seriusnya istriku
menanggapi hingga akibatnya malam ini aku
tidur di kursi tamu. Tentu saja dengan lampu
yang terus kubiarkan menyala terang. Aku
berharap mudah-mudahan terangnya sinar
72
lampu akan membuat hati dan pikiranku juga
terang, siapa tahu bisa aku tularkan kepada
istriku.
Sesaat sebelum aku memejamkan mata,
sebelum aku mendapatkan kursi yang nyaman
untuk berbaring, aku sempatkan untuk
melihat halaman melalui kaca jendela. Kulihat
lampu neonku masih menyala terang hingga
jalan tampak terlihat jelas, daun mangga
tampak bergoyang ditiup angin malam, seekor
tikus tanah berlari menyeberang jalan menuju
tempat sampah yang ada di depan rumah bu
Tuti yang hanya samar terlihat. Tiba-tiba
kulihat sesuatu yang merupakan jawaban dari
semua pertanyaan dan penyelesaian
persoalanku.
* * *
Malam ini dengan perasaan agak waswas,
aku ajak istriku untuk menyaksikan
sendiri sesuatu yang menurutku bisa
73
melunakkan sikapnya. Aku ingin agar istriku
tak lagi ngotot untuk menyuruhku gelapgelapan.
Apalagi menuduhku yang macammacam.
Aku ingin membuktikan bahwa lampu
neon yang aku beli berulang kali tidaklah siasia.
Maka aku sangat berharap agar peristiwa
yang semalam aku lihat, akan terulang lagi
malam ini. Aku agak yakin dengan hal ini.
Dengan agak malas, istriku duduk tenang
di kursi tamu. Aku sendiri tak bisa duduk
tenang. Aku gelisah. Duduk, bangun, berulang
kali sambil terus-menerus melihat keadaan
halaman melalui kaca jendela. Tingkahku
persis seperti saat menunggui istriku
melahirkan anak pertama. Atau seperti gadis
menunggu pujaan hati yang tak kunjung
datang. Kulihat jam dinding, pukul 23.30.
Akhirnya, sesuatu yang aku tunggutunggu
datang juga. Tirai jendela yang sengaja
kubuka lebar-lebar, membuat kami leluasa
melihat keluar. Sementara lampu ruang
sengaja kumatikan agar tak terlihat dari luar.
74
Aku tepuk pelan-pelan pundak istriku yang
kelihatannya mulai mengantuk.
“Sekarang bukalah matamu lebar-lebar,
lihatlah siapa yang berjalan pelan berjingkat
memasuki halaman rumah di depan kita!”
“Pak Tomo?” istriku berkata agak tak
percaya, ”mau apa ia malam-malam ke rumah
bu Tuti? Mengapa berjalan sambil tengaktengok?”
Kututup mulut istriku dengan jari
telunjuk agar tak berkata-kata lagi. Kali ini
istriku menurut. Kami berdua melihat dengan
seksama, mungkin tanpa mengedipkan mata.
Kulihat, tanpa perlu mengetuk, pak Tomo
langsung membuka pintu. Sementara dari
dalam rumah, bu Tuti menyambut dengan
pelukan mesra. Semuanya terlihat samarsamar
karena lampu neon bu Tuti tak lagi
menyala.
Tirai jendela aku tutup, lampu aku
nyalakan lagi. Kulihat wajah istriku masih
75
penuh tanda tanya. Sesaat kemudian, matanya
beralih memandangku dengan penuh
penyesalan. Alhamdulillah, mulai malam ini
lampu neonku kembali bebas menerangi
rumah dan kehidupanku.
76
O m B u d i
Lelaki itu bernama Budi, aku biasa
memanggilnya dengan Om Budi. Perawakannya
pendek dan agak kurus. Tetapi memiliki otototot
yang kuat di bawah kulitnya yang sawo
matang. Sorot matanya memancarkan
semangat kerja keras. Dan memang
kenyataannya aku jarang melihat Om Budi
bermalas-malasan atau pun santai berlamalama.
Walaupun aku memanggilnya dengan
sebutan Om, tetapi tidak berarti ia adik dari
bapak atau ibuku. Bahkan asal-usulnya yang
pasti aku tidak tahu, siapa orang tuanya dan
dari mana asalnya. Aku dulu pernah
menanyakannya, tetapi ia tak mau menjawab,
bahkan air mukanya seketika menjadi keruh.
Aku tak tega dan sejak saat itu aku tak pernah
tanya-tanya lagi tentang hal itu.
77
Aku hanya tahu kalau Om Budi dibawa
ayah dari pasar Langon sepuluh tahun yang
lalu. Saat itu aku baru kelas satu SD. Aku tak
tahu kenapa aku langsung akrab dengannya.
Mungkin karena aku tidak mempunyai teman
bermain di rumah, atau mungkin karena Om
Budi yang pintar mengambil hatiku dan sayang
kepada anak kecil. Yang pasti sejak saat itu
aku lengket dengannya.
Om Budi menempati kamar di samping
rumah agak ke belakang bekas gudang yang
tak lagi dipakai. Dia sangat berterima kasih
kepada keluargaku, terutama kepada ayahku
karena memberikan tempat berlindung.
Sebelumnya ia tidur di los pasar. Siang hari
pasar itu jadi tempat mencari uang sebagai
buruh angkut, malamnya ia gunakan sebagai
tempat tidur.
Sejak Om Budi tinggal bersama kami, ia
tak lagi kerja di pasar, tapi kerja di rumah
membantu ayah membuat kacang klitik. Usaha
kecil-kecilan yang ditekuni ayah sejak lama ini
78
mampu menghidupi kami sekeluarga. Ayah
memang ulet, sehingga kini ia mempunyai lima
orang karyawan, termasuk Om Budi. Dan
rupanya, kehadiran Om Budi tidak sia-sia. Ia
pekerja keras yang cepat belajar. Kalau semula
ia hanya bertugas mengangkut kacang hijau
dari pasar ke rumah, kamudian
membersihkannya, kini ia sudah mahir
mengupas, menggoreng bahkan
membumbuinya. Karena itu tak heran jika
ayah kemudian mempercayakan proses
pengolahan kacang klitik ini kepada Oom Budi.
Pemuda yang tak kenal lelah bekerja sepanjang
hari.
Di sela-sela kerja kerasnya, aku ingat
kebiasaan Om Budi saat istirahat makan siang,
ia pasti akan berbaring di bangku panjang di
bawah pohon jambu yang rindang. Aku sering
menemaninya duduk-duduk di situ,
mendengarkan ceritanya sambil menikmati
tiupan angin. Di saat seperti itulah aku sering
bermanja-manja kepada Om Budi. Aku tiduran
79
di sampingnya, sesekali ia membelai kepalaku.
Kadang Om Budi melucu, dan ia selalu
sanggup membuatku tertawa.
* *
*
Suatu hari sepulang sekolah, aku tak
mendapatkan Om Budi di tempat biasanya.
Ternyata ia sedang berada di warung
menikmati es campur. Hari-hari berikutnya, ia
sering sekali berada di warung itu seakan telah
melupakan bangku panjang dan belaian angin
di bawah pohon jambu. Beberapa hari
kemudian barulah aku tahu mengapa Om Budi
melupakan bangku panjangnya. Ia menyukai
Narti, gadis penjaga warung yang akhirnya ia
nikahi setelah mendapat restu ayah.
Setelah melampaui upacara pernikahan
yang sederhana, mereka tetap tinggal di rumah
kami, menempati kamar Om Budi. Kami semua
memang telah menganggap Om Budi sebagai
keluarga sendiri. Di samping ia memang
80
sebatang kara, kami juga menyukai sifat Om
Budi yang pandai membawa diri. Kulihat
mereka sangat bahagia. Wajah Om Budi
tampak selalu cerah sehingga lebih bergairah
dalam bekerja. Sedangkan Narti begitu sigap
melayani Om Budi, suaminya, walaupun masih
tetap menjadi penjaga warung.
Namun, kebahagiaan mereka sepertinya
tak bertahan lama. Tak sempat menikmati
bulan madu karena mereka memaksakan terus
bekerja. Tak sempat menimang buah cinta
mereka karena benih yang mereka tanam tak
juga tumbuh. Tepat setahun mereka bercerai!
Kami semua sangat menyayangkan hal ini.
Tetapi kami tak bisa berbuat banyak sebab ini
adalah keputusan Om Budi. Kata ayah, biarlah
Om Budi menentukan jalan hidupnya sendiri.
Aku tak tahu pasti sebab perceraian
mereka, semuanya terasa tiba-tiba sama
seperti pernikahan mereka yang juga tiba-tiba.
Tetapi kata ayah dan beberapa karyawan
teman Om Budi, mungkin Narti diceraikan
81
karena perilaku kehidupannya tak berubah
walaupun statusnya telah berubah. Ia masih
saja sering melayani keusilan tamu-tamu
pelanggannya. Mungkin Om Budi tak mau
menerima hal ini. Tetapi Narti berdalih semua
dilakukan hanya untuk menarik pembeli.
“Aku sudah tak tahan mendengar
igauannya setiap malam!” begitu Om Budi
akhirnya mau bercerita kepadaku, “tapi tolong
jangan kau katakan rahasia ini kepada siapa
pun, termasuk ayahmu!”.
“Memangnya, apa yang diigaukan mbak
Narti, sampai-sampai Om Budi harus
menceraikannya?”
“Kata-katanya membuka luka lama. Ah,
sebaiknya kau nggak perlu tahu!” ia tak ingin
berbagi cerita rupanya.
Aku tidak memaksanya. Om Budi
memang termasuk pendiam, jarang sekali
bercerita, apalagi menyangkut masalah
kehidupan pribadinya. Aku hanya menerka,
82
kalau yang diigaukan adalah kejadian siang
hari di warung mbak Narti. Yang menurut
cerita orang, apa yang dilakukan mbak Narti
dengan beberapa pelanggannya memang
kurang senonoh. Ah, kasihan kau Om Budi!
Sekarang Om Budi makin gila kerja.
Seharian ia sibuk dengan pekerjaannya;
melupakan istirahat dan melupakan orangorang
di sekitarnya. Mungkin untuk
menghilangkan kesedihan hatinya dan
melupakan kegagalan perkawinannya. Ia
terlihat makin pendiam dan wajahnya terlihat
murung, kulit mukanya memucat. Om Budi
terkena sakit lever.
Ayah menghendaki Om Budi dirawat di
rumah sakit, tetapi Om Budi berkeras untuk
tetap di rumah, hanya berobat jalan. Bahkan ia
tetap memaksakan bekerja, walaupun dengan
porsi ringan. Lengkaplah deritanya. Hinga
senyum tak pernah singgah di bibirnya. Satusatunya
hal yang membuatnya ceria adalah
saat menonton film silat kegemarannya. Dan
83
setiap malam, dari kamarnya akan terdengar
teriakan-teriakan yang riuh, seakan-akan
mewakili keriuhan hatinya.
Untuk terus membuatnya ceria, setiap
Sabtu sore, dengan sepeda motor, aku
antarkan Om Budi ke tempat persewaan VCD.
Kadang aku ajak ia putar-putar kota, dudukduduk
di alun-alun atau menikmati matahari
tenggelam di pantai. Namun, keramaian kota di
sore hari dan keindahan semburat merah
matahari di ujung laut tak mampu membuat
Om Budi ceria. Ia tetap tenggelam dengan
perasaannya.
Walaupun demikian, sedikit demi sedikit
aku mulai bisa menyelami isi hati Om Budi.
Kadang ia pun mulai berani untuk
mengungkapkan perasaannya, pikirannya dan
membuka sedikit rahasia hatinya yang
sebelumnya tertutup rapat.
Ia mulai mengungkapkan sendiri
bagaimana perihnya hidup ditinggalkan oleh
84
kedua orang tuanya dalam waktu berdekatan.
Saat berumur sepuluh tahun, ayahnya
meninggalkan ia dan ibunya karena tersuruk
dalam pelukan wanita lain.
“Kata ibuku, sebenarnya bapak sudah
punya istri waktu menikahi ibu.” begitu Om
Budi mengawali kisahnya. Ia menggigit
bibirnya, sambil mengatur nafas memberi
ruang paru-parunya, kemudian mulai
melanjutkan kisahnya. “Sebagai sopir truk,
bapakku selalu mampir untuk makan di
warung ibu, hingga akhirnya ibu menyerah
untuk dinikahinya walaupun tahu kalau bapak
sudah beristri. Hingga setahun kemudian
lahirlah aku.”
“Sebenarnya kehidupan kami normal saja.
Sampai pada suatu hari bapak dan ibu
bertengkar karena bapak jarang pulang hingga
berminggu-minggu. Padahal biasanya tiga hari
sekali bapak pulang. Ibu mengira bapak
kembali ke istri lamanya, tetapi bapak berterus
terang bahwa ia sudah mempunyai istri baru
85
lagi. Dan hari itu menjadi hari terakhir aku
melihat wajah bapakku.” Om Budi menghirup
udara pantai dalam-dalam, sementara matanya
menikmati merahnya matahari sore yang
segera tertelan air laut.
“Apa yang terjadi setelah itu?”
“Ibu menyesali diri, mengapa ia dulu tega
merebut suami orang. Hingga ia merasa bahwa
kepergian bapak menikahi perempuan lain
sebagai hukum karma yang harus diterimanya.
Akhirnya ibu sakit-sakitan dan meninggal
dunia.” tutur Om Budi. Wajahnya seperti
pucuk gunung yang selalu diselimuti kabut,
walaupun sinar matahari sering melecut, tetapi
tak mampu mengenyahkan kabut itu
selamanya.
Sejak saat itu dimulailah petualangan
Om Budi menyambung hidup. Ia isi perutnya
dengan bekerja kasar sebagai buruh angkut di
pasar. Ia selalu berpindah dari satu pasar ke
pasar yang lain. Dari satu kota ke kota yang
86
lain, tentunya sambil berharap bisa
menemukan ayahnya yang hilang. Sampai
akhirnya ia terdampar di pasar Langon dan
diajak ayah ke rumah.
* * *
Sepulang sekolah, aku mencari Om Budi
di bangku panjang di bawah pohon jambu.
Kulihat ia terbaring dengan setelan rapi, celana
biru dan baju putih. Rambutnya tersisir rapi.
Penampilan yang benar-benar baru. Kudekati
ia, kulihat matanya terpejam, wajahnya
memancarkan senyum. Sangat damai. Tetapi
tubuhnya membeku, kugoncang diam saja.
Kupegang pergelangan tangan, tak ada denyut!
Aku langsung menghambur ke rumah. Kuberi
tahu ayah.
Menjelang pemakaman, kulihat Narti ikut
berduka. Kuperhatikan ternyata mata Om Budi
dan Narti sangat mirip. Mata yang diturunkan
oleh benih yang sama. Narti, tahukah kau
bahwa igauanmu menyebut nama ayah yang
87
telah meninggalkanmu, membuat Om Budi
terpaksa menceraikanmu? Tahukah kau bahwa
perkawinan denganmu membuat ia merasa
sangat berdosa? Bahwa igauanmu menjadi
peneguh kalau kau adalah adiknya? Ah,
semua telah menjadi masa lalu, masa lalu yang
telah membungkus penderitaan Om Budi.
Sekuntum bunga kamboja tertiup angin
menerpa wajahku. Kuambil dan kuletakkan di
atas pusara Om Budi, “Semoga di sana kau
akan menemui kebahagiaan.”
88
AKU DAN GEMPA
Entah ada angin apa sehingga hari ini
Tuanku begitu memperhatikan aku. Padahal
biasanya dilirik pun tidak. Kadang kalau dia
lewat aku malah sering ditabraknya.. Padahal
aku ditempatkan di pojok yang lembab. Dan
aku akan dibiarkannya berlama-lama di sini
sampai kecoa-kecoa sialan itu mengencingiku,
sampai tubuhku kedinginan dan digigiti tikus
tanah yang baunya minta ampun.
Perlakuan yang aku terima hari ini
membuatku heran. Tiba-tiba Tuanku
mengambilku dari pojok yang lembab. Semua
benda yang menindih tubuhku
disingkirkannya. Barang-barang yang selama
ini membebaniku diambilnya. Segala kotoran
kecoa dan kotoran tikus tanah dibuangnya.
Sampai-sampai debu yang menempel
dibersihkan dengan kain lap kaos bekas. Aku
89
bisa bernafas lega. Terakhir, aku dijemur di
bawah sinar matahari yang menyengat di atas
atap seng.
Keherananku pada sikap Tuanku
semakin bertambah. Kini tubuhku dilurusluruskan,
dirapikan. Kalau aku manusia,
mungkin aku sedang dipijiti sambil dielus-elus
dan disayang. Seperti yang sering aku lihat
saat mereka menonton TV. Istri Tuanku
kadang manja minta tubuhnya dipijit karena
katanya capek seharian mengurus rumah
tangga. Dan walaupun Tuanku tak kalah capek
mencari nafkah seharian, dengan senang hati
ia melakukannya. Hal itu kuketahui dari
ekspresi wajah mereka yang memancarkan
aura kebahagiaan dan kepuasan.
Ternyata kebaikan Tuanku tidak hanya
sampai disitu, setelah tubuhku rapi, aku diberi
baju dari kertas koran bekas yang menutup jati
diriku sepenuhnya. Lalu aku ditempeli kertas
putih bertuliskan spidol hitam yang tak bisa
kubaca. Maklumlah aku tak pernah sekolah.
90
“SUMBANGAN KORBAN BENCANA
ALAM SUMATERA” Tuanku membacakan
tulisan yang telah ditempel ditubuhku.
Kemudian ia memandangiku, mengamatiku
dari segala sudut. Wajahnya memancarkan
sinar kepuasan dan harapan.
“Sudah siap ,Bu! Kau lihatlah ini!”
Tuanku memperlihatkan aku kepada istrinya.
“Ya, cukup bagus. Cepat ganti baju
yang rapi biar seperti orang terpelajar!” istrinya
tampak tak sabar.
Sejurus kemudian kulihat Tuanku
sudah mengenakan baju lengan panjang warna
biru muda dipadu dengan celana hitam yang
dibelinya waktu lebaran tahun kemarin.
Setahuku itulah satu-satunya pakaiannya yang
terbaik. Rambutnya disisir rapi. Sayangnya ia
tak bersepatu. Ia hanya memakai sandal usang
yang tak pernah kena semir atau hanya
sekedar dicuci. Agak kurang cocok dengan
pakaiannya yang cukup rapi. Dalam keadaan
91
seperti itu, Tuanku tidak tampak sebagai
buruh harian di pasar.
“Segeralah berangkat! Kau berdiri saja
di lampu merah jalan raya sana, seperti waktu
bencana tsunami Aceh dulu, juga saat gempa
di Jogja. Ini saatnya orang pulang kerja,
apalagi ini bulan puasa. Pasti banyak orang
yang mau menyumbang. Karena pahalanya
akan dilipatgandakan” istrinya berkata demi
dilihatnya Tuanku sudah rapi.
Kini aku agak paham mengapa aku
mendapatkan perhatian lebih baik dan
perlakuan yang cukup menyenangkan. Aku
akan digunakan untuk mengumpulkan
sumbangan dari para pengguna jalan raya
untuk korban bencana alam yang terjadi
kemarin. Menurut berita, gempa berkekuatan
6,9 skala Richter itu telah menghancurkan
beberapa kota dan menewaskan ratusan orang.
Diperkirakan jumlah korban akan terus
bertambah sebab banyak yang tertimbun
bangunan yang roboh. Maklum, saat gempa
92
yang terjadi pukul 18. 53 itu kebanyakan orang
masih berada dalam rumah mempersiapkan
diri untuk tarawih pertama. Ramadhan
pertama yang selalu disambut umat muslim
dengan suka cita.
Aku bangga juga bisa ikut meringankan
beban mereka yang telah kehilangan segalanya
itu. Walaupun tentu saja dengan caraku
sendiri, menyediakan tubuhku jadi tempat
penampungan sumbangan. Aku sangat
berharap dapat menampung sumbangan
sebanyak-banyaknya agar dapat digunakan
untuk membangun kembali rumah mereka
yang ambruk.
* * *
Sumbangan pertama yang masuk
tubuhku adalah selembar uang ribuan.
Kertasnya sudah lecek dan agak kotor dengan
banyak lipatan di sana-sini seperti habis
diremas-remas. Baunya sama sekali tidak
enak, kalau aku punya hidung mungkin aku
93
akan bersin-bersin. Tampaknya uang ini
memang sudah tak diperhitungkan lagi oleh
pemiliknya. Sudah dianggap tidak ada.
Mungkin pemiliknya memang ingin
membuangnya dan kebetulan ada aku yang
menyediakan diri sebagai tempat pembuangan.
Tetapi tak mengapa, aku harus menerima ini.
Rejeki dari Tuhan untuk korban bencana tak
mungkin aku tolak.
Setelah yang pertama, agak lama juga
untuk dapat yang kedua. Walaupun tiap lampu
merah menyala Tuanku segera menghampiri
pengendara yang berhenti. Rata-rata mereka
sengaja diam. Ada juga yang melirik dan
tersenyum kecut. Ada yang mencoba tetap
ramah walaupun tak sempat memberikan
sesuatu. Sepertinya ada sesuatu yang
menghalangi mereka memberikan perhatian.
Saat Tuanku mendekati seorang yang
berseragam, aku berharap dapat suatu yang
berarti, ”Sumbangan untuk korban gempa ,
Pak?”
94
“Atas nama siapa Saudara
mengumpulkan sumbangan?” orang itu
bertanya.
Tuanku kebingungan mendapatkan
pertanyaan seperti itu. Tetapi ia cepat tanggap
dengan mengingat apa yang pernah ia lihat di
TV. “Atas nama Masyarakat Peduli Bencana,
Pak!” Tuanku menyebutkan sebuah nama.
“Kok, nggak pakai tanda pengenal?”
“Kami tak dibekali tanda pengenal., Pak”
“Kenapa sendirian? Surat tugasnya
mana?”
Mendapat pertanyaan-pertanyaan
seperti itu , Tuanku kurang senang rupanya.
Kelihatan sekali orang itu tak berniat memberi
sumbangan. Aku jadi ikut-ikutan kesal. Tanpa
permisi, Tuanku pindah ke sopir truk luar kota
yang membawa muatan. Sebelum Tuanku
sempat berkata-kata, sopir itu telah
menyodorkan selembar lima ribuan dengan
tenang nyaris tanpa ekspresi. Aku senang.
95
Pemberiannya sangat ringan seringan debu
yang beterbangan ditiup angin. Pemberiannya
spontan tanpa tendensi macam-macam seperti
sinar matahari yang sampai sore ini masih
memanasi jalan raya.
* * *
Hari menjelang maghrib ketika aku
sampai di rumah. Tuanku langsung mengambil
uang dari dalam tubuhku dan menghitungnya.
Sedangkan aku dilemparkan begitu saja di atas
kursi dekat TV. Memang ruang ini adalah
pusat kegiatan keluarga. Segalanya dilakukan
di sini. Makan, nonton TV, ngobrol, dan
menerima tamu. Ruang lain yang ada hanyalah
berupa satu kamar tidur , dapur dan kamar
mandi. Atapnya rendah sehingga agak pengap
dan panas, apalagi di bagian teras atapnya
terbuat dari seng yang sudah karatan dan
banyak berlubang.
“Hanya tujuh belas ribu rupiah!” suara
Tuanku mengejutkanku. Terdengar nada
96
kecewa dalam suaranya yang pelan tak
bergairah.
“Mungkin karena hari sudah sore.
Padahal aku sudah berharap besar karena
sekarang bulan puasa” suara istrinya
mengandung harapan akan sesuatu yang lebih
baik esok hari.
“Besok akan kumulai lebih awal, aku
akan pulang cepat dari pasar.” Tuanku pun
berharap esok lebih banyak lagi yang memberi
sumbangan.
* * *
Ternyata hari-hari berikutnya
keadaannya tak jauh beda. Walaupun aku dan
Tuanku sudah berpanas-panas. Bersedia
menanggung polusi asap kendaraan dan debu.
Menahan malu dengan meminta-minta, yang
tak jarang kami mendapat sambutan
menjengkelkan. Hasilnya tetap saja minim.
Akhirnya Tuanku menghentikan
kegiatannya. Apalagi gempa kali ini tak banyak
97
digembar-gemborkan kedukaannya. Mungkin
Indonesia sudah jenuh dengan bencana,
apalagi gempa.
Tetapi hati Tuanku benar-benar mulia.
Di tengah kekurangannya, di tengah himpitan
kehidupan, di tengah kejamnya dunia, ia masih
sukarela membantu korban bencana walaupun
hanya dengan mengumpulkan sumbangan dari
masyarakat.
“Hari ini aku akan ke pasar membeli
beras dan pakaian anak-anak. Nanti kita
berangkat sama-sama ya!” istri Tuanku
terdengar riang berkata, beda dengan biasanya
yang selalu ketus.
“Jangan kau habiskan semua,
berhematlah! Dan jangan lupa beli susu untuk
anak-anak. Kasihan sudah lama mereka tidak
minum susu!” Tuanku mengingatkan istrinya.
“Uang yang terkumpul hanya dua ratus
lima ribu perak!, Sangat sedikit. Mudahmudahan
nanti ada sisanya.”
98
Demi mendengar percakapan ini, maka
segala kekaguman dan pujianku beberapa saat
lalu musnah. Dihancurkan kenyataan bahwa
Tuanku memang bangsat! Kurang ajar! Menipu
para penyumbang dan memakan harta para
korban bencana yang sedang menderita. Aku
benci dan marah karena Tuanku telah
melibatkanku dalam penipuan ini.
Aku sangat menyesal. Aku ingin
merampas uang yang ada di tangan istri
Tuanku dan memberikannya kepada korban
bencana. Tetapi semua tak mungkin
kulakukan, bahkan untuk minta maaf kepada
mereka pun aku tak bisa. Aku hanya sebuah
kardus bekas.
99
E M A K
Klak kluk klak kluk… suara sepatu
terdengar nyaring di pagi buta. Suara yang
cukup teratur dan kian keras itu telah
membuatku terbangun. Dengan malas aku
berusaha membuka mata. Samar-samar,
dengan kelopak setengah terbuka aku melihat
beberapa orang berseragam putih-putih
mendorong tempat tidur. Di atasnya terbaring
sesosok tubuh yang tertutup rapat oleh kain
putih. Innalillahi wa inna illaihi rojiun,
meninggal dunia. Aku mencoba memejamkan
mata kembali. Ya, mata ini masih sangat berat
untuk membuka kelopaknya. Tetapi, walaupun
mata sudah kukatupkan begitu kuat, aku tak
bisa tidur lagi. Hati dan pikiranku tak mau lagi
istirahat.
Terpaksa aku bangkit duduk. Kugaruk
kaki dan tanganku yang terasa gatal akibat
gigitan nyamuk. Aku menggeliat kanan kiri
100
sambil melemaskan otot punggungku yang
terasa sakit akibat kerasnya bangku putih
panjang yang aku jadikan tempat tidur. Kulihat
jam, pukul empat. Sebentar lagi subuh
menjelang. Beberapa orang keluarga pasien
kulihat masih terlelap tidur. Bahkan ada
diantaranya yang mendengkur. Aku hanya
memandang iri sebab sudah beberapa hari ini
aku tak pernah lagi bisa tidur nyenyak.
Sebentar kutengok emakku yang tengah
terbaring lemah di ruang ICU, dadanya kulihat
bergerak turun naik dengan sangat lemahnya,
hampir tak terlihat. Di lubang hidungnya
terpasang selang kecil dan di pergelangan
tangannya sebuah jarum infuse menancap.
Aku hanya bisa menatapnya dari luar sebab
keluarga pasien tidak boleh menunggu di
dalam. Selembar kaca bening menjadi penyekat
antara emak dan aku.
Ingin sekali rasanya aku mengelus
tangan emak, memijit kakinya dan mengusap
kepalanya seperti yang selalu ia lakukan
101
kepada anak-anaknya menjelang tidur, apalagi
saat kami sakit. Aku masih merasakan betapa
usapan tangan emak terasa sangat sejuk,
sangat lembut sehingga aku merasa sangat
nyaman. Waktu kami kecil, setiap menjelang
tidur kami selalu berebut minta sekedar
diusap-usap keningnya. Bahkan sering kali
aku minta dipijiti. Emak memang sangat
memanjakan kami. Walaupun jika bapak tahu
hal ini, beliau akan sangat marah karena
menurutnya kebiasaan dipijit menjelang tidur
adalah sesuatu yang jelek, yang akan terus
terbawa sampai tua. Sekarang kulit tangan
emak yang dulu lembut, tampak keriput. Berat
badannya yang semakin menyusut membuat
kulitnya tampak mengendur.
Pagi ini kurasakan amat dingin, angin
yang berhembus perlahan rasanya seperti
menembus kulitku sampai jauh menembus
relung hatiku. Membuat hatiku terasa pilu.
Aku sedih memikirkan emak yang tak kunjung
sembuh, bahkan sepertinya semakin
102
memburuk. Tiba-tiba suara adzan
membuyarkan lamunanku. Aku segera
beranjak untuk memenuhi panggilan-Nya.
* *
*
Semenjak bapak tiada, maka di rumah
ini hanya tinggal kami berdua. Ketiga orang
kakakku sudah berumah tangga dan
semuanya tinggal di luar kota. Mas Agus
merantau ke Jakarta, setelah tiga tahun
menganggur sejak lulus STM. Sesaat sebelum
meninggalkan Tegal, ia mengatakan padaku -
hanya padaku- bahwa ia tak akan
menginjakkan kaki di Tegal sebelum sukses
hidup di Jakarta. Waktu itu aku menganggap
itu hanya luapan emosi sesaat, dan aku yang
waktu itu baru kelas satu SMP, hanya diam
saja. Tetapi rupanya perkiraanku meleset
karena sejak saat itu ia benar-benar tak
pernah kembali. Bahkan saat mas Agus
menikah pun yang sampai ke Tegal hanya
beritanya, dan terakhir hanya fotonya. Bapak
103
sangat geram dan emak sangat terpukul.
Mereka tak pernah mengerti mengapa mas
Agus sampai berbuat begitu. Sedangkan aku
hanya dapat menduga, mas Agus tersinggung
dengan kata-kata emak “Percuma jadi laki-laki
kalau hanya nongkrong di rumah, jadilah
panutan bagi adik-adikmu. Carilah kerja apa
saja yang penting halal! Lihat Imam, temanmu
itu, sekarang ia sudah bisa beli motor sendiri!”
Sekarang adalah tahun kedelapan mas
Agus meninggalkan rumah. Selama itu pula
hanya terjadi komunikasi searah, sebab mas
Agus tak pernah memberitahukan alamatnya.
Sehingga kami kesulitan untuk
menghubunginya. Dulu pernah bapak mencoba
mencari mas Agus di Jakarta dengan
menghubungi beberapa orang Tegal yang
tinggal di sana. Tetapi, sepertinya mas Agus
lenyap ditelan Jakarta. Siapa yang sanggup
mencari seseorang dalam perut Jakarta?
Bahkan saat bapak meninggal pun, kami tak
104
bisa menghubunginya. Jadi, mas Agus belum
mengetahui kalau bapak telah tiada.
Saat lebaran pun, yang datang hanyalah
sebuah kartu. Ketika takbir berkumandang
dari langgar dan mesjid di kampung kami, aku
melihat wajah emak berubah menjadi murung.
Sangat kontras dengan wajah kebanyakan
orang yang selalu menyambut hari
kemenangan dengan suka cita. Suara bedug
yang bertalu-talu mengiringi takbir, tak
mampu menghapus kesedihan dari wajah
emak. Sebenarnya aku maklum juga melihat
emak sedih, sebab setelah ayah meninggal,
setiap lebaran hanya aku yang setia
mendampingi emak.
Dua orang mbakyuku juga tidak bisa
hadir. Mbak Sri selalu berlebaran di Anyer, di
rumah mertuanya. Entah mengapa, mbak Sri
sepertinya enggan untuk menginjakkan kaki di
rumah emak. Alasan yang disampaikannya
mengapa ia tak pernah lagi ke sini adalah
ketiadaan ongkos. “Anyer – Tegal
105
membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.
Sedangkan penghasilan kang Hendar hanya
cukup untuk makan tiap hari, jadi kami tak
punya tabungan untuk ke Tegal.” Begitu alasan
yang pernah disampaikan lewat suratnya.
Suatu alasan yang menurutku terlalu
mengada-ada. Sebegitu melaratkah kehidupan
mereka? Sehingga tak ada uang untuk
menengok emak?
Mbak Retno, sudah beberapa tahun,
atau beberapa kali lebaran juga tidak muncul
di rumah emak. Padahal, sesuatu yang paling
dirindukan emak saat lebaran, apalagi setelah
kepergian bapak, adalah kedatangan anakanaknya
untuk berkumpul di tanah leluhur.
Menciptakan kegembiraan di rumah keluarga,
seperti yang pernah kami rasakan ketika kami
semua masih anak-anak. Akan tetapi dengan
berbagai alasan, mbak Retno selalu berusaha
menghindar untuk berkumpul kembali dengan
emak.
106
Katanya, suaminya tak bisa
meninggalkan pekerjaan terlalu lama,
sedangkan ia tak berani sendirian
menyeberangi laut Jawa, dari Kalimantan ke
Tegal. Maka, ia pun hanya mengirim surat.
Terkadang juga mengirim wesel untuk emak,
walaupun hanya setahun sekali dan dalam
jumlah sedikit. Tetapi emak sama sekali tidak
senang menerima kiriman mbak Retno,
walaupun hidup kami hanya mengandalkan
uang pensiun bapak.
“Bukan uang yang aku butuhkan. Emak
hanya ingin mereka mengerti bahwa emak
benar-benar masih ada!” Itulah kata-kata emak
ketika wesel tiba, sambil melemparkannya ke
atas meja. Suatu pertanda bahwa emak betulbetul
tidak suka.
“Kembalikan saja wesel itu ke
mbakyumu!” emak berkata sambil matanya
menerawang ke luar jendela. Ke bawah pohon
mangga, di sana seekor induk ayam sedang
bercengkerama dengan anak-anaknya. Si
107
induk sibuk mengais tanah, sedangkan anakanaknya
berebut mematuki remah-remah di
tanah. Di atasnya beberapa ekor burung
berkicau riang terbang dari satu dahan ke
dahan lain. Tetapi cericit kicauannya menjadi
melodi yang manyayat hati. Emak semakin
tenggelam dalam kesedihan.
Aku sendiri menjadi bingung. Di satu
sisi aku butuh uang juga untuk sekadar
membeli baju baru atau untuk mengecat
rumah yang sudah mulai kusam. Namun aku
tidak tega melihat kekecewaan dan kesedihan
membayangi wajah emak. Aku sama sekali tak
ingin menambah kecewa emak. Akhirnya
kuputuskan untuk menyimpan uang dari
mbak Retno tanpa sepengetahuan emak.
Kekecewaan dan kesedihan emak kali ini
ternyata berkepanjangan. Akhir-akhir ini emak
lebih sering berbaring di tempat tidur. Tidak
seperti biasanya yang selalu gesit bersih-bersih
rumah. Emak masih suka menyapu halaman,
lantai, dan memberi makan ayam-ayam
108
piaraan kami yang cuma beberapa ekor.
Sekarang semua pekerjaan itu tak
dilakukannya. Aku perhatikan juga, emak
kurang nafsu makan. Segelas teh manis yang
selalu kusediakan tiap pagi pun baru habis
menjelang siang.
Aku menjadi cemas. Emak juga
mengeluh perutnya sakit. Mungkin inilah yang
menyebabkan emak tidak nafsu makan.
“Tolong, En, ambilkan minyak angin dan
gosokkan di perut emakmu!” Sebagai
perempuan yang sudah berumur, emak
memang selalu sedia minyak angin yang
digunakan untuk segala macam penyakit,
seperti kebanyakan orang di kampungku. Jika
pusing, maka cukup digosok minyak angin dan
akan segera sembuh. Kalau digigit nyamuk dan
kulitnya bentol-bentol, tinggal diolesi minyak
angin, maka dalam beberapa saat akan hilang
rasa gatal dan bentol-bentolnya. Begitu pula
bila sakit perut. Pendeknya, semua bisa diatasi
109
dengan minyak angin, tanpa perlu ke dokter
atau puskesmas.
Namun, untuk kali ini sakit perut emak
tak mempan lagi oleh minyak angin. Maka
emak minta disediakan botol berisi air panas
untuk ditmpelkan atau diusap-usapkan
diperutnya. Rasa hangatnya diharapkan dapat
meresap ke bawah kulit dan masuk ke dalam
perut untuk mengusir angin jahat yang kata
emak bersemayam dalam perutnya. Tetapi,
rasa sakitnya hanya hilang sesaat untuk
kemudian timbul kembali.
Aku menjadi semakin khawatir, sebab
ternyata sudah lebih dari tiga hari emak belum
buang air besar, padahal biasanya hal itu
dilakukan tiap pagi hari secara rutin. Tubuh
emak menjadi semakin lemas, suhu tubuhnya
juga naik, hingga akhirnya aku putuskan
untuk membawanya ke rumah sakit. Setelah
terlebih dulu bersitegang dengannya. Aneh,
bersitegang dengan orang tua yang sedang
sakit. Tetapi memang begitulah adanya.
110
Emakku ngotot tidak mau dibawa ke rumah
sakit.
“Sudahlah, tak perlu kau repot-repot
membawa emak ke rumah sakit. Nanti juga
akan sembuh sendiri, paling hanya masuk
angin gara-gara kemarin terlambat makan.”
“Tetapi, sudah dua hari, lho, Mak!
Kalau masuk angin biasanya sehari sudah
sembuh.”
“Kalau bukan masuk angin, lalu masuk
apa?” emak berusaha mencairkan ketegangan
yang tergambar di wajahku, “sudahlah, lebih
baik kau buatkan emak teh pahit panas,
buatkan juga telur setengah matang, rasanya
sudah lama emak tak merasakan telur
setengah matang buatanmu!”
Akhirnya aku hanya menurut saja. Aku
kerjakan apa yang diminta emak. Dulu,
almarhum bapak sering dibuatkan telur
setengah matang dan secangkir teh pahit di
pagi hari oleh emak. Setelah bapak tiada,
111
giliran aku yang sering membuatkannya untuk
emak. Aku jadi ingat, makanan ini pula yang
terakhir bapak santap sebelum akhirnya sakit
dan menghembuskan nafas tanpa melalui
penderitaan panjang. Aku jadi takut.
Sepertinya peristiwa itu akan berulang,
sebab beberapa saat setelah menghabiskan
telur setengah matangnya, emak kelihatan tak
berdaya di atas tempat tidur. Tubuhnya
semakin lemah. Aku bingung. Sebagai
perempuan, aku tak mampu berpikir dan
bertindak jernih jika dalam keadaan seperti ini.
Akhirnya dengan pikiran kalut dan perasaan
yang tak menentu aku bawa emak ke rumah
sakit. Disertai iringan doa agar Allah
senantiasa melindungi emak. Semoga kejadian
yang menimpa bapakku tak berulang kepada
emak.
*
* *
112
Aku tunggui emak di rumah sakit
dengan hati mengambang, Tak tahu aku harus
berbuat apa. Tak tahu dari mana dapat uang
untuk biaya pengobatan yang pasti mahal
karena emak langsung dibawa ke ruang ICU.
Sementara kakak-kakakku belum ada yang
muncul. Tak ada tempat untuk bertukar
pikiran, tak ada tempat untuk mengadu. Maka
aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk
berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah di
mushola yang kebetulan dekat dengan ruang
emak dirawat. Jika jam kunjung tiba dan aku
diperbolehkan masuk, aku sempatkan untuk
mengingatkan emak agar selalu ingat kepada
Allah dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran
yang aku hafal.
“Ya, Allah. Sekiranya hidup adalah yang
terbaik bagi emak, sembuhkanlah ia segera.
Tetapi jika mati adalah yang terbaik baginya,
ambillah emak tanpa melalui penderitaan
panjang,” aku berdoa dalam hati sambil
menatap emak yang semakin kuyu.
113
Aku pegang tangan emak yang terasa
dingin dan tinggal kulit pembalut tulang, aku
berdoa mengharapkan kemunculan mbak Sri
dan mbak Retno yang sejak ibu sakit sudah
aku kirimi telegram agar segera pulang. Aku
ingin bicara dengan mereka tentang emak.
Tentang penyakitnya dan semuanya. Kulihat
wajah emak. Matanya tertutup, bibirnya agak
terbuka, nafasnya terdengar agak serak. Akan
datangkah mereka sebelum kejadian terburuk
menimpa emak? Atau emak akan
meninggalkan dunia ini tanpa diantar oleh
anak-anaknya selain aku?
Tiba-tiba kulihat mata emak terbuka,
memandang ke arahku mengisyaratkan agar
aku mendekat. Dengan suara lirih dan sedikit
serak, suara yang jauh berbeda dari biasanya,
emak berbisik, “En…, rasanya emak sudah
tidak kuat lagi. Pandai-pandailah kau menjaga
diri. Baik-baiklah terhadap kakak-kakakmu.
Sampaikan maaf emak kepada mereka jika
bertemu. Dan jangan lupa, berikan hak-hak
114
mereka atas peninggalan emak.” Aku tak
menjawab. Sepertinya ada sesuatu yang
menghalangi bibirku untuk berucap, apalagi
kulihat mata emak kembali terkatup. Aku tak
ingin mengusik kedamaiannya. Ah, emak,
dalam keadaan seperti ini kau masih ingat
mereka. Sedangkan mereka, hingga saat ini
pun tak mau datang.
Aku seperti mendengar kata-kata
perpisahan. Aku merasakan sesuatu yang
berbeda dalam suara emak. Untuk orang dalam
keadaan seperti emak, kata-katanya sangatlah
jelas. Aku menjadi semakin takut. Aku tak
mampu berkata apa-apa. Dadaku bergemuruh.
Aku genggam tangan emak erat-erat, aku
tempelkan di pipi, kucium tangan itu sambil
terus berusaha berdoa. Aku bisikkan kalimat
La ilaha illallahu Muhammadurrasulullah
berulang-ulang di telinga emak. Aku ingin agar
kata-kata terakhir yang emak dengar adalah
kalimat tauhid. Aku juga ingin emak bisa
115
mengucapkan kalimat ini di akhir hayatnya,
agar menjadi khusnul khotimah.
Seketika, antara sadar dan tidak,
antara harapan dan keputus-asaan, aku
merasakan kehadiran sesuatu diantara kami.
Sesuatu yang tak dapat kujelaskan. Sesuatu
itu mendekati emak, dan emak tersenyum.
Dalam sekejap terasa seperti ada cahaya putih
melesat. Ruangan menjadi terang oleh cahaya
keemasan. Udara pun terasa nyaman. Aku
hanya diam terpaku. Sampai sesuatu yang
lain mengejutkanku.
Ternyata, mbak Sri, mbak Retno dan
seorang laki-laki yang agak gemuk dengan
wajah mirip mas Agus muncul. Seketika
mereka memeluk emak. Dan pecahlah tangis
mereka yang keras. Sementara aku hanya diam
membisu dengan sejuta tanya di dada. “Untuk
apa mereka menangis?”
116
Keputusan Zaitun
Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga
yang ada, Zaitun mencoba melangkah.
Ditapakinya satu demi satu tangga jembatan
penyeberangan. Tangan kanannya memegang
perutnya yang gendut, sementara tangan
kirinya berpegangan pada pegangan tangga.
Tiap kali kakinya diangkat, bibirnya meringis
menahan sakit, tangan kirinya meregang
membantu mengangkat tubuhnya.
Bagi Zaitun, tiap baris tangga yang
ditapakinya adalah perjuangan hidup.
Menyakitkan, melelahkan. Dari bawah sekali ia
menapaki tanah kotor, sampai di atas yang
dirasa adalah kepeningan. Kepeningan kepala
yang mengambang di atas hiruk pikuk
kemewahan dunia yang asing mengungkungi
kehidupannya. Walaupun akrab dengan
117
kesehariannya, namun tetap berada di luar
jangkauan kemampuannya.
Zaitun yang lahir di tengah hiruk pikuk
kota, di sebuah perkampungan kumuh,
memang selalu berjalan di atas
ketidakberuntungan. Dari kecil ia selalu didera
oleh ganasnya dunia. Zaitun sudah harus
berdikari sejak usia dini. Kedua orang tuanya
tak pernah mau peduli dengan diri Zaitun. Bagi
mereka, Zaitun adalah beban yang tak patut
dipikul di atas beban yang lain. Tiap-tiap orang
harus berani memikul beban hidupnya sendiri,
saat dia mulai mengerti arti lapar, haus, dan
apa itu hidup.
Jadilah Zaitun kecil menyambung nyawa
di antara reruntuhan sampah. Di antara sisasisa
kehidupan normal. Berkutat dengan segala
bentuk kemiskinan. Bajunya yang hanya satu
memaksanya untuk mampu bertahan seharian
di dalam gubuknya menunggu kering setelah
dicuci. Kalau begini, maka sore harinya ia
harus bekerja keras untuk mendapatkan
118
makanan. Tetapi terkadang Zaitun kecil sering
mendapat bantuan dari yang senasib. Mungkin
karena wajah Zaitun yang memancarkan
kecantikan alami, maka ia banyak disukai.
Walaupuin kedua orang tuanya tak pernah
peduli dengan kecantikan Zaitun.
Walaupun Zaitun besar dengan gizi yang
minim, dan tanpa dibekali dengan
pengetahuan poles-memoles wajah, tanpa
pernah berusaha membentuk tubuh, namun
kekuasaan Tuhan telah membuat diri Zaitun
tampak menjadi wanita yang cantik alami.
Kalau Zaitun sudah menyisir rambutnya, maka
perkampungan kumuh tersebut laksana
kedatangan bintang film. Semua mata akan
melirik, baik kagum, iri, maupun nafsu!
“Tun, rasanya kau tak pantas hidup di
tengah-tengah kami. Kalau saja kau mengganti
pakaianmu yang lusuh itu dengan yang baru,
kalau saja kau bisa mandi tiap hari dengan
sabun, gosok gigi dengan odol, makan nasi
119
sehari tiga kali, kau tak layak lagi hidup di
antara barang-barang bekas.”
“Ah, Mang Jaya ini ngomong apa. Adaada
saja!”
“Zaitun…Zaitun, dengarkan baik-baik!
Kau sebenarnya tak layak hidup di antara kami
yang kumuh ini. Kau layak hidup seperti
mereka, orang gedongan!” Mang Jaya berkata
sambil menunjuk gedung bertingkat di
kejauhan.
“Tapi mereka kan orang kaya, punya
banyak uang. Zaitun kan nggak punya uang.”
“Sebenarnya kau bisa mencarinya, Nak!”
“Bisa mencari gimana, Mang Jaya aja
yang laki-laki, badannya gede gak bisa cari
uang banyak, apalagi Zaitun!”
“Kau kan punya wajah cantik, tubuhmu
juga indah, Nak!”
120
Mang Jaya kemudian pergi
meninggalkan Zaitun yang mengiringinya
dengan tatapan penuh tanya.
“Apa maksud Mang Jaya, yah. Wajahku
kata orang-orang memang cantik. Tubuhku
sexy kata Jupri. Tapi apa hubungannya dengan
uang banyak? Apa bisa untuk cari duit? Cari
duit kan dengan bekerja, kalau yang
sekolahnya tinggi , ya kerjanya bisa dapat uang
banyak. Tapi kalau yang nggak sekolah seperti
aku, uang yang didapat juga sedikit, sesuai
dengan kemampuan yang aku bisa, hanya
sedikit.”
Lama juga Zaitun berada dalam
kebingungan, dalam ketidaktahuan seorang
gadis remaja. Kata-kata Mang Jaya, orang yang
paling dekat dengannya, benar-benar telah
membuatnya susah tidur. Rumah kardusnya
yang sempit, terasa kian sempit. Udara yang
dingin menjadi terasa panas.
* * *
121
“Mang Jaya mau kemana?” Zaitun yang
sedang bermalas-malasan mencoba menyapa
Mang Jaya yang lewat dengan tenang.
“Oh, Zaitun, biasa, cari sesuap nasi. Kok
di situ terus, nggak berangkat?”
“Males Mang, capek!”
“Masih punya persediaan? Kemarin
dapat banyak, ya?”
“Enggak, hanya alangkah enaknya kalau
Zaitun dapat kerja sehari untuk satu minggu.
Tentu Zaitun bisa banyak santai di rumah.”
“Sudah saya katakan, kau bisa , Nak!
Bahkan tak perlu kerja seharian, cukup
beberapa saat saja, kau bisa mendapatkan
uang berlimpah. Kau punya modal wajah
cantik dan tubuh yang indah, Nak! Semua itu
bisa mendatangkan duit dengan mudah.”
“Maksud Mang jaya, Zaitun harus…
harus…Ah, nggak mau ah, takut!”
122
“Tak perlu takut, saya hanya
mencarikan jalan keluar agar kau bisa hidup
enak seperti yang kau inginkan. Itu sudah
biasa, dan saya kira kau mampu
melakukannya.”
“Zaitun takut Mang, apa kata orang
nanti bila tahu Zaitun yang sebenarnya?
Mereka tentu mencemooh dan mengucilkan
Zaitun. Dan, ah….” Zaitun tak melanjutkan
kata-katanya.
“Tenang,, kau tinggal menuruti perintah
saya, nanti akan saya atur semuanya hingga
nggak ada orang yang tahu kecuali kita.”
“Ah, nggak mau ah, takut Mang. Zaitun
takut. Zaitun nggak bisa!”
“Baiklah, pikirkan dulu semuanya, saya
mau berangkat.”
Zaitun tampak bengong sambil
bergumam panjang. Memang enak apa yang
dikatakan Mang Jaya. Aku tak perlu repotrepot,
tinggal nunggu orang datang, melayani
123
apa maunya, dapat duit. Modalnya juga murah,
senyum dan dandanan yang menarik.
Tetapi, apa aku harus serahkan
perawanku kepada orang lain? Tidak, aku tidak
mau! Perawanku hanya untuk suamiku! Tapi
siapa yang mau sama aku? Gadis gembel?
Harus berapa lama aku menunggu? Dan lagi
aku sudah bosan kerja berat hanya untuk
makan sekali, itu pun hanya nasi putih
tambah lauk seadanya. Kadang terpaksa harus
makan nasi basi. Aku ingin hidup enak, hidup
yang lebih baik!
Ah, tapi nggak! Nanti kalau tiba-tiba aku
hamil, dicemooh orang, anakku lahir dan tanya
siapa bapaknya? Caci maki orang tentu akan
semakin parah, ah, tidak!
Setelah puas dengan gumamannya yang
panjang, kini ada perang di hatinya, Zaitun
bimbang, ia melamun panjang ditemani setan
yang mulai masuk pikirannya.
* * *
124
Satu malam, Mang Jaya membawakan
pakaian baru untuk Zaitun, juga seperangkaat
kosmetik: bedak, lipstick, dan parfum. Zaitun
menerima semua itu dengan keragu-raguan.
Satu sikap enggan bercampur senang dan
butuh.
“Eee, trima kasih, Mang! Dari mana
Mang Jaya mendapatkan semua ini?”
“Ah, itu semua tak perlu kau risaukan,
yang penting sekarang kau pasti akan tampak
lebih cantik dengan semua ini. Sekarang, cepat
pakai semua!”
Dengan ditunggui Mang Jaya, Zaitun
mulai mengganti pakaiannya, wajahnya diberi
sedikit bedak, bibirnya kini diberi polesan
warna merah hingga tampak menawan, dan
yang terakhir tubuhnya disemprot minyak
wangi. Tentu saja, semua pekerjaan ini
dibimbing oleh Mang Jaya.
Zaitun mulai berputar-putar, menilik
pakaian yang baru dikenakan. Dia mencium125
cium bau tubuhnya yang baru pertama kena
parfum. Bibirnya berkali-kali direkahkan di
depan cermin, seolah ingin meyakinkan pada
dirinya sendiri bahwa ia cantik. Dan sinar
mata Zaitun berbinar-binar memancarkan
rasa bahagia.
Akan halnya Mang Jaya yang dari tadi
berada dekat Zaitun, kini benar-benar kagum.
Rok Zaitun yang sepuluh centi di atas lutut
semakin menambah sexy, menampakkan
kecantikan terpendam.
“Kenapa Mang? Kok, memandangi
Zaitun terus!”
Yang ditegur agak gelagapan, tapi
kemudian memaksakan untuk tersenyum,
“Kau benar-benar cantik. Kemarilah, Nak!
Jangan takut, mendekatlah padaku, mulailah
perjalanan panjang ini!”
Zaitun kaget. Tak menyangka kalau
Mang Jayalah orang pertama yang menentukan
jalan hidup selanjutnya. Bagi Zaitun Mang
126
Jaya adalah kehancuran dan harapan.
Kehancuran atas kesuciannya dan harapan
akan hidup selanjutnya.
Kini Zaitun benar-benar menyerah.
Semua perintah Mang Jaya ia penuhi, tak ada
gunanya lagi menolak. Setiap malam tiba, ia
dengan pasrah malayani tamu yang di
sodorkan kepadanya yang rata-rata berasal
dari kalangan bawah. Semuanya diatur Mang
Jaya, Zaitun hanya berfungsi sebagai mesin
penghasil uang.
Lambat laun Zaitun mulai bisa
membenahi diri, keadaannya benar-benar
berbeda. Dia kini lebih bersih, semakin tampak
kecantikannya. Mang Jaya pun kini mulai
berubah, tak pernah lagi kerja berat , lebih
banyak santai di rumah. Gubuk mereka
kelihatan lebih terang karena ada lampu
minyak yang menyala sepanjang malam.
Makanan mereka lebih bergizi dan teratur.
127
Orang-orang belum menyadari kerja
sama yang terjadi antara Zaitun dan Mang
Jaya. Mereka mengira kedekatan Mang Jaya
dan Zaitun hanya karena mereka masih ada
hubungan kerabat. Hanya saja mereka melihat
perubahan pada Zaitun yang sekarang tak
pernah lagi kelihatan bekerja di siang hari. Ia
hanya bermalas-malasan di gubuknya.
Sekarang Zaitun melihat sikap orang
mulai berubah kepada dirinya. Di matanya
sikap orang seperti memusuhi, iri, dan jijik. Hal
ini membuat Zaitun berpikir. Ia ingin kembali
menjadi manusia wajar yang bisa bebas
bergaul dengan orang lain tanpa rasa risih. Ia
ingin kembali bekerja, kerja yang tak
mengundang reaksi orang lain. Tak ingin lagi
kerja dengan mengandalkan segala kepalsuan,
senyum, raga, dan rasa yang mengakibatkan
cemoohan orang.
Tetapi segala pikiran itu akan lenyap
seketika saat matanya mulai menangkap
tumpukkan uang yang disodorkan di
128
hadapannya. Hatinya segera saja tertutup oleh
nafsu duniawinya. Zaitun kembali mengalirkan
kepalsuannya.
* * *
Zaitun mulai menyadari dan merasakan
ada kelainan pada dirinya. Bulan kemarin ia
tidak mendapatkan haidnya, bulan ini pun
tidak. Sudah terlambat dua bulan. Ditambah
lagi Zaitun sering pusing dan suka muntah.
Yakinlah dirinya bahwa kini perutnya mulai
berisi. Zaitun sadar, ia tak sendirian lagi. Ada
tanggung jawab yang melekat di tubuhnya.
Kebingungannya kini mulai bertambah.
Malu karena cemoohan orang-orang juga mulai
meningkat. Langganannya juga sudah mulai
mundur. Jadilah Zaitun kekurangn uang lagi
untuk kehidupan sehari-harinya.
“Kalau terus-terusan begini, bisa-bisa
aku mati karena perut ini, Gara-gara bayi yang
tak jelas siapa ayahnya ini!” Zaitun mulai
129
menyalahkan bayinya. Ia mulai berpikir untuk
menghilangkan sumber malapetaka itu.
“Lebih baik kugugurkan saja kandungan
ini. Agar aku bisa leluasa kembali menerima
pelanggan. Bisa cari duit lagi. Tak menanggung
malu lagi. Lagi pula kalau anak ini lahir ia
akan malu karena tak punya ayah dan beribu
seorang pelacur yang hidup di perkampungan
kumuh. Aku tak mau nasib anakku sejelek
nasibku. Tidak!”
Lama juga Zaitun memikirkan hal itu.
Tanpa disadari, Zaitun mulai melangkah
meninggalkan perkampungan menuju
keramaian kota.
“Tapi aku tak mau jadi pembunuh,
apalagi pembunuh anakku sendiri. Tak tega.
Dia juga punya hak hidup seperti aku. Dan
lagi, apa kata orang nanti jika mereka tahu dan
lapor kepada polisi. Aku tentu akan dipenjara
karena membunuh bayi! Ah, tidak! Tapi kalau
130
tidak, bagaimana nasibku sekarang dan
nasibnya kelak?”
Wajah Zaitun semakin menampakkan
kekusutan pikirannya. Tiba di atas jembatan
penyeberangan, ia memandangi mobil yang lalu
lalang di bawahnya. Tanpa disadari, matanya
mengalirkan buliran-buliran bening.
“Habislah segala kerumitan kalau aku
terjun ke bawah.”
Braaakk! Sebuah Mercy hitam penyok
atapnya.
131
M I M P I
Suasana masih terlalu pagi, saat orangorang
berdatangan ke rumah Ordo. Kabut
masih tebal. Udara terasa dingin membeku.
Tetapi semua itu tak membuat semangat warga
RT 21 kendor untuk mendatangi rumah Ordo,
yang sepagi ini telah membuat keributan yang
mampu menyedot perhatian warga RT 21,
terutama bagi mereka yang sering
menggantungkan harapan di alam maya.
Kini rumah Ordo yang tak seberapa luas
itu telah penuh sesak. Udara yang semula
segar kini menjadi pengap. Bau badan orang
yang bangun tidur bercampur dengan pakaian
kumal yang semalam baru kena ompol;
membuat hidung Ordo kembang kempis.
Sementara udara di ruangan itu menjadi
semakin pengap dan panas. Beberapa orang
tampak sudah mulai membuka kancing
bajunya. Kain sarung yang tadi dipakai untuk
132
berlindung dari sengatan hawa dingin, kini
dilipat di bawah pusar.
Beberapa orang kini berusaha
menenangkan Ordo yang masih tampak
ketakutan dan kecapaian. Hidungnya yang
pesek dan berlubang besar itu tampak secara
paksa menyedot udara dan mengeluarkannya
degan cepat. Perutnya yang buncit tampak
kembang kempis. Kakinya yang tidak ada
semeter itu ditutupi kain sarung lusuh dan
penuh lubang di sana-sini. Tubuhnya yang
hitam dan gempal itu dibiarkan terbuka.
“Ordo, tenanglah, ceritakan apa yang
telah terjadi!”
Yang ditanya bukannya menjawab tapi
malah mendengus dan melongo, pandangannya
menerawang jauh.
“Jangan banyak tanya dulu, ambilkan
dia air putih segelas biar tenang.”
“Air kopi saja, biar hangat!”
“Ya, benar. Beri kopi panas saja!”
133
Seoarang ibu berlari ke rumahnya untuk
membuat kopi. Karena memang di rumah Ordo
tak ada apa-apa. Ordo hanya hidup sebatang
kara, tidak punya siapa-siapa dan belum
beristri. Kedua orang tuanya sudah lama
meninggal.
“Awas, minggiiiiir, kopi panas nih!”
“Minumlah Ordo, biar tenang dan
hangat tubuhmu.”
Bibir tebal itu segera menempel di bibir
gelas. Perlahan namun pasti, kopi itu mengalir
ke mulut Ordo. Sekali minum, setengah gelas
habis.
“Sekarang ceritakanlah apa yang terjadi.
Apa kamu mimpi?”
“Mimpi yang seperti kemarin?”
“Pak Mahmud, biarkan dia menjawab
pertanyaan yang pertama, baru Bapak
tanyakan yang lain. Kasihan kalau terlalu repot
menjawabnya.”
134
Sementara itu orang yang ditanya tetap
diam. Yang ngomong malah anak-anak kecil
yang digendong ibunya. Ruangan jadi agak
berisik.
“Itu, anak-anak kecil jangan berisik!
Keluar saja, keluar!”
Beberapa anak kecil terpaksa digiring
keluar, tetapi mereka hanya sampai di balik
pintu. Bergerombol sambil mengintip ke dalam
lewat celah dinding yang bolong. Beberapa ibu
muda meneteki anaknya yang mulai rewel.
Tanpa ragu mereka mengeluarkan teteknya.
Pemandangan yang sperti ini tak dilewatkan
begitu saja oleh Ordo. Dengan pura-pura
menenangkan nafas Ordo memandangi tetektetek
itu sampai puas. Wajahnya kini tampak
lebih segar.
“Sekarang tentu sudah tenang,
ceritakanlah Ordo!”
“Aku mimpi.”
135
Semua orang diam. Sunyi. Mereka ingin
mendengarkan cerita Ordo dengan khusuk.
“Mimpi yang sama persis dengan
mimpiku yang dulu-dulu. Persis sekali. Aku
jadi takut.”
Wajah Ordo tampak gelisah kembali.
Sinar matanya memancarkan rasa takut.
“Ceritakanlah Ordo, kami semua ingin dengar
mimpimu itu!”
“Sama dengan yang dulu.”
“Tapi yang dulu kamu juga belum cerita.
Kamu Cuma bilang harus melakukan sesuatu.
Melakukan apa?”
“Pekerjaan berat.”
“Berat sekali?”
“Ya, jelas! Jika aku ingin hidup enak
maka aku harus melakukan pekerjaan yang
berat. Dua kali.”
“Terus, apa yang akan kamu perbuat?
Bertapa, pasang togel, atau apa?”
136
Mendengar kata-kata ini orang-orang
pada ribut sendiri. Semua bicara soal togel.
Kesempatan ini digunakan Ordo untuk
menghabiskan sisa kopinya yang sudah agak
dingin.
“Ordo, apa kamu disuruh pasang togel?”
“Angka berapa yang dipesankan?”
“Sudah tiga kali kau mimpi, berarti ini
benar-benar tepat.”
Semua orang berusaha bertanya,
berusaha mengorek keterangan dari Ordo.”
“Sebenarnya aku tak mimpi soal angka.
Tapi kalau kalian mau pasang, silakan!”
“Biasanya seperti ini nggak secara jelas.
Tetapi samar-samar Do! Berapa kali kau harus
melakukan pekerjaan itu?”
“Dua kali.”
“Dengan berapa alat?”
“Eeee…cukup satu.”
137
“Berarti sudah dua angka, 2 dan 1. Hari
apa sekarang?”
“Jumat!”
“Jumat berarti 5, dan mimpinya 3 kali
berturut-turut. Klop sudah 2153. Nah, Ordo,
jika nomor ini nyangkut kau mau apa? Makan
enak? Pakaian bagus? Perbaikan rumah? Atau
kau mau kawin?”
“Terserah kalian.”
“Ah, jangan begitu, kami tak bisa
seenaknya memberikan sesuatu padamu.
Rezeki ini kan bersumber dari kamu. Jadi,
kami harus memperhatikan keinginanmu.
Sekarang apa yang kau inginkan, Do?”
“Banyak.”
“Apa saja itu? Kami akan berusaha
memenuhinya.”
“Yang benar?” Ordo bertanya dengan
nada harap-harp cemas.
138
“Benar, kami tak bohong! Kami kan
nggak pernah bohong sama kamu. Apalagi
kamu sekarang adalah sumber rezeki bagi
kami. Rezeki ini datanmgnya dari kamu, jadi
kamu harus ikut menikmati hasilnya.”
“Baiklah, untuk membuktikan itu,
sekarang aku minta sarapan pagi yang lezat
dulu!”
Beberapa orang segera menghambur
untuk membeli nasi bungkus di warung bu
Gemayu. Tentu saja mereka berusaha
memenuhi permintaan Ordo dengan haarapan
nomornya akan nyangkut pada pemutaran
minggu ini. Nyatanya memang sudah beberapa
kali mereka mendapat nomor togel yang
semuanya berasal dari mimpi Ordo, sehingga
Ordo dianggap punya kelebihan, punya
wangsit.
Didapatlah l0 bungkus nasi dengan lauk
istimewa dari orang-orang yang berharap besar
dapat nomor togel.
139
Mula-mula Ordo mengambil sebungkus
nasi dan melahapnya dengan malu-malu.
Sedikit demi sedikit dan seperti kurang
berselera. Melihat gelagat ini, orang-orang pun
paham. Mereka segera maninggalkan rumah
Ordo dengan membawa harapan baru.
Sementara sinar matahari mulai masuk
lewat celah-celah dinding yang bolong sehingga
ruangan yang tak berjendela itu tampak terang.
Wajah Ordo semakin jelas kelihatan kusam
karena belum mandi sejak kemarin sore.
Mulutnya makin giat saja mengunyah nasi.
Tampak dua bekas bungkus nasi telah
kososng, bersih tak bersisa. Delapan bungkus
yang lain cukup untuk makan dua hari bagi
Ordo. Jadi, sekarang ia bisa ongkang-ongkang
kaki di rumah.
Ordo bangkit dari tempatnya duduk dan
berjalan kaku ke belakang. Dari balik dinding
ia mengambil sebilah besi kusam dengan
tangkai kayu coklat tua. Diamatinya benda itu
dari ujung ke ujung, dibolak-balik, diusap140
usap lalu ditebaskannya benda itu ke kayu di
samping rumah. Tebasan itu menimbulkan
suara keras, sementara goresan yang
ditimbulkan hanya sedikit saja. Melihat hal
tersebut, Ordo terduduk kecewa. Matanya
memandangi benda itu dengan tajam. Dahinya
berkerut seperti memikirkan sesuatu. Lalu dia
melangkah menuju rumah Mang Manus,
tetangga terdekat.
“Mang, pinjam batu asahannya.”
“Tuh, dekat sumur. Tumben Do, ngasah
golok, buat apa?”
“Ah, nggak. Cuma iseng.”
“Apa buat persiapan nyembelih kambing
nanti. Kan, semua orang di sini pasang nomor
togel yang kamu berikan.”
“Bukan aku yang memberi, mereka
sendiri yang ngarang.”
“Sama saja Do, pokoknya semua warga
RT 21 berharap besar menang. Bahkan
kabarnya seluruh kampung pasang nomor itu!
141
Tak ketinggalan Pak Lurah dan istrinya, Warni,
bekas kekasihmu dulu.”
Mendengar nama Warni dan suaminya
disebut-sebut, darah Ordo naik. Wajahnya
berkerut menahan geram. Dia masih ingat
bagaimana Warni bersumpah setia jadi kekasih
Ordo sehidup semati. Teringat masa-masa
indah mereka dulu. Masa-masa bahagia
mereka. Namun, semua kebahagiaan itu telah
direnggut oleh Pak Lurah. Ordo tak tahu
mengapa Pak Lurah yang sudah beristri tiga itu
justru mengambil Warni sebagai istri keempat.
Dan Ordo pun semakin tidak tahu ketika cinta
Warni ikut-ikutan luntur.
Warni telah berpaling untuk menikmati
kehangatan dan kemewahan hidup di samping
Pak Lurah. Padahal Warni telah bersumpah
setia, padahal Warni tahu bagaimana Pak
Lurah yang jago merayu. Padahal….padahal…
dan sejuta padahal yang lain. Ordo geram.
142
“Hai, Ordo! Kenapa melamun? Tenang
saja, besok kita semua akan pesta, dan kau
yang jadi raja. Akan kita potong beberapa ekor
kambing, bukankah kau sudah siap dengan
golokmu?”
“Ya, Mang, golokku siap digunakan.
Sekarang aku mau pulang dulu.”
“Jangan lupa nanti malam jam dua
belas.”
Mang Manus melepas kepergian Ordo
dengan senyum heran. Sementara waktu terus
berjalan. Warga desa merasakan perjalanan
waktu sangat lambat. Dengan tak sabar
mereka menantikan detik-detik penentuan
nasib. Di sana-sini terdengar rencana muluk
mereka. Mang Udel akan membeli sedan seperti
permintaan istrinya. Mang Kusen akan
membeli DVD baru agar tiap hari bisa nonton
BF bersama istrinya yang cantik.
Pukul 23. 45 warga RT 21 sudah
berkumpul di rumah Pak Mandut, pengepul
143
togel. Semua orang sudah ada, kecuali Ordo
dan Pak Lurah yang belum kelihatan. Semua
orang menunggu mereka karena malam ini
mereka adalah bintang.
“Mana Ordo? Kok, belum kelihatan
batang hidungnya. Seharusnya ia sudah ada di
sini menyaksikan kebahagiaan kita.” Orangorang
semakin ramai saja, apalagi ketika tahu
ternyata nomor mereka nyangkut. Semua
mencari Ordo, semua mencari Pak Lurah yang
belum kelihatan juga.
“Aku akan jadikan Ordo menantu.
Barangkali suatu saat ia mimpi lagi. Aku pasti
kaya,” kata seseorang yang wajahnya berseriseri.
“Saya akan melindungi Ordo seumur
hidup, saya akan selalu membantunya!”
“Ah, bukan hanya kamu. Semua orang
akan melindungi Ordo agar ia tetap bermimpi
untuk kita.”
“Ya, kita harus melindungi dia!”
144
Tak berapa lama, dari arah timur, dari
kelamnya malam, muncul sesosok tubuh
gemuk pendek dengan membawa golok di
tangan kanannya. Semua orang menoleh pada
sosok itu. Semua diam. Sementara sosok
tubuh yang berjalan itu kian jelas. Tampak
wajah lugu dengan ekspresi puas. Dengan
tenang, sosok tubuh tadi mendekati
kerumunan massa. Kini tampak benda yang
dibawanya berlumuran darah, begitu pula
dengan pakaian yang dikenakannya. Bau anyir
darah pun tercium jelas.
Semua terpana. Semua minggir memberi
jalan sambil menahan seribu rasa. Melihat
gelagat ini, sosok tubuh tadi tanggap dan tanpa
ditanya dia berkata, “Aku baru saja
melaksanakan perintah mimpiku. Aku telah
membunuh Pak Lurah dan Warni.”
145
Umah Lugu
Aku sama sekali tak pernah menduga
akan mendapat pertanyaan seperti ini dari ibu.
Walaupun pertanyaan itu hanya membutuhkan
jawaban ya atau tidak, tetapi untuk
memutuskannya sangatlah berat. Aku hanya
tertegun beberapa saat lamanya. Sulit
membuka bibir yang terasa kelu.
“Ibu tahu, mungkin kau tak menyangka
akan mendapat pertanyaan seperti ini, hingga
kau sulit menjawabnya. Tapi jangan terlalu
lama memikirkannya. Ibu butuh jawaban
kalian!”
“Ya…gimana ya…..” Aku sulit berkatakata.
Hanya berusaha untuk mengulur-ulur
waktu . Paling tidak aku punya kesempatan
menata pikiran hingga dapat menjawab
pertanyaan ibu dengan tepat.
146
Bisa saja aku langsung menolak atau
menyatakan ketidaksetujuanku atas usulan
ibu Namun, aku sama sekali tak menghendaki
ibu menelan kekecewaan di ujung usianya.
Karena kelihatannya ibu menghendaki jawaban
‘ya’. Persetujuan kami. Walaupun usia bukan
urusan manusia, tetapi orang seumur ibu
mungkin hanya akan mencapai lima atau
sepuluh tahun lagi. Dan aku tak ingin ibu lebih
cepat berpulang hanya gara-gara kecewa atas
jawabanku kalau menyatakan tidak.
Kata ibu, Mas Joko sudah menyatakan
persetujuannya. Kini tinggal aku dan dua
orang adikku, Suryo dan Yuni.
“Terus, kalau nanti rumah ini dijual…ibu
bagaimana? Mau tinggal di rumah siapa?” Aku
mengungkapkan kekhawatiranku. Aku betulbetul
tak sanggup melihat, bahkan
membayangkan pun aku tak mampu, akhir
hidup ibuku tanpa rumah tempat berlindung.
Memang, masih ada kami anak-anaknya, tetapi
tinggal di rumah kami tentu berbeda dengan
147
tinggal di rumah sendiri. Di rumah ibu sendiri.
Rumah peninggalan almarhum ayah. Rumah
yang telah melahirkan berjuta kenangan masa
kecil kami.
Bagiku, rumah yang kini ditempati ibu
dan adik bungsuku ini bukan hanya sekadar
rumah. Inilah rumah sesungguhnya bagi
keluarga kami, keluarga besar Suprapto.
Rumah ini diwariskan secara turun temurun
dari kakek, kemudian diwariskan kepada ayah.
Di rumah inilah kami semua lahir dan
dibesarkan. Kami menyebutnya ‘Umah Lugu’.
Di rumah inilah sebenarnya kami bisa bersatu.
Setiap lebaran tiba, meski hanya setahun
sekali, kami berkumpul di rumah ini. Ibu,
anak, menantu, dan cucu. Ramai ribut,
berdesakan, tapi sangat mengasyikkan. Jika
rumah yang menjadi umah lugu ini harus
terlempar, aku takut kebersamaan kami juga
akan terlempar.
“Soal itu tak perlu kau pikirkan. Om Joni
telah memberi ijin menempati rumah ini
148
barang satu atau dua tahun. Dia
membolehkannya, karena rumah ini tak akan
ditempati sendiri. Atau kalau memang
dikehendaki ibu bisa mengontraknya nanti!”
Om Joni adalah saudara ibuku. Ia
memang termasuk orang berada, maklum
sebagai pejabat di lingkungan Pemda, tentu
pendapatannya cukup besar sehingga bisa
memiliki beberapa rumah. Jika nanti rumah
ibu jatuh ke tangannya, maka ini adalah
rumah ketiganya.
Mengontrak? Aku benar-benar tak habis
pikir, ibu yang telah renta akan mengontrak di
bekas rumah sendiri!
“Kalau tidak, nanti ibu juga bisa tinggal
dengan Joko. Bukankah rumah Joko cukup
besar? Mungkin bisa dibuat satu kamar lagi di
samping atau belakang. Gampanglah, itu
urusan nanti!”
Gampang? Aku sama sekali tak yakin
kalau urusan tempat tinggal adalah urusan
149
gampang. Banyak orang yang hingga menemui
ajalnya tak pernah punya tempat tinggal.
Banyak pula orang yang terus-menerus pindah
rumah karena tak cocok. Ibu sendiri tak
pernah menggampangkan hal ini sebelumnya.
Jadi, mengapa?
“Bagaimana nanti dengan Yuni?” Aku
ingin tahu pikiran ibu tentang adik bungsuku
itu. Sebab memang hanya dia yang belum
punya rumah sendiri dan sampai sekarang
masih tinggal bersama ibu. Apa ia juga harus
terlempar dan mencari rumah kontrakan? Atau
ia harus berusaha membeli rumah? Cukupkah
nanti bagian uang warisannya untuk uang
muka KPR?
“Itulah… salah satu sebab mengapa ibu
ingin rumah ini dijual adalah agar suami
adikmu mikir. Mikir untuk segera punya
rumah. Nanti hasil pembagian warisnya bisa
untuk nambahi beli rumah atau untuk uang
muka kredit rumah.”
150
Ada betulnya juga apa yang dikatakan
ibu. Jika adikku masih saja tinggal di rumah
ini bersama ibu, maka sepertinya ia tak akan
pernah punya pikiran untuk membeli rumah
sendiri. Orang bilang sudah keenakan, jadi
lupa kalau ia belum punya rumah.
“Ibu juga khawatir, jika rumah ini tak
segera dijual dan dibagi waris.”
“ Maksud Ibu?”
“Ibu takut nantinya rumah ini
terbengkalai. Nggak segera dibagi waris karena
mungkin diantara kalian ada yang tak
menghendaki rumah ini dibagi waris. Seperti
yang terjadi pada rumah Pak Dhe Samsudin.
Kau tahu kan, sampai sekarang rumah itu
masih ditempati Mas Yanto dan keadaannya
makin memprihatinkan. Rusak di semua
bagian. Rumah itu tak segera diperbaiki karena
anak Pa Dhe Sam yang lain menganggap
bahwa yang bertanggung jawab terhadap
perawatan rumah adalah Yanto yang
151
menempatinya, tetapi Yanto sendiri tentu tak
bisa memperbaikinya karena hidupnya sangat
pas-pasan. Malah dengar-dengar mereka jadi
sering ribut!”
Aku tak menduga pikiran ibu sudah
sejauh itu. Mungkinkah itu naluri keibuannya?
Atau itu hanya pengaruh dari usia tuanya?
Atau hanya karena cerita-cerita tetangga yang
akhir-akhir ini kerap ngumpul di rumah ibu?
Lagi-lagi seperti tahu pikiranku, ibuku
menyambung, ”Tapi bukan hanya itu
alasannya. Ada hal lain yang menyebabkan ibu
ingin menjual rumah ini. Ibu ingin naik haji!”
Seketika bayangan di kepalaku berubah.
Bukan lagi berupa rumah tua yang rusak atau
orang-orang bertengkar memperebutkan
rumah warisan. Kini hanya ada bayangan
ibuku di kerumunan ribuan orang dari
berbagai bangsa, berdesakan dengan pakaian
serba putih, melakukan berbagai ritual ibadah.
Sesuatu yang diidamkan oleh setiap umat
152
Islam. Apalagi ibu yang telah tiba di
penghujung perjalanan usia.
Memang aku sering mendengar orang naik
haji dengan menjual sawah, ternak, perhiasan,
juga rumah. Tetapi tentu bukan satu-satunya
rumah yang sedang ditempati. Bagaimana
mungkin sepulang dari beribadah haji, tidak
punya tempat bernaung? Jangan-jangan nanti
malah menjadi bahan olokan orang, dengan
julukan Haji Padoli (apa-apa didoli -–menjual
semua harta miliknya--) Pikiranku masih
belum bisa menerima hal ini.
Tak beda dari sebelumnya, pikiranku
sepertinya juga tertebak. “Ibu sudah tanyakan
kepada Pak Khumaedi, yang sering mengisi di
pengajian ibu-ibu, katanya nggak apa-apa.
Diperbolehkan orang melaksanakan ibadah
haji dengan menjual rumah peninggalan
suaminya asal masih tersisa untuk anakanaknya
yang berhak menerima warisan dari
orang tuanya. Ibu tak akan memakai semua
153
dana hasil penjualan rumah. Ibu hanya akan
memakai hak ibu, yang menjadi bagian ibu.”
* * *
……….
+ Maaf, Bu. Sebaiknya ibu pikirkan lagi
niat ibu itu.
- Semuanya sudah ibu pikirkan, sudah
melalui pertimbangan macem-macem. Ibu
hanya ingin mendengar persetujuanmu!
+ Kalau memang niat ibu hanya untuk
naik haji, mungkin bisa dicarikan jalan lain.
Yang pasti selain menjual rumah. Itu satusatunya
peninggalan ayah, kalau itu dilepas,
apa lagi yang bisa kita pakai untuk mengenang
ayah?
- Bukan maksud ibu untuk melupakan
ayah, tapi mengertilah sedikit mengenai
keinginan ibu ini. Ibu tidak tahu jalan lain
selain menjual rumah peninggalan almarhum
ayah ini...
154
+ Tapi tunggulah nanti kalau aku pulang,
baru kita bicarakan lagi hal ini. Rasanya
kurang enak kalau membicarakan hal penting
seperti ini lewat telpon.
- Kalau begitu, kapan kau bisa pulang?
+ Mungkin tang.... Nut…nut…nut….
Tiba-tiba sambungan telepon terputus.
Mungkin pulsa Suryo habis, atau baterenya
lemah. Ibu kelihatan tidak suka. Tidak suka
karena pembicaraan terputus, lebih-lebih
karena Suryo kelihatannya tak setuju dengan
usulan ibu.
Suryo memang termasuk orang yang
lugas, ia suka bicara apa adanya. Ia tak suka
pura-pura, ia juga bukan tipe peragu. Kadang
aku sendiri ingin bersikap seperti dia, namun
selalu saja hal itu tak pernah sanggup aku
lakukan.
Sekian lama waktu berselang, aku masih
belum bisa memberikan jawaban, bahkan
semakin ragu. Ada baiknya juga meniru Mas
155
Joko yang membiarkan ibu melaksanakan
keinginannya naik haji dengan menjual rumah.
Memang hanya itu cara satu-satunya agar
dapat membayar ongkos naik haji yang kian
melambung. Rasanya tak mungkin
mengandalkan uang pensiun janda ibu untuk
membayar ONH.
Tetapi kalau jadi melaksanakan ibadah
haji, bagaimana pulangnya nanti? Bukankah
ibu tak akan lagi punya rumah sebagai tempat
pulang? Hatiku masih tak dapat menerima
kalau rumah ibu akan ditukar dengan gelar
‘Hajjah’nya.
Aku pikir baik juga memperhatikan
usulan Suryo. Kami akan patungan
mengongkosi ibu untuk naik haji. Meskipun
hal itu akan memakan waktu lama. Kami
semua bukanlah termasuk orang berada. Kami
semua hidup dalam kondisi pas-pasan.
Ibu sepertinya menyambut baik usulan
Suryo, sebab selain beliau bisa naik haji, beliau
156
juga tak akan kehilangan rumah. Namun
persoalannya ibu tak mau berlama-lama. Ibu
ingin agar tahun ini bisa mandaftar dan
berangkat pada tahun berikutnya.
Namun, ternyata agar dapat mendaftar
berangkat haji tahun depan, ibu harus
menyediakan dananya tahun ini. Dan kami tak
sanggup memenuhi keinginan ibu untuk
menyediakan ONH tahun ini. Akhirnya setelah
melalui perdebatan panjang dan tukar pikiran
yang melelahkan, mau tak mau kami
merelakan untuk melepas umah lugu.
Tercapainya keputusan menjual rumah,
ternyata bukannya tak menyisakan persoalan.
Apa yang aku takutkan sepertinya menjadi
kenyataan. Yuni dan Suryo menganggap aku
dan mas Joko tak sungguh-sungguh
mempertahankan rumah. Walaupun kami tak
terang-terangan berkonfrontasi, tetapi
hubungan kami menjadi kaku dan dingin. Ada
sesuatu yang membelenggu hati kami untuk
melepaskan kekakuan.
157
Tak hanya itu, pada bulan pertama dan
kedua selepas penjualan rumah, ibuku
memang masih diberi kesempatan untuk
menempati umah lugu. Namun pada bulan
berikutnya, ibuku terpaksa harus membayar
kontrak. Bahkan, pada bulan kelima, ibuku
harus rela hengkang dari umah lugu, sebab
rumah itu telah berpindah tangan kepada
orang lain. Om Joni telah menjualnya lagi
kepada salah satu koleganya dengan harga
lebih tinggi dari harga jual kami. Alasannya
beliau sedang butuh biaya banyak untuk
mengongkosi anak pertamanya memasuki
fakultas kedokteran.
Ibuku tak bisa berbuat banyak, kami
hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini.
Semua telah menjadi hak Om Joni, kami tak
bisa apa-apa. Terpaksa ibu harus rela
berdesakkan di rumahku, atau berhimpitan di
rumah mas Joko. Beliau tak mau mengganggu
Yuni karena rumah kontrakannya benar-benar
sempit. Sedangkan Suryo, terlalu jauh di
158
Jakarta, kota yang tak disukai oleh ibuku
karena terlalu bising dan berdebu. Begitulah,
sambil menunggu keberangkatan ibu ke tanah
suci, ibu bergantian menginap di rumahku dan
rumah mas Joko.
Melihat kenyataan ini, Suryo jelas-jelas
menyalahkan kami yang telah dengan
mudahnya melepaskan umah lugu kepada Om
Joni. Suryo geram kepada Om Joni yang telah
melanggar kesepakatan tak tertulis yang
pernah dicapai sebelum terjadi transaksi.
Sebenarnya ada keinginan ibu untuk
mengontrak rumah sendiri, tapi kami jelas tak
mengizinkan, mengingat biaya kontrak yang
cukup besar, apalagi ibu hanya sendirian.
Lebih baik uang untuk biaya kontrak
digunakan untuk biaya lain. Sebab ternyata
untuk naik haji tak sekadar menyediakan ONH
saja, rupanya ibu juga harus menyediakan
uang untuk doa bersama dan “pamitan”
kepada kerabat dan tetangga sebelum pergi ke
tanah suci.
159
Ibu juga harus ikut kegiatan manasik
yang diselenggarakan salah satu perkumpulan
haji. Alangkah cantiknya ibu dengan pakaian
ala haji saat manasik, tentu ibu kelihatan lebih
cantik kelak jika telah berhaji beneran. Tentu
haji yang mabrur.
Selain itu, seperti yang dilakukan oleh
kebanyakan orang-orang yang akan
menunaikan ibadah haji, ibu juga harus
menyediakan dana untuk membeli oleh-oleh
saat pulang nanti bagi kerabat dan tetangga
yang telah memberikan doa restu saat
pemberangkatan. Untuk oleh-oleh ini, aku baru
tahu kalau semua barang untuk oleh-oleh
telah dipesan dan dibeli sebelum ibu
berangkat. Dan ternyata barangnya pun bukan
buatan Arab, semua buatan dalam negeri.
Hanya beberapa saja yang nanti akan dibeli ibu
di tanah suci. Kata ibu, khusus untuk
keluarga, anak dan cucu. Memang tak
terbayangkan repot dan mahalnya jika semua
160
oleh-oleh benar-benar didatangkan dari Arab
saat ibu menunaikan haji.
* * *
Musim haji tiba. Saat yang ditunggu
selama setahun akhirnya datang juga. Impian
ibu benar-benar terwujud. Beliau berangkat
dengan iringan haru dan cemas. Kami semua
terharu karena ternyata ibu bisa juga
memenuhi keinginannya untuk naik haji.
Namun kami juga harus merasa cemas karena
kondisi ibu yang makin berumur.
Memang ibu jarang mengeluh sakit, ibu
juga rajin berolah raga dengan mengikuti klub
senam jantung sehat bagi para lansia, satusatunya
yang sering dikeluhkan adalah masuk
angin yang akan segera sembuh dengan
minum jamu seduhan. Tetapi, kami tetap
merasa bahwa tantangan fisik yang akan ibu
hadapi di tanah suci berbeda dengan di daerah
sendiri.
161
Kami pun hanya bisa tawaqal. Senantiasa
berdoa demi kesehatan, keselamatan dan
kekhusyukan ibu dalam beribadah. Semoga
ibadah haji ibu bisa kembali merekatkan
hubungan persaudaraan kami, kakak beradik,
yang telah terenggut seiring terlemparnya umah
lugu.
Selama beberapa minggu, aku rajin
mengikuti berita tentang pelaksanaan ibadah
haji di televisi. Setiap perkembangan aku
cermati, setiap wajah yang muncul di televisi
aku amati. Aku ingin sekali melihat wajah ibu
di tanah suci. Walau hanya lewat layar kaca.
Namun tiap kali berita dan gambar dari tanah
suci muncul, tiap kali pula aku harus menelan
kecewa, karena tak pernah sekali pun wajah
yang aku rindukan terpampang di layar kaca
meski itu hanya sekelabat saja.
Pernah sekali ibu menelponku. Walau
tidak lama kami bercakap-cakap, tapi suara
ibu terdengar bahagia dan sangat tenang. Aku
pun merasa sedikit lega karena bisa
162
memastikan kalau ibu tidak kurang suatu apa.
Ibu masih bisa tertawa dan melaksanakan
ibadah haji dengan baik. Di akhir pembicaraan
ibu sempat berkata agar kami tak usah
merisaukan dan merindukannya.
Memang akhirnya kami harus merelakan
untuk tak lagi merindukannya karena
beberapa hari kemudian kami dengar berita di
televisi kalau beberapa jemaah haji Indonesia
meninggal dunia di tanah suci dengan
berbagai sebab. Salah satunya adalah Suprapti
jemaah haji asal Tegal dalam usia 65 tahun.
Ibu dimakamkan di sana, tempat yang
selama ini dirindukannya. Ibu tak pernah
kembali ke umah lugu. Akhirnya kami memang
tak perlu khawatir dimana ibu akan tinggal
setelah umah lugu dijual.
* * * *
163
Tidak ada komentar:
Posting Komentar