
Oleh:Lumaksono
Lelaki itu hanya terduduk lesu di samping gerobaknya. Punggungnya setengah disandarkan pada roda. Tatap matanya kosong, tangan kanannya mengipas-ngipaskan topi putihya yang sudah berubah warna mengusir kegerahan hatinya. Anaknya yang paling kecil menggapai-gapai pundaknya berusaha berdiri. Sedangkan ketiga anak lainnya asyik bermain tanah. Beberapa ekor lalat beterbangan kemudian hinggap di gerobak berusaha mencari celah masuk untuk menikmati makanan yang masih menumpuk di gerobak. Sesekali ia menarik nafas panjang melepas segala kepenatan.
Umurnya belum genap tiga puluh tahun. Menurut ceritanya, ia hanya sempat menamatkan SD di kampung kemudian mulai berkelana dari pondok pesantren satu ke pondok lainnya. Dari pengembaraannya di beberapa pesantren itulah ia menjadi fasih membaca Al Quran. Bahkan, hafal beberapa surat. Tidak hanya itu, ia juga fasih berdoa dalam bahasa arab. Ia akhirnya diserahi tugas untuk memimpin pengajian rutin. Kalau kebetulan di antara warga ada yang punya hajat, entah selamatan, tasyakuran atau pindahan rumah, maka dialah yang dimintai tolong untuk memimpin doa.
Ia pun sering mengumandangkan adzan di Masjid An Nur, yang akan mengundang decak kagum karena suaranya empuk. Walaupun kebanyakan orang hanya mengagumi suaranya tanpa memenuhi panggilan-Nya. Ia juga sangat rajin sholat berjamaah di masjid.
Ia datang di kompleks perumahan kami sekitar enam tahun lalu. Ia memperkenalkan diri sebagai Arifin, dengan seorang istri dan seorang anak perempuan yang baru empat bulan. Karena masih kelihatan seperti anak remaja, maka kami sering memanggilnya dengan ‘Ripin’ saja, tanpa sebutan ‘pak’ dan ia tidak peduli. Ripin menempati rumah Isbadi yang katanya kenalannya di kampung. Ia hanya disuruh menempati tanpa harus mengontrak.
Menurut Ripin, menempati rumah ini dengan gratis adalah rezeki anaknya. Ia sangat percaya bahwa anak membawa rezeki bagi orang tuanya. Ini terbukti saat anaknya baru lahir beberapa bulan, ia sudah ditawari menempati rumah tanpa harus membayar.
“Inilah rezeki dari Allah atas kelahiran anak saya,” begitu katanya.
Ripin juga dikenal sebagai orang yang ringan tangan, ia senang sekali membantu tetangga yang membutuhkan. Seperti waktu genting rumahku bocor, dengan suka rela ia menawarkan diri membantu. Dengan cekatan ia naik dan mengganti genting yang pecah. Tentu saja aku sangat berterima kasih, sebab aku sendiri tidak pernah mengganti genting pecah.
Saat aku sedang membersihkan selokan yang mampet, ia langsung turun tangan membantu memunguti sampah dari selokan tanpa merasa sungkan atau jijik, sampai air dapat mengalir kembali dengan lancar. Semua dikerjakan Ripin dengan ringan, tanpa meminta imbalan apa pun. Katanya sebagai tetangga memang sudah seharusnya tolong-menolong. Satu sikap yang hampir tidak pernah lagi dijumpai dalam kehidupan kota modern.. Begitulah, Ripin dikenal sebagai sosok yang suka membantu warga dan taat beribadah.
Belum genap dua tahun usia anak pertamanya, istri Ripin sudah melahirkan anak kedua. Dan seiring dengan kelahiran anak keduanya, rezeki pun datang lagi. Kini bubur ayamnya mulai laris dan banyak pelanggannya. Sejak pukul enam pagi ia mendorong gerobaknya keliling kompleks. Dan pada pukul delapan dagangannya sudah amblas ke perut warga.
Tentu saja hal ini membuat kami kagum. Bagaimana tidak? Ketika kami semua baru akan beraktivitas kerja di kantor masing-masing, ia justru sudah selesai dengan pekerjaannya. Sepertinya, pekerjaannya hanyalah mengantarkan matahari terbit. Ketika ayam mulai berkokok, ufuk timur mulai memerah, dan adzan subuh berkumandang, dan semuanya akan usai, bubur ayamnya akan ludes, sebelum matahari naik sepenggalah.
“Alhamdulillah, ini rezeki dari Allah atas kelahiran anak saya yang kedua.”
Aku, dan beberapa tetanggaku mulai percaya dengan apa yang dikatakan Ripin, bahwa anak membawa rezekinya sendiri-sendiri. Paling tidak, dua anak yang lahir dari rahim istrinya telah membawa perubahan dalam kehidupan Ripin.
Tampaknya, ketaatan Ripin beribadah dan kebiasaannya yang ringan tangan membuat para tetangga menyukainya. Apalagi ia sangat ramah dan supel. Tidak heran jika sebagian besar warga kompleks perumahan kami mengenalnya. Apalagi setiap kali melayani pembeli, tidak pernah sekali pun ia mendiamkannya. Selalu saja ada hal yang dibicarakan. Mulutnya selalu ringan menanyakan sesuatu atau pun sekadar berbasa-basi, tanpa rasa malu.
Gaya bicaranya polos, khas orang desa. Walaupun sering salah menggunakan istilah, tetapi ia sangat percaya diri menggunakan istilah-istilah asing yang sering membuat kami tertawa. Misalnya saat ia mengatakan, “Isbadi membeli rumah ini hanya untuk invitasi, makanya tak ditempati.” Sejenak kami yang mendengarnya merasa bingung, tetapi setelah sadar bahwa maksudnya investasi, maka kami pun tertawa. Ia sendiri tak merasa ditertawakan bahkan wajahnya terlihat seperti tak berdosa. Ripin memang lugu.
* * * *
“Alhamdulillah, anak saya telah lahir, mudah-mudahan akan membawa rezeki yang lebih baik!” Begitu kata Ripin menyambut kelahiran anaknya yang ketiga,. Padahal anak keduanya baru bisa jalan. Mungkin karena keyakinannya bahwa setiap kelahiran anaknya akan membawa rezeki, maka ia sepertinya tak ragu-ragu untuk punya anak lagi. Apalagi baginya anak tidaklah dianggap sebagai penerus keturunan, tetapi anak dianggapnya sebagai jalan untuk mendapatkan rezeki.
Rupanya betul juga apa yang dikatakan Ripin, ketika anak ketiganya memasuki usia satu bulan, Ripin berjualan soto, makanan khas Tegal. Pukul sebelas siang ia menggelar dagangannya kemudian keliling kompleks sebentar, kira-kira pukul dua siang sotonya sudah habis. Sotonya memang enak, racikan bumbunya sangat pas, sehingga disukai pelanggan. Disamping itu, harganya juga lebih miring dibandingkan dengan yang lain. Ditambah lagi sotonya juga bisa dibayar balakangan, satu hal yang tidak mungkin dilakukan jika kami makan di warung soto di luar kompleks.
Kehidupan ekonomi Ripin pun kini mulai berubah. Sekarang di dapurnya sudah ada kompor gas, sebuah kulkas kecil juga sudah terpajang dekat meja makan. Anaknya benar-benar membawa rezeki!
* * *
Kesibukan sekarang mulai membayangi kehidupan Ripin. Seperti biasa, jam sebelas siang berangkat dan sebelum jam dua sudah pulang. Kemudian disambung lagi jam empat sore sampai jam tujuh. Yang paling membanggakan dan membahagiakan adalah tidak pernah dagangannya dibawa pulang, selalu habis. Kadang, malam harinya ia melayani pesanan untuk acara tertentu. Jadilah Ripin pedagang soto yang super sibuk hingga anak-anaknya terlupakan.
Akan tetapi, justru karena kesibukannya inilah ekonominya betul-betul membaik. Sekarang ia sudah bisa membeli sepeda motor yang digunakannya untuk transportasi ke pasar. Di leher istrinya juga sudah melingkar kalung emas yang cukup besar. Wajahnya sekarang cerah berseri dibalut kosmetik. Sepertinya Ripin sedang berada di puncak kejayaannya.
Ternyata, perubahan yang terjadi pada Ripin tidak hanya perubahan ekonomi, sebab ada beberapa perubahan lain yang aku rasakan. Sekarang aku tidak pernah lagi mendengar suara adzan Ripin, tidak pernah lagi pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Kami, jamaah masjid An-Nur, merasa kehilangan.
Ripin juga tidak pernah lagi membantu tetangga, bahkan beberapa kali kerja bakti, Ripin tak menampakkan batang hidungnya. Mungkin karena hari-harinya selalu disibukkan untuk mencari uang. Tak ada hari libur baginya. Dan yang cukup mengenaskan menurutku adalah keadaan anak-anaknya yang dibiarkan terlantar, tak pernah diurusi.
Ketiga anaknya yang masih kecil-kecil selalu dibiarkan bermain sendiri. Bahkan ketika baru bisa merangkak, Dibiarkan tubuhnya kotor berdebu. Sehingga kami semua tidak pernah bisa membedakan antara sudah mandi atau belum karena selalu saja kelihatan kotor. Yang lebih memprihatinkan kami, sering anaknya tercebur selokan, kadang-kadang si kecil berkubang dengan kencingnya sendiri. Padahal, menurut Ripin, anak-anaknyalah yang membuat ekonominya membaik. Hal ini membuat kami tidak simpati lagi.
Roda kehidupan sepertinya berputar kembali. Sekarang Ripin sudah kehilangan pelanggan. Para tetangga yang tahu keadaan rumah dan anak-anaknya yang kotor, menjadi tidak berselera lagi terhadap sotonya. Hal ini rupanya cepat menyebar ke pelanggan lain, kini Ripin sering membawa pulang gerobaknya yang masih penuh. Aku kasihan juga melihatnya, padahal kandungan istrinya sudah sembilan bulan, tinggal menunggu waktu.
“Mudah-mudahan akan membawa rezeki bagi kami!” begitu Ripin penuh harap.
Akan tetapi, rupanya Tuhan punya kehendak lain. Manusia boleh berharap, tetapi siapa yang mampu menolak takdir-Nya? Begitu pula dengan Ripin, kelahiran anaknya kali ini tak lagi membawa rezeki, bahkan sepertinya semakin menjauhkan rezeki darinya. Seperti ia yang menjauh dari Tuhannya, menjauh dari tanggung jawab dan syukur. Bahkan roda kehidupannya seperti tenggelam dalam pasir isap yang terus menelannya. Kehidupan ekonominya benar-benar terpuruk. Keadaannya terasa lebih berat dengan empat anaknya yang masih kecil-kecil. Mungkin Tuhan telah menjatuhkan hukuman atas segala kelalaiannya. Seperti firman-Nya “…dan Dia meninggikan kamu atas sebagian lainnya beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat hukuman-Nya…”
Aku hanya bisa berharap, mudah-mudahan keempat anaknya tak ikut terperosok ke dalam pasir isap kehidupan.
Tegal, 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar