Oleh: Lumaksono
Ciiit….braakk! Tiba-tiba saja tubuhku terjerembab ke jalan yang masih basah sisa hujan semalam. Bau aspal bekas decitan roda dan asap knalpot langsung menyergap hidungku yang tepat berada di sisi ban. Untuk sesaat aku tak sadar apa yang terjadi. Yang kurasakan tubuhku terkulai lemas tak bertenaga. Aku tak sanggup bergerak, sampai terdengar suara-suara yang tak begitu jelas di telinga. Kemudian beberapa orang berusaha memapahku ke trotoar. Aku duduk bersandar sambil berusaha menenangkan diri mengembalikan kesadaran. Kulihat tubuhku, utuh. Tak apa-apa. Hanya pergelangan kakiku yang terasa sakit. Motorku ada di dekat roda sedan hitam dengan mesin yang masih menyala. Seorang lelaki keluar dari mobil, berjalan tergesa menuju ke arahku.
“Bagaimana, Pak? Ada yang luka?”
Aku malas menjawab, hanya meringis sambil memegangi pergelangan kakiku. Justru orang –orang yang berkomentar.
“Cepat bawa ke rumah sakit!”
“Barangkali gegar otak!”
“Tanggung jawab, dong!”
“Itu, polisi datang!”
Aku lihat seorang polisi datang, memang lokasi kecelakaan tak jauh dari pos polisi. Sebelum polisi yang berjalan pelan itu sampai, pintu mobil terbuka lagi. Seseorang keluar, tubuhnya gemuk, rambutnya tersisir rapi, kulitnya bersih, dan wajahnya… Ya, wajahnya seperti aku kenal. Dengan langkah tegap berwibawa ia menghampiriku.
“Lho, Pak Joko!” Setengah berteriak ia menyebut namaku. Mengetahui kalau kami saling kenal, orang-orang menyingkir memberi jalan. Sementara samar-samar aku mulai mengingatnya. Ia mantan muridku di SMP dulu. Aku mencoba tersenyum. Kini rasa sakit di tubuhku seakan hilang, berganti rasa haru karena salah satu murid kesayanganku masih mengenaliku.
Ia membungkuk mengambil tanganku dan menciumnya dengan hikmat. Persis seperti kebiasaannya waktu jadi muridku dulu.
“Maafkan saya, Pak! Pak Joko jadi begini. Mari masuk mobil, saya antar ke Kardinah!” Ia berkata sambil berusaha memapahku. Ia menoleh kepada sopirnya yang dari tadi hanya bengong, agar membantu. Aku sendiri merasa tak enak, jadi aku berusaha bangkit dan berjalan sendiri, walaupun agak terpincang-pincang.
“Selamat pagi, Pak!” suara polisi mengejutkan kami, “bisa tunjukkan surat-suratnya!”
Dengan sigap, sopir segera menunjukkan SIM dan STNK. Tanpa dilihat, surat-surat itu langsung masuk kantong, dan dengan suara agak keras ia berkata, “Mari ikut ke pos!”
Sebelum sopir melangkah mengikuti polisi, Iwan, nama muridku itu, memanggil, “Pak, sebentar!” Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, aku tak dapat melihat jelas apa yang terjadi sebab ada dalam mobil dan ia membelakangiku. Terjadi perbincangan sebentar sebelum akhirnya sikap polisi itu agak melunak. Bahkan seketika mangembalikan semua surat yang tadi dikantongi. Lebih mengejutkan lagi, polisi itu langsung menyingkirkan sepeda motorku yang masih berada dekat ban mobil, kemudian kembali ke pos.
“Mas Kardi, tolong bawa motor ini ke bengkel ‘Toni’ agar dibereskan semua! Saya akan mengantar Pak Joko ke Rumah Sakit Kardinah, beliau guru saya.” Iwan memberi perintah pada sopirnya.
“Baik, Pak.”
“Nanti kau segera menyusul ke Kardinah, ya!”
“Baik, Pak!”
Kini aku berada satu mobil dengan mantan murid kesayanganku. Ada rasa kagum dan bangga dalam dada. Ia yang dulu selalu menurut kepadaku, selalu mentaati perintahku, kini duduk di belakang kemudi.
“Masih mengajar, Pak?”
“Sudah pensiun tiga tahun lalu. Kau sudah sukses rupanya , Wan. Kerja dimana?”
“Ah, Pak Joko, biasa saja kok, Pak. Kebetulan saya dipercaya memimpin bank pemerintah di Semarang, dan sekarang sedang ada keperluan di Tegal.”
“Sudah berapa anaknya?”
“Istri juga belum punya, Pak!”
“Memangnya kenapa? Padahal kalau melihat keadaanmu, kau lebih dari siap untuk berkeluarga.”
“Tak tahulah, Pak, kenapa nggak ada yang mau dengan pria gemuk seperti ini.” Iwan berkata sambil menepuk perutnya yang menggembung.
Percakapan terhenti, aku ingat bagaimana dulu Iwan selalu gugup dan canggung bila disuruh mengerjakan tugas bersama anak putri. Tak terasa kami telah tiba di rumah sakit. Aku langsung mendapatkan pelayanan yang memuaskan, sangat berbeda dengan ketika aku datang sendiri ke sini untuk periksa mata. Aku benar-benar diperlakukan sebagai pasien; orang yang butuh pertolongan.
Aku menjadi semakin bangga kepada mantan muridku yang satu ini, yang memang sudah kubanggakan dari dulu. Iwan yang tekun belajar walaupun bukan yang paling pintar, memang selalu sigap melaksanakan setiap tugas yang aku berikan. Ia memang agak penyendiri atau bisa dikatakan egois, selalu memilih mengerjakan sendiri daripada kerja kelompok. Bahkan saat membuat karya tulis secara berkelompok, menurut temannya, dialah yang mengerjakan semuanya, sementara yang lain hanya numpang nama.
* * *
Sambil menikmati kopi panas aku duduk dekat akuarium mencoba melihat kembali album foto saat mengajar dulu. Sementara istriku yang baru selesai menyirami bunga kesayangannya duduk disamping.
“Mana anak yang telah menabrakmu?”
Aku diam saja masih mencari-cari. Kelihatan kalau istriku agak tak suka dengan peristiwa yang aku alami tadi pagi, walaupun ternyata aku tak apa-apa.
“Ini yang di pinggir pakai kaca mata hitam!” Aku menunjukkan foto Iwan saat kemah yang kebetulan ada di album.
“Dasar anak tak tahu diuntung, gurunya sendiri ditabrak! Mentang-mentang sudah punya mobil!”
“Itu kecelakaan, Bu, tak disengaja. Dan, yang nyetir bukan dia sendiri. Aku juga baik-baik saja, nggak luka sedikit pun. Pergelangan kakiku pun sudah tak sakit lagi.”
“Yang namanya nabrak, ya tetap salah! Bapak ini aneh, ditabrak, kok malah mbela! Sudah begitu nggak mau ngantar Bapak ke rumah, hanya ditinggal di rumah sakit! Kalau terjadi apa-apa bagaimana?”
“Kan, ada perawat. Berkat Iwan, pelayanan mereka sangat baik, Bu! Sangat berbeda dengan dulu, saat aku kesana sendiri.”
“Paling tidak, bisa nunggu sampai dapat kepastian kondisi, Bapak!”
“Kau harus maklum, Bu, Iwan itu orang penting. Ia pimpinan bank pemerintah di Semarang, sangat sibuk! Ia tak punya banyak waktu luang seperti aku, seperti kita!”
Percakapan terhenti ketika terdengar suara mesin motor berhenti di depan pagar rumah. Ada dua motor, salah satunya milikku.
“Tolong langsung dibawa masuk, Mas!”
“Baik, Pak!”
Setelah menyetandar motor, orang itu menyerahkan kunci kontak. Saat itulah aku melihat wajah yang juga tidak asing, aku seperti mengenalnya.
“Lupa dengan saya, Pak Joko?” Ia menjabat tanganku. Aku semakin yakin kalau aku mengenalnya, apalagi ia juga tahu namaku. Bukan tidak mungkin ia muridku juga. Belum sempat aku menata ingatan, ia segera memperkenalkan diri.
“Saya Toni, murid Pak Joko dulu. Saya satu kelas dengan Iwan.”
“Oh, ya, saya agak lupa!”
Satu kebetulan yang luar biasa, hari ini aku bertemu dengan dua orang mantan muridku dalam satu rangkaian. Satu orang yang menyebabkan motorku rusak yang satu lagi, membetulkannya. Tetapi kenapa harus Iwan yang merusak dan Toni yang membetulkan? Padahal dulu Tonilah yang selalu merusak suasana dengan kenakalannya, dan Iwan menyejukkan suasana dengan kepatuhannya.
“Silakan masuk, Mas! Mari duduk!” suara istriku membangunkanku dari lamunan, aku baru sadar kalau sudah membiarkan Toni agak lama berdiri.
“Trima kasih, Bu, Pak, tetapi maaf hari sudah sore saya harus segera pulang. Kasihan anak dan istri sudah menunggu. Apalagi Bapak juga perlu istirahat, walaupun kelihatannya tidak mengalami luka sedikit pun.”
“Baiklah kalau begitu, memang bapak tidak apa-apa, terima kasih juga. Eh, bagaimana ongkosnya?”
“Bapak tidak perlu repot, semua sudah diselesaikan oleh Iwan, mari Pak, selamat sore!” Toni berpamitan dan segera meninggalkan halaman rumah membonceng motor temannya yang tak sempat aku suruh masuk, bahkan tak sempat menyapanya.
“Bapak ini gimana, murid yang baik hati mau susah payah mengantarkan motor, kok, tak disuruh masuk, apalagi diberi minum! Keterlaluan!”
“Ah!...” aku tak melanjutkan kata-kata. Aku tak mau istriku tahu kalau Toni adalah murid yang tak kusukai karena kenakalannya, yang suka membangkang dan bersikap seenaknya.
* * *
Seminggu setelah kejadian, Iwan datang ke rumah. Ia bawakan kami banyak oleh-oleh, sepertinya segala jenis buah-buahan yang ada di super market ia bawa ke sini. Aku agak kurang enak hati, tetapi istriku tak bisa menyembunyikan kegirangannya. Sehingga segala rasa tak suka yang dulu ada kini berganti menjadi suka cita luar biasa. Apalagi setelah bercerita macam-macam, terutama perjalanan kariernya dari lulus kuliah hingga menjadi seperti sekarang. Dengan tutur bahasa yang menarik dan gaya yang sopan menjadikan istriku melupakan kejengkelannya saat aku ditabrak mobilnya. Bahkan, istriku pun menggantungkan harapan.
“Kalau begitu, Nak Iwan bisa menolong ibu, dong? Nanti kalau Hesti lulus bisa diterima kerja di bank Nak Iwan , kan?” istriku berharap untuk anak bungsu kami.
“Bukan bank saya, Bu, tapi bisa. Yang penting kalau memenuhi syarat, pasti saya usahakan. Mudah-mudahan saja saya masih menjabat.”
“Lho, memangnya mau diganti? Atau mau pindah?”
“Nggak, tapi mohon doa restunya saja, Bu, Pak!”
“Jangan khawatir, sejak kau sekolah dulu, Bapak selalu berdoa dan berharap murid Bapak menjadi orang-orang yang berhasil. Sebab memang hanya itulah kebanggaan kami, para guru, melihat muridnya jadi orang-orang sukses.”
Hari ini, kami mempunyai harapan baru, terutama istriku. Bungsu kami nantinya tidak akan kesulitan mencari kerja, tidak seperti dua kakaknya yang sering menekuk wajahnya setiap kali keluar dari kantor saat mengantar surat lamaran kerja. Aku sangat yakin Iwan akan membuktikan kata-katanya dengan membantu anakku. Walaupun aku sendiri kurang suka dengan hal yang demikian, tetapi istriku beranggapan tidak ada salahnya minta bantuan kepada mantan murid.
“Toh, Bapak juga ikut andil dalam keberhasilannya! Dia tak akan sukses begini tanpa bimbingan Bapak di sekolah dulu,” istriku berusaha mengungkit jasaku sebagai guru, sesuatu yang paling tidak aku suka. Sebab sebagai guru aku hanya merasa berkewajiban membantu mereka mempersiapkan diri untuk menapaki dunia yang semakin garang. Kesuksesan mereka sepenuhnya tergantung kepada mereka sendiri nantinya. Aku tak perlu merasa berjasa, apalagi disamping ada yang berhasil, tak sedikit di antara muridku yang gagal. Kalau ini semua dianggap sebagai andilku, bagaimana kalau murid yang gagal menuntut pertanggungjawabanku?
* * *
Selesai membaca cerpen di surat kabar, aku lanjutkan membaca berita yang membuat aku terkejut. Seorang tersangka kasus korupsi di sebuah bank pemerintah tewas akibat mobilnya mengalami pecah ban saat melaju di jalan tol. Inisialnya SEY, yang aku tebak sebagai Setiawan Eko Yuwono. Segera aku pisahkan halaman koran tersebut, kumasukan tong sampah dan membakarnya. Biarlah kebanggaanku menjadi abu dan terbang terbawa angin. Aku kecewa.
Tegal, Maret 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar