Oleh: Lumaksono
Hari ini kesedihan menyambangi keluarga kami. Tak terdengar sedikit pun suara tawa keluar dari mulut-mulut kami. Bahkan tingkah anak-anak pun menjadi sangat santun, sama sekali tak terlihat sifat nakal mereka. Sejak pagi, mendung di langit turut menyelimuti hingga makin menambah muram suasana. Matahari enggan muncul. Sesekali titik hujan turun bersama dengan titik air mata kami mengiringi kepergian ayah. Ayah meninggalkan kami tanpa pesan sedikit pun, beliau dengan begitu saja pergi memenuhi panggilan Sang Khaliq untuk menghadap-Nya.
Pagi hari selepas sholat subuh, tak seperti biasanya ayah hanya duduk-duduk saja di dalam rumah. Padahal biasanya ia rajin jalan kaki keliling kompleks perumahan, setelah itu ia akan segera sarapan pagi dan acara berikutnya adalah acara kegemarannya setelah pensiun, membersihkan sangkar si Bejo, memberinya makan, mengganti air minumnya meskipun air itu masih banyak dan bersih, setelah itu mengereknya di sebuah tiang bambu membiarkan Bejo bermandikan cahaya matahari pagi. Tentu saja ayah akan duduk di teras sembari mendengarkan perkututnya itu manggung. Dengan suara kung yang panjang dan meliuk disertai warna suara yang mantap, suara perkutut itu memang sangat enak di telinga. Apalagi di telinga ayah yang tiap hari merawatnya.
Namun, pagi ini semua kebiasaannya itu tak dilakukan, ayah malah menyuruhku melakukan pekerjaannya, sesuatu yang tak lazim. Dan hal itu sepertinya menjadi pesan terakhirnya, pesan terakhir untukku agar selanjutnya aku mengurus Bejo, sebab dalam duduknya selepas sholat subuh tadi, ayah tak mampu lagi bangun, bahkan membuka kelopak matanya pun tak mampu. Beliau meninggalkan kami semua!
Ibulah yang pertama kali mendapati ayah meninggal dalam duduknya. Kami semua, anak-anaknya, baru tahu ketika tangis ibu pecah. Entah mengapa ibu harus menangisi kepergian ayah. Entah mengapa tangis ibu pecah sedemikian kerasnya laksana letusan magma gunung berapi yang lama terpendam mencari jalan keluar. Sepertinya ibu tak rela ayah pergi meninggalkan kami begitu saja, padahal ayah sendiri sangat tenang, tidak merepotkan kami, tak membuat susah, tak membuat ribut. Seperti sifat ayah yang selalu tenang dan pendiam.
Selama hidupnya, jarang sekali kulihat ayah berbicara berlama-lama dan berpanjang-panjang dengan ibu. Sepertinya mereka hidup sebagai orang lain yang hanya bicara seperlunya saja. Mungkin dalam hal ini ibulah yang lebih banyajk bicara, kadang juga ngomel-ngomel kalau mendapati ayah melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hatinya. Biasanya ayah membalas omelan ibu hanya dengan diam dan diam sembari melakukan sesuatu yang kadang sesuatu itu seperti sengaja dicari-cari hanya demi menghindarkan diri dari omelan dan mungkin menghindari nafsu untuk membalas omelan ibu.
Seperti kemarin, ayah yang jarang sekali mau mengurusi pekerjaan rumah tangga, sama sekali tak peduli ketika ibu tengah direpotkan pekerjaan untuk mempersiapkan acara arisan ibu-ibu PKK RT, ia tetap asyik dengan perkututnya. Seharian ia hanya bermalas-malasan duduk di kursi sambil menantikan kututnya manggung. Ayah sama sekali tak melirik saat ibu kerepotan memindahkan kursi untuk diganti dengan hamparan tikar pandan sebagai alas duduk bagi ibu-ibu peserta arisan.
Ketika tangan ibu tak sanggup lagi mengangkat kursi-kursi tamu yang lumayan berat, meledaklah emosinya.
“Bantulah aku untuk menyingkirkan kursi-kursi sialan ini!”
“Disingkirkan sekarang? Kan masih lama arisannya, satu jam lagi!”
”Emangnya satu jam itu lama! Aku kan juga harus menyapu lantainya, menggelar tikarnya, belum lagi menyiapkan makanan dan minuman! Aku juga harus mandi, sekarang sudah jam tiga sebentar lagi pasti Bu RT datang! Dasar pemalas!” Ibu jelas sangat marah karena omelan dari mulutnya tak segera berhenti, tetapi sekali lagi, ayah kelihatannya masih santai juga, masih enak-enakan duduk di kursi malas di teras sambil menanti kung perkututnya. Baru setelah tak tedengar lagi suara ibu, ayah segera beranjak.
Langit masih murung.
Menjelang siang, sanak keluarga berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa sambil mendoakan agar kami yang ditinggal tetap tabah.
“Tak kusangka akan secepat ini Mas Parto mendahului,” kata Bude Mirah.
“Aku sendiri masih nggak percaya,” sambil menahan air mata, ibu berusaha meladeni setiap pembicaraan mengenai ayah.
“Tapi Mas Parto memang orang baik, tak pernah merepotkan. Bahkan, saat meninggal pun beliau tak menyusahkan keluarga!”
“Bagitulah, mba Mir.”
“Dia tak sakit, jadi tak menghabiskan banyak biaya! Yang tabah saja ya!”
Bude Mirah mengakhiri pembicaraan sambil beranjak mendekati tempat ayah dibaringkan. Pelan-pelan ia singkap kain penutup wajah ayah. Sebentar dipandangi kemudian tangan kanannya mengusap sudut matanya. Sepertinya kesedihan menjalari hati Bude Mirah hingga ia pun ikut menitikkan air mata. Setelah puas memandangi wajah ayah untuk terakhir kali, ia pun menutupkan kembali kain penutup ke wajah ayah.
Bude Mirah berbalik dan menggabungkan diri dengan pelayat lain, dengan air muka yang telah berubah. Tak sedikit pun tergambar rona sedih apalagi kehilangan orang tercinta di wajahnya. Wajar saja memang, sebab selama hidup jarang sekali Bude Mirah mau berkunjung ke rumah. Begitu juga ayah. Hanya setahun sekali saat lebaran, ayah dan ibu, kadang juga mengajak aku, menyambangi rumah Bude Mirah untuk bersilaturahmi, berbasa-basi dan saling meminta maaf. Hanya itu, selepas lebaran, mereka tenggelam dalam hidup masing-masing. Meskipun jarak hanya sejengkal, tetapi bagaikan ada jurang menganga di antara mereka.
Titik gerimis mulai memudar. Bejo yang terkurung di sangkar hanya diam membisu. Sesekali kepalanya tengak-tengok, kadang mematuki bulu-bulunya. Agaknya tak hendak ia mengeluarkan kungnya!
“Jam berapa dimakamkan?” pertanyaan Pak Jamuri, tetangga sebelah rumah kami, membuyarkan lamunanku.
“Sebentar lagi, jam duaan!” aku jabat tangan Pak Jamuri yang terlebih dulu terulur.
“Aku turut berduka atas meninggalnya ayahmu, tabahkan hatimu ya, Nak!”
“Iya, Pak, terima kasih.”
“Tak kusangka akan secepat ini beliau meninggalkan kita. Sepertinya Tuhan memang selalu cepat memanggil orang-orang yang baik.”
Aku hanya membalasnya dengan senyum, lalu pura-pura sibuk membereskan kursi-kursi yang disediakan untuk para pelayat. Kupersilakan Pak Jamuri duduk, mungkin kalau dihitung-hitung, tak lebih banyak dari jari tanganku, Pak Jamuri pernah duduk atau berkunjung ke rumah kami.
Aku ingat terakhir kali ia datang adalah saat meminjam uang kepada ayah, itu berarti kurang lebih dua tahun lalu. Saat itu ia datang dengan wajah memelas, kata-kata manis dan sikap yang sangat santun mengiba kepada ayah meminjam sejumlah uang untuk biaya masuk anaknya ke perguruan tinggi. Ayah yang baru saja mendapatkan uang taspen, sulit mengelak, apalagi dijanjikan uang itu akan dikembalikan secepatnya. Namun, ditunggu sebulan dua bulan hingga setahun, uang itu tak kunjung kembali dengan berbagai alasan.
Hal inilah yang membuat ibu marah besar, dan ayah meneruskan kemarahan ibu kepada Pak Jamuri. Ayah yang pendiam, tiba-tiba bisa melabrak Pak jamuri. Sepertinya semua kata simpanan kemarahan ayah dimuntahkan dengan lancar bagai senapan otomatis. Setelah itu, barulah uang ayah kembali dan Pak Jamuri tak mau bertegur sapa lagi.
Matahari mulai mengintip di antara mega yang menipis. Bejo menenggelamkan dirinya di sangkar, belum juga kudengar kungnya.
Para pelayat telah berdatangan memenuhi halaman rumah kami yang tak seberapa luas. Para tetangga, baik yang sering bertandang dan berbincang dengan ayah maupun yang sama sekali tak pernah bertegur sapa dengan ayah, telah hadir. Banyak di antara mereka yang rela berdiri karena kursi yang disediakan tak mencukupi. Terdengar bincang-bincang di antara mereka, namun tetap tak menghilangkan suasana murung. Terlihat mereka sangat hati-hati mengeluarkan setiap kata, seakan sangat takut kalau suaranya akan membangunkan jenazah.
Sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman, Kyai Zuhri, orang yang didaulat warga sebagai sesepuh untuk selalu memimpin upacara pemakaman, memberikan sambutannya. Seperti sudah ada di luar kepala, kata-kata yang muncul sangat lancar dan sama seperti pada upacara-upacara pemakaman sebelumnya.
“Bapak-bapak dan hadirin semua Pak Parto adalah suami dan bapak yang baik” kata Kyai Zuhri persis seperti dugaanku. Lalu berbagai kata pujian untuk ayah mengalir disertai doa agar ayah mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Orang-orang pun hanya mengamini saja. Tak ada sama sekali yang berani menyanggahnya. Hingga tiba ke akhir kata, semua hanya meng-iya-kan saja apa yang dikatakan Kyai Zuhri, sepertinya mereka lebih suka kalau acara segera berakhir dan cepat membawa jenazah ke peristirahatan, tanpa peduli apa yang diucapkan Kyai Zuhri.
Begitulah para pelayat, hanya ingin mengantarkan jenazah ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya, tak peduli kepada tetek bengek upacara dan segala kata perpisahan yang kian terasa klise.
Keranda telah siap.
Aku maju mendekat, ada kesiur di dada. Inilah terakhir kali aku berkesempatan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi ayah. Aku pegang gagang keranda sebelah depan kiri, berarti sebelah atas kepala ayah. Gagang besi sebesar satu inchi terasa sangat dingin, permukaannya terasa sangat halus dan licin, mungkin karena telah ratusan kali digenggam tangan-tengan penuh duka mengangkat jenazah menuju kemuliaan abadi.
Dengan sedikit membungkukan badan aku angkat keranda itu ke atas pundak bersama tiga pengangkat lain dengan gerakan serempak. Begitu berada di pundak, segera saja aku rasakan kalau keranda berisi jenazah ayah ini tidak ringan. Apalagi ini adalah pengalaman pertamaku mangangkat keranda, ditambah lagi aku bukanlah orang yang biasa melakukan kerja berat. Namun, begitu melangkah beban sepertinya berkurang, kami pun mepercepat langkah.
Ternyata, di tengah jalan banyak orang berebut untuk menggantikan mengusung keranda, mereka betul-betul berebut untuk melakukan pekerjaan yang tidak bisa dianggap ringan. Aku terharu, lebih dulu terharu sebelum berprasangka kalau mereka berebut bukan karena kecintaan mereka kepada ayah, tetapi hanya kasihan melihatku kepayahan hingga rela menggantikan aku mengusung keranda yang cukup merepotkan.
Wrrrketekung kung kung kung...Tiba-tiba saja Bejo mengeluarkan kungnya, sepertinya ini merupakan wujud penghormatan terakhirnya kepada ayah. Atau satu bentuk ketidakrelaannya ditinggal pergi orang yang selama ini merawatnya. Aku hanya berharap ayah benar-benar pergi dengan damai karena perjalanannya menuju keabadian diiringi suara yang selama ini menjadi pelipurnya. Aku dengarkan beberapa kali Bejo mengeluarkan kungnya yang terasa kian menyayat. Samar-samar kung Bejo membuat hatiku makin miris.
Ketika remah-remah tanah menimbun jenazah ayah, masih kudengar lamat-lamat kung Bejo. Aku belum sempat minta maaf atas sikapku menolak untuk membersihkan kandang Bejo dan mengereknya di tiang bambu. Ah, tentu saat itu kau tak tahu kalau gerimis turun hingga aku tak mungkin mengerek Bejo. Akhirnya tetes air mata basah juga di pipiku, yang dari pagi berusaha aku tahan.
Tegal, Akhir 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar